Telan Anggaran Rp32 M, Field Research Center UGM di Kulonprogo Digadang-gadang Jadi Pusat Riset

Logo UGM. - JIBI
14 Oktober 2021 17:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Fasilitas field research center (FRC) didirikan di Kulonprogo. Pembangunan gedung tersebut diinisiasi oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dikelola di bawah koordinasi Sekolah Vokasi UGM.

Diharapkan, gedung yang berlokasi di Jalan Tunjungan, Kapanewon Wates, Kulonprogo tersebut mampu menjadi pusat pembelajaran maupun riset.

Rektor UGM, Panut Mulyono, mengungkapkan gedung field research center diharapkan dapat memberi manfaat tidak hanya bagi UGM tetapi juga kepada Kulonprogo melalui berbagai kolaborasi yang bisa dilakukan di waktu mendatang.

"Harapannya gedung ini menjadi salah satu yang bisa dimanfaatkan Kabupaten Kulonprogo dengan dukungan dari UGM," kata Panut pada Kamis (14/10/2021).

Dikatakan Panut, gedung FRC seluas 3.571,86 meter persegi dirancang sebagai pusat pembelajaran, riset, dan pengembangan dari fakultas dan Sekolah Vokasi. Gedung ini juga dirancang untuk menjadi center of excellence dan tempat bagi riset kolaboratif dan pelayanan masyarakat, pelatihan dan pengembangan, serta spesifikasi dan standarisasi.

Lebih lanjut, bangunan tiga lantai ini memiliki fasilitas utama berupa ruang produksi coklat, produk olahan susu, alat kesehatan, dan wood pellet, ruang desain, ruang inkubasi, laboratorium analisis produk dan quality control, ruang mesin atau ruang pengukuran, ruang komputer, serta showroom.

"Selain itu, terdapat fasilitas pendukung berupa kantor, ruang pertemuan, ruang seminar, ruang konferensi, dan ruang pendukung lainnya," terang Panut.

BACA JUGA: Selamat! Pemkot Jogja Raih Anugerah Parahita Ekapraya Kategori Madya

Rektor mendorong Kulonprogo melalui dewan riset daerah untuk terlibat aktif dalam pemanfaatan fasilitas dan sumber daya yang dimiliki UGM. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan ditujukan untuk pengembangan kapasitas serta percepatan pembangunan daerah.

"Prinsipnya kemanfaatan UGM dengan berbagai fasilitas dan kepakaran dari sumber daya manusia yang dimiliki UGM mari kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk peningkatan kesejahteraan," ujar Panut.

Sebagai informasi, pembangunan FRC sendiri dimulai pada November 2019 dan selesai pada Juli 2021. Setelah pembangunan diselesaikan, peralatan untuk FRC direncanakan akan masuk dan dipasang pada semester pertama tahun 2022.

Direktur Project Implementation Unit (PIU) UGM, Hotma Prawoto Sulistyadi, mengatakan bahwa Gedung FRC dapat digunakan sebagai pusat pembelajaran akademisi UGM pada khususnya dan masyarakat Kulon Progo pada umumnya.

Adapun, biaya dalam pembangunan gedung ini mencapai Rp32,89 miliar dengan tahapan desain perancangannya sendiri mulai dari 27 Februari 2019 sampai dengan 31 Juli 2019. Meskipun, sempat mengalami kemunduran karena adanya Covid -19, pembangunan gedung berhasil diselesaikan pada 16 Juli 2021.

"Pembangunan gedung ini menandai kesungguhan dan komitmen Sekolah Vokasi UGM dalam memfasilitasi program Sarjana Terapannya. Kegunaan gedung ini untuk learning center, riset dan pengembangan dari fakultas dan sekolah. Teman-teman dari Kulon Progo juga dapat memanfaatkan, misalnya seperti pelatihan," kata Hotma.

Bupati Kulonprogo, Sutedjo, menyampaikan pembangunan fasilitas FRC UGM diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh Kulonprogo. Senada dengan pesan rektor, ia mengungkapkan fasilitas yang sudah terbangun dengan baik diharapkan dapat segera dimanfaatkan.

“Pemda dan juga masyarakat merasa bersyukur dan berterima kasih atas kebijakan untuk menetapkan lokasi pembangunan di Kulon Progo. Saya mengajak teman-teman untuk bisa mendayagunakan fasilitas yang ada dan berkolaborasi dengan pimpinan Sekolah Vokasi dan Rektor UGM,” kata Sutedjo.

Sutedjo memaparkan beberapa sektor unggulan Kulonprogo yang memiliki potensi untuk dikembangkan bersama UGM, salah satunya berkaitan dengan sistem pertanian surjan yang menjadi ciri khas kabupaten ini.

“Sistem pertanian di Kulonprogo ini sangat spesifik, kalau dikolaborasikan bisa menjadi sistem yang bagus. Kalau kita kaji juga bisa menjadi kegiatan wisata,” papar Sutedjo.