Begini Pengakuan Wanita Asal Bantul yang Curhat tentang Suaminya di ICJ Hingga Dikomentari 37.000 Warganet

Unggahan tentang curhat rumah tangga di grup Facebook Info Cegatan Jogja (ICJ). - Ist
29 Oktober 2021 19:47 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Sebuah unggahan menghebohkan grup facebook Info Cegatan Jogja (ICJ). Unggahan berisi curahan isi hati (curhat) seorang wanita tentang suaminya yang menganggur, dikomentari lebih dari 37.000 warganet dalam waktu 24 jam.

Wanita bernama asli Devi Lesmiyati itu menggunakan nama facebook Shifa Amalia Dewi, saat mengunggah di ICJ pada Kamis (28/10/2021). Ia yang merupakan wanita asal Bantul yang kini tinggal di Jawa Tengah.

Dalam unggahannya ia menyebutkan suaminya suka memancing dan menmelihara burung namun tidak bekerja dengan alasan sulit mendapat pekerjaan di usia di atas 35 tahun. Jika mau memulai usaha, mereka tidak punya modal.

Baca juga: Curhat di Grup ICJ Soal Suaminya yang Penganggur, Wanita Asal Bantul Dapat 16.000 Komentar

Wanita itu bekerja di pabrik untuk menghidupi suami dan seorang anak mereka. Ia sampai sering lembur demi bisa cukup untuk makan, membayar angsuran sepeda motor, membeli susu anaknya bahkan membeli pakan burung yang dipelihara suaminya, membeli umpan untuk suaminya memancing serta membelikan rokok suaminya.

Saat dihubungi Harianjogja.com, Devi Lesmiyati mengungkapkan unggahan itu adalah kenyataan yang dialaminya saat ini. "Ini curhatan saya pribadi saya asli bantul.. ikut suami sudah 1 tahun ini..suami nganggur udah 3 tahun kerjaan cuma mancing..dan gantang burung..," katanya.

Ia mengaku nekat mengunggah curhat di grup yang beranggotakan 1,1 juta warganet itu karena sudah pusing dengan apa yang dialaminya. "sudah pusing saya makane saya beranikan posting di ICJ.maaf bila postingan saya bikin geger banyak orang," katanya.

Baca juga: Wanita yang Curhat di ICJ Soal Suami Menganggur Diapresiasi karena Berani Bersuara

Suaminya sudah tidak bekerja sejak mereka menikah. "dulu wktu pacaran masik kerja orangnya..sehabis punya anak ndak mau kerja sama sekali.. klo hoby menghasilkan gpp ya .ini ga menghasilkan ngabisin duit..," katanya.

Wanita ini juga sudah membicarakannya dengan suami tetapi tidak ada solusi, bahkan ia mengalami kekerasan. "dipukul dibentak.. kalah saya sama suami.. biasa laki laki kalau sudah sibuk dengan dunianya istri hanya pelampiasan," katanya.

Ia mengaku berani bercerita agar memotivasi wanita lain yang bernasib sama dengannya. "biar para wanita diluar yg suamine kaya saya bisa sadar dan berani..karena banyak wanita yg seperti saya diluar sana..ndak berani ngomong..takut.dlll," katanya.

Meski mengalami permasalahan, ia menegaskan masih ingin bertahan dan berharap suaminya sadar. "saya tak mencoba lagi sebentar saja. khan ya siapa tau diviralkan begini bisa sadar??.kata orang tua khn orang harus terprosok dulu biar jera," tambahnya.

Ia juga mempersilakan Harianjogja.com mengungkap identitasnya, dengan berharap suaminya bisa mengetahui.

"misal suami tau biar paham dan mudeng..siapa tau bisa sadar. karena sudah tidak ada solusi mulut saya sudah ndak mempan untuk bilangi cuma dipukul kalo berontak," katanya.

Kasus ini pun ditanggapi oleh Rifka Annisa, organisasi non pemerintah yang berkomitmen pada penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Konselor Hukum di Rifka Annisa, Lisa Oktavia mengungkapkan apresiasinya kepada Devi Lesmiyati yang berani berbicara tentang kondisi kekerasan yang dialaminya.

Lisa menekankan bahwa pasangan yang mengalami KDRT sebaiknya memang butuh konseling tidak hanya bagi istri tetapi juga suaminya. "Pasangan berkonflik itu biasa, yang menjadi luar biasa dan tidak boleh adalah saat ada kekerasan," tegasnya.

Adapun terkait suami yang tidak bekerja dan tidak berpenghasilan, menurutnya harus dikomunikasikan. "Saat suami tidak bekerja, itu sebenernya bisa, ketika keduanya memahami dan dikomunikasikan bahwa salah satu tidak bekerja. Kuncinya di komunikasi," kata Lisa.

Ketika suami tidak bekerja, lanjutnya, maka suami bisa gantikan pekerjaan di ranah domestik, yaitu pekerjaan rumah tangga. Di sinilah perlunya berbagi peran antara suami dan istri, dan lebih lanjut bisa berganti peran. Namun, Lisa menegaskan bahwa hal ini harus dikomunikasikan dan disepakati lebih dahulu. "Harus clear. Kalau tidak, jadi tidak sehat," katanya.