Dua Warga Bantul Meninggal Dunia karena DBD

Ilustrasi - Pixabay
10 November 2021 18:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Di tengah pandemi Covid-19, demam berdarah dengue (DBD) tetap menjadi ancaman. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul meminta masyarakat mewaspadai DBD, terutama saat memasuki musim penghujan seperti saat ini.

Peringatan ini bukan tanpa alasa. Sebab, mulai Januari sampai 4 November 2021, ada 174 kasus DBD, dua korban meninggal dunia. “Warga yang diduga meninggal karena DBD tercatat ada dua,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso saat dikonfirmasi, Rabu (10/11).

BACA JUGA: Sultan: Klaster Takziah Sedayu Membuat DIY Jadi Penyumbang Kasus Covid Tertinggi Nasional

Meski ada kematian, kasus tahun ini cenderung menurun dibandingkan dengan 2020.

Sebelumnya, Sri Wahyu mencatat data DBD pada 2020 lalu sampai September sebanyak 1.085 kasus. Meski kasus menurun, pria yang akrab disapa dokter Oki ini meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti tersebut. Menurutnya, penularan penyakit DBD sangat dipengaruhi dengan perubahan cuaca.

Ia mengimbau masyarakat tetap melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungannya masing-masing dan melakukan 3M, yakni menguras tempat penampungan air yang disinyalir menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk, menutup tempat penampungan air, dan mengubur atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. “Selain itu, terapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 saat berada di luar rumah,” kata Oki.

Dinkes juga meminta masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) bila mengalami gejala atau keluhan sakit.

Kepala Puskesmas Banguntapan III, Rades Pipit Murpitayani mengatakan puskesmas melakukan pemeriksaan cepat terhadap masyarakat yang mengalami demam untuk menentukan apakah pasien mengalami demam karena DBD, leptospirosis atau penyakit lainnya. Dokter akan memeriksa secara cepat untuk mendeteksi demam di hari pertama. Secara umum, gejala DBD adalah demam, bercak merah dan mimisan. “Kalau sekarang untuk kewaspadaan, asal demam kita harus curiga bahwa itu DBD. Karena DBD tidak mesti ada bercak merah. Kalau ditunggu sampai mimisan justru sudah masuk tahap bahaya,” kata Rades.

Selain untuk memastikan terkena DBD, pemeriksaan cepat itu juga dilakukan untuk mendeteksi leptospirosis. Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang dapat menyebar melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi. Beberapa hewan yang bisa menjadi perantara penyebaran leptospirosis adalah tikus, sapi, anjing dan babi.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan tidak langsung dengan cara wawancara ke pasien untuk menggali aktivitas pasien sebelum sakit.  “Misalnya pasien demam setelah bersih-bersih rumah atau ketemu tikus. Jadi yang diperiksa bukan hanya gejalanya. Karena gejala tidak mesti timbul semua,” ujar Rades.