Anak-anak SD di Bantul dan Sleman Akan Diajarkan Cara Memberi Pertolongan Pertama

Suasana Lokakarya Uji Coba Media Edukit yang digelar PMI bersama Koica mulai 3-7 November 2021 - Ist
05 November 2021 12:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Palang Merah Indonesia (PMI) melakukan uji coba materi edukit untuk bahan ajar kepada anak-anak dengan dukungan Korean International Cooperation Agency (KOICA). Program KOICA for Kids ini adalah program edukasi kepada anak – anak usia Sekolah Dasar (SD) yang diberikan dengan metode online dan offline secara menyenangkan dan interaktif.

Lokakarya Pengembangan Materi, Media dan Metode edukasi online KOICA for Kids telah dilaksanakan pada bulan September 2021 menghasilkan draft konsep, media dan metode yang telah dikembangkan oleh vendor untuk mendesain dan membuat video edukasi jarak jauh kepada anak-anak usia sekolah di masa pandemi Covid-19 ini.

Hal ini dilakukan untuk menyasar anak-anak usia sekolah dan akan dilaksanakan di daerah program berdasarkan kriteria zona wilayah penyebaran Covid–19. Kegiatan lokakarya edukasi online ini akan dilakukan melalui serangkaian kegiatan dengan metode jarak jauh mengombinasikan pertemuan secara daring dan luring untuk membahas strategi edukasi.

Fokus pelaksanaan kegiatan KOICA for Kids ini akan dilakukan di 5 provinsi, yaitu DIY, Bali, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat. Menurut informasi yang diterima Harianjogja.com dari PMI DIY, khusus untuk DIY akan menyasar anak kelas 4-6 SD di Sleman dan Bantul.

Adapun materi yang diberikan adalah seputar pertolongan pertama, kesiapsiagaan bencana, dan Covid-19 terutama tentang penerapan protokol kesehatan. PMI akan menggunakan pendekatan pemberdayaan kesehatan masyarakat dan pengurangan risiko bencana serta krisis kesehatan.

Kepala Markas PMI Pusat, Abdul Azis mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan PMI untuk mendukung Pemerintah Indonesia agar masyarakat dari lansia sampai anak-anak bisa memahami pentingnya penerapan protokol kesehatan.

“Penting sekali untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam hal mengedukasi seluruh anak Indonesia melalui Program KOICA for Kids ini. Dan mengedukasi anak-anak itu perlu menggunakan metode yang berbeda, harus menarik dan interaktif. Dan hari ini kita harus matangkan metode tersebut,” tegasnya.

Nantinya, akan ada 2.000 anak yang akan mendapat edukasi dari Program KOICA for Kids ini. 1.000 anak dengan metode online adalah anak usia SD yang bersekolah, sementara 1.000  anak lainnya dengan metode offline. Metode offline akan menyasar anak jalanan dan anak-anak panti asuhan. 

"Ini merupakan tugas bersama, kita harus bergerak bersama supaya anak-anak bisa memahami dan mengetahui apa yang harus mereka lakukan ketika dihadapkan pada saat bencana, temannya terluka, ataupun kondisi kedaruratan lainnya," kata dia.