Waspada! Bantaran Sungai Jadi Wilayah Rawan Bencana Hidrometerologi di Kota Jogja

Tim dari BPBD Sleman, TNI dan warga memperbaiki dampak ambrolnya talut di bantaran Sungai Buntung di Dusun Karangjati, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Jumat (9/11/2018)./Harian Jogja - Fahmi Ahmad Burhan
22 Oktober 2021 00:37 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja menyebut daerah bantaran sungai menjadi titik paling rawan dari ancaman bencana hidrometeorologi. Selain itu, potensi pohon tumbang dan angin kencang patut diwaspadai oleh masyarakat di musim pancaroba dan jelang masuknya musim penghujan.

"Kalau menurut BPBD sejak dulu kawasan pinggir sungai semua rawan," kata Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Jogja, Bayu Wijayanto, Kamis (21/10/2021).

Bayu menjelaskan, ada beberapa sungai besar yang melintas dan melewati sejumlah pemukiman di Kota Jogja. Di antaranya yakni sungai Winongo, Gajahwong, dan juga sungai Code. Potensi luapan air akibat curah hujan dinilai bakal menyebabkan ancaman tanah longsor atau banjir.

"Sepertinya kesiapan sudah matang, untuk talut-talut yang dulu sempat rusak itu sudah diperbaiki," ujarnya.

Baca juga: Pemkot Jogja Ancam Pengelola Parkir yang Tak Taat Aturan Satu Pintu untuk Bus Wisata

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jogja, Reni Kraningtyas menjelaskan, potensi bencana hidrometerologi cukup merata di wilayah DIY jelang memasuki musim penghujan. Cuaca ekstrem disinyalir bakal mulai masuk pada dasarian ketiga Oktober ini.

"Masyarakat kami minta untuk waspada dan hati-hati," ungkap Reni.

Meski demikian di masa pancaroba seperti sekarang, potensi angin kencang, hujan lebat disertai angin dan petir juga mengancam seperti yang terjadi pada beberapa waktu lalu. Saat ini awal musim penghujan sudah masuk di seluruh DIY yang bakal mencapai puncaknya pada Januari 2022 mendatang.

Reni menyebut, ada indikasi wilayah DIY akan mengalami fenomena La Nina dengan dampak meningkatnya intensitas curah hujan. Di masa normal, curah hujan biasanya berada di rentang sekitar 90-120 mm per bulan. Dengan adanya fenomena La Nina, diperkirakan intensitas hujan bakal meningkat sekitar 60 persen dibanding biasanya.

"Masa anomali cuaca seperti sekarang yakni terasa panas di awal masuknya musim penghujan itu masih normal dengan kisaran suhu masih di 32-33° celcius. Jadi kulminasi udara ini sementara saja sifatnya, tidak berkaitan dengan potensi bencana hidrometerologi. Tapi kalau dikalkulasikan selama kurun waktu 30 tahun, itu kita kan ada pencatatan dan data, kalau ada peningkatan suhu ini tentunya terjadi perubahan iklim dan berpotensi terjadinya cuaca ekstrem yang lebih sering," pungkas dia.