DIY Didorong untuk Kembangkan Wisata Halal

Aktivitas di Pantai Gesing di Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang. Di wilayah ini akan dibangun pelabuhan pendaratan ikan dan proses sudah memasuki tahapan pembebasan lahan. foto diambil 28 Februari 2021-Harian Jogja - David Kurniawan.
08 November 2021 11:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Salim Segaf Al-Jufri mendorong DIY untuk mengembangkan wisata halal. Karena DIY menjadi salah satu provinsi dari delapan propinsi yang masuk dalam perioritas pengembangan ekonomi syariah.

Salim Segaf mengatakan wisata halal menjadi kebutuhan bagi wisatawa, terlebih DIY merupakan salah satu daerah kunjungan wisatawan terbesar setelah Bali. Wisatawan yang berkunjung ke Bali sebagian besar akan berkunjung ke DIY.

Wisata halal dapat memfasilitasi wisatawan dari negara-negara tertentu yang menginginkan makanan halal. “Jadi bukan hanya wisatawan dari negara-negara tertentu saja. Harus datangkan juga wisatawan dari negara yang ingin mendapatkan makanan halal dan sebagainya,” kata Salim Segaf, seusai sarasehan bersama para seniman dan budayawan di Rumah Budaya Tembi, Sabtu (6/11/2021).

BACA JUGA : Gagasan Wisata Halal Belum Dipahami Semua Pelaku 

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Oman periode 2005-2009 ini optimistis label wisata halal akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke DIY. Dari banyaknya kunjungan wisatawan tersebut akan berimbas pada peningkatan perekonomian warga.

Anggota Fraksi PKS DPRD DIY Amir Syarifudin mengatakan sosol Salim Segaf punya perhatian besar untuk mendatangkan wisatawan dari mancanegara ke Indonesia. Selain pernah menjadi duta besar untuk negara-neara Arab, Salim disebut juga sering berkunjung ke Eropa. Salah satu yang menjadi persolan adalah perlunya wisatawan dari negara tertentu untuk mendapatkan akses makanan dan fasilitas halal, “Bagaimana kebutuhan-kebutuhan wisatawan seperti untuk mendapatkan makanan halal tersedia,” ucap Amir.

Menurut dia, wisata halal tidak identik dengan penerapan syariah, namun sudah menjadi kebutuhan bagi wisatawan, “Agama itu urusannya kiai-kiai. Wisata halal diperlukan karena memang ada wisatawan yang membutuhkannya,” ujar Amir.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Heru Prabowo, sebelumnya mengatakan perlunya menggarap wisata halal untuk menggaet wisatawan muslim, salah satunya dengan menyediakan fasilitas kebutuhan wisatawan agar nyaman. Wisata halal, baginya bukan berarti wisata syariah namun lebih pada pelayanan yang merata untuk semua wisatawan, termasuk wisatawan muslim.

“Misalnya kalau butuh makanan, makanan itu perlu ada penjelasan bahwa makanan itu aman dan halal untuk dimakan. Di penginapan bisa menyediakan sajadah dan arah kiblat,” kata Kwintarto.

Sebelumnya, Direktur Infrastruktur Ekositem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sutan Emir Hidayat saat berkunjung ke DIY, pada Selasa, pekan lalu, mengatakan DIY menjadi salah satu dari delapan provinsi yang masuk dalam perioritas pengembangan ekonomi syariah.

BACA JUGA : Wapres Sebut Pengembangan Wisata Halal Terhambat 

Kedelapan provinsi termasuk DIY masuk perioritas pengembangan ekonomi syariah tersebut berdasarkan riset dan ditemukan ada delapan provinsi yang memiliki potensi besar untuk awal pengembangan ekonomi syariah.

“Salah satu tolak ukurnya dari kultur bahwa DIY berasal dari Kasultanan Mataram berbasis Islam. Kemudian konsep halal sudah terinternalisasi oleh masyarakat DIY. Kemudian lahirnya organisasi keagamaan besar juga di sini,” kata Emir Hidayat.