Indonesia Menuju Transisi Energi: Meneropong Tantangan Implementasi Energi Baru Terbarukan

Ngobrol Bareng Pertamina di Yogyakarta Mariott Hotel, Jogja, Jumat (5/11/2021). - JIBI/Solopos.com/Danang Nur Ihsan
05 November 2021 17:47 WIB Danang Nur Ihsan Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Indonesia menghadapi tantangan agar bauran energi tidak menimbulkan krisis selama masa transisi energi.

Pendapat itu mengemuka dalam Nongkrong Bareng Pertamina (NoBaper) yang digelar Regional Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) di Yogyakarta Mariott Hotel, Sleman, Jumat (5/11/2021).

Acara itu dihadiri perwakilan media di Jogja dan Solo. Diskusi tentang Indonesia Energy Outlook menghadirkan Direktur Eksekutif ReforMainer Institute Komaidi Notonegoro dan Kepala Pusat Studi Energi UGM Prof. Deendarlianto. Acara itu juga dihadiri Executive General Manager Regional Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), Putut Andriatno.

“Inggris sempat menutup pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Namun, ketika pasokan gas dari Rusia terkendala, batu bara kembali digunakan. Ini karena Uni Eropa dan Inggris tergantung pasokan gas dari Rusia. Tercatat 43% suplai gas Uni Eropa dan Inggris berasal dari Rusia,” kata Komaidi.

Dia mencontohkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pada 2025 bauran energi untuk minyak sebesar 25% dan kemudian pada 2050 menjadi 20%. “Bila dilihat secara persentase menurun, namun harus diperhatikan juga pada 2025 itu 400 Mtoe, sedangkan 2050 itu 1.000 Mtoe, artinya ini naik,” ujar Komaidi.

Dia mengatakan upaya menggenjot investasi energi baru terbarukan (EBT) juga menjadi tantangan. Misalnya, potensi energi panas bumi atau geotermal di Indonesia sangat besar. Namun, ada beberapa kendala misalnya soal aksesibilitas hingga harga jual.

Di sisi lain, Komaidi juga menyoroti tentang peran sektor hulu migas terhadap total realisasi investasi migas di Indonesia cukup besar. Porsi investasi hulu dalam total realisasi investasi migas Indonesia selama periode 2015-2020 rata-rata sekitar 89,30%. Ketika investasi hulu meningkat, investasi hilir migas juga meningkat.

Dia menyebut investasi sektor hulu migas ini punya pengaruh cukup besar bagi ekonomi karena jumlah sektor pendukung yang terkait dengan kegiatan usaha hulu migas sebanyak 73 sektor. Sedangkan sektor penggunanya adalah 45 sektor.

“Sektor pendukung industri hulu migas membentuk 55,99% PDB dan menyerap 61,53% tenaga kerja Indonesia. Sementara sektor pengguna membentuk 27.27% PDB dan menyerap 19.34% tenaga kerja,” sebut dia.

Komaidi menyebut Pertamina memiliki peran besar. Saat ini, Pertamina berkomitmen untuk meningkatkan produksi domestik selaras dengan kebijakan peningkatan produksi minyak mentah nasional.

Selain produksi domestik, Pertamina juga melakukan akuisisi di luar negeri untuk dapat meningkatkan kapasitas produksi sejalan dengan peningkatan kapasitas kilang. Penambahan kapasitas kilang akan berdampak pada peningkatan kebutuhan minyak mentah sebagai feedstock. “Tambahan kapasitas kilang tersebut akan membantu menurunkan volume impor BBM,” sebut dia.

Adapun Deendarlianto dalam paparannya menyebutkan penyediaan infrastruktur energi membutuhkan biaya besar dan waktu yang lama, sehingga sangat dibutuhkan perencanaan yang akurat dan tidak berubah-ubah secara drastis.

“Jadi ini menjadi penting agar saat fase transisi tidak menjadikan krisis energi. Baurannya harus berjalan selaras dan tidak bisa langsung [berubah total] begitu saja,”kata dia.

Sementara itu, Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) Iman Rachman menyatakan perusahaan berkomitmen mendorong pertumbuhan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.

Upaya tersebut ditunjukkan dari total belanja modal atau capital expenditure (capex) Pertamina sebesar $92 miliar untuk periode 2020-2024, di mana 9 persen atau sebesar $8,3 miliar akan dialokasikan untuk EBT.

“Dari sisi bauran energi, energi baru terbarukan kita dari 2019 yang terdiri dari 13 persen akan meningkat menjadi 17 persen pada 2030,” kata dia dalam keterangan tertulis di sela-sela Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) ke-26 di Glasgow, Skotlandia, Kamis (4/11/2021).

Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina Iman Rachman dalam keterangan tertulis di sela-sela Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) ke-26 di Glasgow, Skotlandia, Kamis (4/11/2021).

Iman menambahkan untuk memperluas portofolio EBT, Pertamina telah mengembangkan delapan inisiatif strategis. Itu meliputi optimalisasi potensi dan peningkatan kapasitas energi panas bumi, pemanfaatan hidrogen hijau, yang akan menggunakan listrik dari lapangan panas bumi perusahaan dengan total potensi 8.600 kilogram hidrogen per hari.

Pertamina juga turut serta dalam perusahaan patungan Indonesia’s battery company bersama 3 BUMN lainnya yang akan mengembangkan ekosistem baterai EV, termasuk bisnis swapping dan charging.

Selain itu, Pertamina juga sedang dalam proses membangun Green Refinery dan mengembangkan Bioenergi yang terdiri dari biomassa/biogas, bio blending gasoil dan gasoline, serta memproduksi bio-crude oil dari alga dan etanol. Keseluruhan proyek akan siap beroperasi mulai 2025/2026.

“Sebagai perusahaan migas, kami berupaya mengurangi jejak karbon yang ada dengan menerapkan carbon capture, carbon utilization, and storage dalam meningkatkan produksi di beberapa lapangan migas yang ada,” ujarnya.

 

Sumber : JIBI/Solopos