Bencana karena Cuaca Ekstrem Mengancam Sleman

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo saat memimpin Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Kabupaten Sleman 2021 di Halaman Mapolres Sleman, Senin (8/11/2021). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
08 November 2021 22:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Ancaman bencana akibat cuaca ekstrem harus diwaspadai menjelang akhir tahun. Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengimbau warga Sleman untuk waspada dan mempersiapkan langkah antisipasi dalam menghadapi bencana alam di pengujung 2021. Potensi bencana alam selama musim penghujan hingga akhir tahun ini terjadi di tengah ancaman pandemi Covid-19.

"Tentunya kita harus menyikapi secara sungguh-sungguh ancaman potensi bencana ini dengan siap siaga, waspada dan antisipasi sedini mungkin," ujar Kustini saat kegiatan Apel Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Alam, Senin (8/11/2021).

Menurut Kustini, wilayah Sleman memiliki beberapa potensi bencana seperti ancaman erupsi Gunung Merapi, hujan deras disertai angin kencang, serta banjir lahar hujan. "Dengan kewaspadaan ini diharapkan jatuhnya korban jiwa maupun kerugian materiel dapat ditekan sekecil mungkin," kata Kustini.

Apel kesiapsiagaan yang digelar, katanya, diharapkan mampu mempersiapkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk menghadapi potensi bencana tersebut. Tak hanya personel, Kustini mengingatkan agar sarana dan prasarana kebencanaan disiapkan dengan baik untuk menghadapi potensi bencana. "Kami juga mengingatkan seluruh pihak, seluruh masyarakat untuk berperan secara aktif dalam rangka penanggulangan bencana alam dan persebaran Covid-19," katanya.

Kapolres Sleman, AKBP Wachyu Tri Budi Sulistyono mengatakan apel tersebut diikuti oleh semua unsur, mulai dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, Satpol PP, Damkar dan sukarelawan kebencanaan lainnya. "Ini merupakan sinergi lintas sektor. Kami berharap SDM dan peralatan yang dimiliki masing-masing instansi dapat saling melengkapi dalam pelaksanaan penanggulangan bencana," katanya.

Saat ini Sleman sudah memasuki musim penghujan. Sesuai dengan kalender situasi Kamtibmas dikhawatirkan ada peningkatan karena potensi bencana alam baik banjir maupun tanah longsor sehingga perlu dilakukan antisipasi. Ia juga mengimbau agar warga dan sekolah untuk tidak melakukan kegiatan di daerah aliran sungai mengingat saat ini musim penghujan.  "Untuk kegiatan yang mengancam keselamatan seperti susur sungai dan lainnya untuk sementara dihentikan dulu," katanya.

Kepala Stasium Klimatologi BMKG Mlati Sleman, Reni Kraningtyas menjelaskan fenomena La Nina terpantau muncul sejak September dasarian III 2021. La Nina yang saat ini dalam skala lemah diperkirakan berkembang menjadi moderat dan akan berlangsung hingga awal 2022. "La Nina memberikan dampak peningkatan curah hujan di atas normal. Di awal musim hujan antara Oktober-November 2021, penambahan curah hujan sekitar 60 persen," katanya.

Dampak fenomena ini masih akan dirasakan sampai Februari 2022 meski intensitasnya turun sekitar 20-60%. Meskipun persentase peningkatan curah hujan relatif lebih kecil, dampak terhadap potensi bencana hidrometeorologi semakin tinggi, terlebih di puncak musim hujan pada Januari 2022.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan menjelaskan Pemkab menyiapkan bantuan bagi korban bencana melalui biaya tak terduga (BTT) APBD Sleman. Anggaran bantuan stimulan bagi korban bencana ini sesuai dengan Perbup No.36/2017. Untuk memperoleh stimulan ini, mekanismenya dilakukan secara berjenjeng di mana laporan disampaikan melalui kalurahan atau kapanewon hingga BPBD yang akan melakukan verifikasi nilai kerusakan.

Selain menganggarkan bantuan, Pemkab juga menyiapkan personel maupun peralatan antisipasi bencana. "Ada 69 personel yang disiagakan meliputi Tim Reaksi Cepat, operator Pusdalop, operator EWS, dan tenaga logistik. Peranti early warning system (EWS) banjir lahar juga telah disiapkan termasuk sensor curah hujan di puncak Merapi," katanya.