Siap Melantai di Bursa, Bisnis Widodo Makmur Perkasa Salah Satunya di Gunungkidul

Peternakan ayam milik PT Widodo Makmur Unggas di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Selasa (11/9/2018). - Harian Jogja/Dok.
28 Oktober 2021 17:07 WIB Rinaldi Mohammad Azka Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMP) tahun ini siap melaksanakan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham.

WMP merupakan perusahaan holding yang membawahi lima lini bisnis, yaitu peternakan sapi terintegrasi, pengolahan makanan berbasis daging, peternakan ayam terintegrasi, komoditas pertanian, serta konstruksi dan energi terbarukan.

Peternakan sapi terintegrasi WMP dilakukan di dua peternakan dengan total kapasitas 172.000 ekor per tahun atau terbesar di Indonesia. Dua peternakan sapi tersebut terletak di Cianjur, Jawa Barat, seluas 130 hektare (ha) dan Cariu, Bogor, Jawa Barat, seluas 35 ha. Adapun kapasitas produksi pakan ternak mencapai 131.000 ton per tahun.

Pada peternakan ayam terintegrasi, WMP mengoperasikan empat peternakan, yaitu GPS Gunungkidul dengan kapasitas 64.000 DOC GPS; PS Sukabumi, Gunungkidul dengan kapasitas 440.000 DOC; broiler commercial Cianjur (dalam pengembangan), Wonogiri dengan kapasitas 6.800.000 DOC FS; peternakan ayam petelur Klaten dengan kapasitas produksi 9.360.000 butir per tahun.

Kegiatan usaha tersebut dilakukan oleh anak usaha WMP, yaitu PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU). WMUU telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Februari 2021. WMUU mengadopsi model bisnis unggas yang terintegrasi dan terfokus pada bisnis downstream. Selain peternakan, perseroan melakukan kegiatan penetasan, commercial farms, pabrik pakan, hingga rumah potong hewan (RPH).

WMU mengoperasikan dua fasilitas penetasan dengan kapasitas produksi 4.000.000 telur per bulan. Perseroan juga mengoperasikan satu pabrik pakan di Balaraja dan tengah mengembangkan satu pabrik pakan di Ngawi dengan kapasitas gabungan 883.000 ton per tahun. Sedangkan RPH perseroan di Klaten dan Wonogiri memiliki kapasitas produksi total 13.500 ekor per jam atau setara 79.380 ton per tahun.

Mega Nurfitriyana, COO Widodo Makmur Perkasa mengharapkan dengan terlaksananya proses IPO ini dapat membawa pertumbuhan yang lebih kuat dari seluruh anak usaha atau lini bisnis yang berada di bawah naungan WMP.

"Pertumbuhan terutama akan didorong dari pengembangan atau ekspansi fasilitas produksi serta perluasan jaringan distribusi produk Grup. Dan besok rencananya kami akan menjalankan Public Expose yang membawa kami selangkah lagi menuju IPO Perseroan," urainya, Rabu (27/10/2021).

WMP melalui anak usaha yang lain juga menjalankan RPH (sapi) dengan kapasitas produksi 300 ekor per hari, serta memiliki fasilitas pengolahan daging. Daging olahan didistribusikan dengan merek sendiri di dalam negeri. Setiap tahun, sebanyak 4.600 ton daging diproses menjadi berbagai produk, yaitu sosis sebanyak 1.500 ton/tahun, bakso 900 ton/tahun, nugget 700 ton/tahun, dan chicken parting 1.500 ton/tahun.

Sementara itu, di lini bisnis komoditas pertanian, WMP memiliki penggilingan padi sendiri. Rice mills tersebut berlokasi di Tegal dengan kapasitas produksi 50.000 mt/tahun dan Ngawi yang akan beroperasi pada 2022 dengan kapasitas produksi 100.000 mt/tahun. Perseroan juga memiliki gudang di Tegal dengan kapasitas penyimpanan 3.000 mt dan Cileungsi dengan kapasitas penyimpanan 5.000 mt.

Selain beras, WMP melakukan perdagangan komoditas jagung, gula, dan kedelai. Lini bisnis komoditas pertanian ini juga merupakan sumber pasokan bahan baku pakan ternak perseroan.

WMP juga beroperasi di sektor konstruksi dan energi terbarukan untuk grup. Proyek saat ini terutama untuk mendukung Widodo Makmur Group. Perseroan melakukan konstruksi untuk membangun fasilitas dan gudang. Di semua fasilitas grup tersebut, dipasang infrastruktur energi terbarukan, termasuk panel surya dan tenaga angin.

Fasilitas perseroan terletak di lokasi strategis dan tersebar di sejumlah kota penting di jalur perdagangan. Sebagian besar peternakan dan pabrik berada di Pulau Jawa, tempat tinggal sekitar 56,1 persen penduduk Indonesia. Penduduk di Jawa masing-masing mewakili sekitar 70 persen dan 50 persen dari total konsumsi daging sapi dan daging ayam.

Permintaan daging sapi dan unggas di Indonesia menunjukkan tren positif, mengingat dominasi penduduk usia produktif, pertumbuhan kelas menengah, serta peran besar daging sapi dan unggas sebagai sumber protein hewani utama di Indonesia.

Adapun masih rendahnya konsumsi daging sapi dan unggas per kapita di Indonesia dibandingkan dengan sejumlah negara di Asia Tenggara menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan yang cukup besar, terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan per kapita di Indonesia.

Oleh sebab itu, industri consumer goods dan komoditas pertanian yang ditekuni WMP tergolong menarik dan memiliki prospek pertumbuhan yang solid.

Dimulai dari usaha feedlot sejak 1995 dan dikembangkan secara profesional pada 2003, WMP kini bersiap untuk go public. WMP yang tumbuh dan berkembang selama 26 tahun telah menjadi salah satu kekuatan di industri consumer goods dan komoditas pertanian terbesar di regional, dengan memegang visi “Provide Food for The Nation”.

Sumber : JIBI/Bisnis.com