Heboh Varian Delta Plus, Pakar: Kuncinya Satu, Prokes!

Ilustrasi. - Freepik
15 November 2021 13:57 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Varian Delta Plus atau AY.4.2 merupakan hasil mutasi alamiah yang terjadi pada virus termasuk SARS-CoV-2. Namun demikian hasil mutasi tidak selalu lebih berbahaya.

“Sekali lagi AY.4.2 belum ada bukti yang menunjukkan lebih ganas ya ataupun lebih mudah menular dibandingkan varian induknya, varian Delta (B.1.617.2),” kata Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, dr. Gunadi, Sp.BA., Ph.D., Senin (15/11/2021).

Gunadi menyebutkan bahwa sampai saat ini belum ada bukti riset soal tingkat keganasan varian ini lebih berbahaya dari dari varian Delta. “Otoritas Kesehatan Inggris juga baru menggolongkannya menjadi Variant Under Investigation, belum VOI ataupun VOC,”paparnya.

Meski varian ini berasal dari inggris dan saat ini sudah terdeteksi di Malaysia, menurutnya pemerintah tetap harus memperketat perbatasan untuk mengantisipasi masuknya setiap varian baru. ”Sebetulnya pencegahan penyebaran varian apapun termasuk AY.4.2 sama. Mestinya pemerintah sudah antisipasi termasuk terkait perbatasan antar negara,” tegasnya.

Soal kenaikan lonjakan penularan kasus covid-19 di Inggris belakangan ini menurutnya belum tentu disebabkan oleh varian tersebut. Sebab kenaikan penularan juga dipicu oleh longgarnya penerapan pembatasan dan protokol kesehatan. “Tergantung banyak faktor, salah satu faktor yang penting adalah bagaimana aktivitas masyarakat khususnya prokes,” ujarnya.

Menurut pandangannya, protokol kesehatan harus diperkuat dalam segala aktivitas kegiatan di masyarakat hingga tercapainya kekebalan komunal. Sepanjang Covid-19 belum terkendali dan imunitas kelompok belum terbentuk, prokes ketat dan pembatasan kegiatan warga tetap perlu diutamakan oleh pemerintah. “Kuncinya satu, prokes. Sampai kapan? sampai kekebalan komunal tercapai,” kata dia.

Dalam mewujudkan kekebalan komunal atau herd immunity, pemerintah saat ini tengah menggencarkan program vaksinasi Covid-19. Banyak jenis vaksin yang sudah disuntikkan ke tubuh masyarakat di Indonesia. 

Baca juga: Duh! Wisatawan di Pantai Tanpa Masker dan Tak Jaga Jarak

Di Kabupaten Sleman sendiri, capaian vaksinasi terus meningkat. Hingga awal November 2021, capaian vaksinasi di Sleman untuk dosis pertama 88% dan kedua 72,2%.

Berdasarkan data dari Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) yang dirilis Dinkes Sleman, total capaian vaksinasi Covid-19 di per 7 November 2021 untuk dosis pertama sudah diberikan kepada sebanyak 772.941 orang atau 88,0%. Sementara dosis kedua diberikan kepada 634.172 orang atau 72,2% dari jumlah penduduk Sleman sekitar 1 juta orang.

Kendati vaksinasi terus bergulir, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo tetap mengajak masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan. "Meskipun sudah divaksin, tapi kalau prokesnya kendor hanya akan jadi sia-sia. Makanya selalu sampaikan patuhi prokes, prokes di setiap kesempatan bertemu masyarakat," terangnya.