WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Warga bersama-sama dengan tim relawan sedang melakukan bersih-bersih talut ambrol di Dusun Jatibungkus, Hargomulyo, Gedangsari, Minggu (11/4/2021). /Ist-dok BPBD Gunungkidul\r\n
Harianjogja.com, SLEMAN-Wilayah Sleman sudah memasuki awal musim penghujan pada minggu ketiga Oktober. Prambanan menjadi wilayah dengan potensi tanah longsor ketika musim penghujan datang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman pun mengantisipasi bencana itu dengan menyiapkan early warning system (EWS).
Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman, Joko Lelono, menjelaskan di Kapanewon Prambanan, sudah terpasang sebanyak empat EWS untuk tanah longsor, yang berlokasi di tiga kalurahan, yakni Gayamharjo, Wukirharjo dan Sambirejo.
Ia mengakui dua diantara empat EWS yang terpasang tersebut kondisinya ada kerusakan pada sistem telemetri atau sinyal sehingga tidak mampu mengirimkan data. Meski demikian, ia memastikan keempat EWS tersebut sirinenya masih hidup sehingga tetap berfungsi untuk memperingatkan masyarakat.
“EWS tanah longsor yang kami pakai sinyal cuma ada dua, harusnya kan semuanya empat. Tapi ini karena yang dua itu kondisinya rusak sinyalnya. Jadi pengiriman sinyal misalnya curah hujannya, arah angin, itu rusak. Tapi untuk sirine itu masih hidup,” ujarnya, Kamis (21/10/2021).
Baca juga: Ombudsman Minta Gubernur DIY Tinjau Ulang Pergub Larangan Demo di Malioboro
Ia menjelaskan wilayah yang berpotensi longsor tidak terlalu padat oleh permukiman warga. Meski demikian, BPBD Sleman juga telah menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) dan sukarelawan di tiap-tiap wilayah. “Terus peralatan lain-lainnya itu dari tim kedaruratan sudah siap karena ini sudah masuk musim penghujan," ungkapnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta telah memprediksikan awal musim penghujan untuk wilayah Sleman jatuh pada minggu ketiga Oktober, dengan potensi cuaca ekstrem yang perlu diwaspadai masyarakat.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menuturkan cuaca ekstrem bisa terjadi mulai dari masa pancaroba, awal musim penghujan hingga puncak musim hujan. “Meliputi hujan deras disertai angin dan petir, juga hujan es,” katanya.
Adapun puncak musim hujan yang merupakan akumulasi terbesar intensitas hujan dalam satu bulan diprediksi terjadi pada Januari 2022 mendatang. Dalam masa puncak musim hujan, cuaca ekstrem diperkirakan akan lebih sering terjadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Simak cara mudah membedakan souvenir Piala Dunia 2026 asli dan palsu agar tidak tertipu saat berburu merchandise.
Menteri Ekraf menyebut Jogja jadi panutan ekonomi kreatif nasional berkat kekuatan budaya, inovasi, dan SDM unggul.
Muhammadiyah dorong transformasi layanan sosial berbasis komunitas untuk menjawab masalah kesejahteraan yang makin kompleks.
Timnas U19 Indonesia finis peringkat ketiga AFF U19 2026 usai kalahkan Kamboja 1-0. Ini evaluasi dan susunan pemainnya.
UGM memastikan api misterius di Seyegan bukan dari gas alam, melainkan terkait resin PVC yang mudah terbakar.