Guru Matematika di Jogja Kenalkan Inovasi "Tiket Sapa", Permudah Murid Konversi Satuan Panjang

Guru matematika SDN Perumnas Condongcatur, Yohana Dari Setyaningsih saat mendemonstrasikan alat peraga berjudul tiket sapa dalam ONIP Matematika 2021 di Museum Benteng Vredeburg, kemarin. - Harian Jogja/Yosef Leon
17 November 2021 18:07 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Seorang guru Sekolah Dasar (SD) di SDN Perumnas Condongcatur bernama Yohana Dari Setyaningsih mengenalkan inovasi perhitungan matematika berjudul tiket sapa (satuan panjang). Tiket sapa merupakan alat peraga pembelajaran yang dapat memudahkan murid dalam menghitung atau mengonversi satuan panjang.

Yohana menjelaskan, ide tersebut muncul sewaktu dirinya mengajarkan materi konversi satuan panjang di jenjang kelas 5 SD. Matematika yang kerap menjadi momok bagi pelajar ternyata ikut berpengaruh terhadap nilai belajar murid, sehingga hasil pelajaran kurang maksimal. Namun setelah murid menggunakan alat peraga ini, hasil belajar meningkat cukup signifikan. 

"Mereka terlalu susah untuk membagi atau mengalikan satuan panjang. Misal saat mengonversi dari satuan sentimeter [cm] ke meter [m] atau dari desimeter [dm] ke kilometer [km]," jelas Yohana dalam penyelenggaraan kompetisi Olimpiade Nasional Inovasi Pembelajaran (ONIP) Matematika 2021 di Museum Benteng Vredeburg, Rabu (17/11/2021).

Hal itu mendorongnya untuk menciptakan alat peraga pembelajaran yang memudahkan murid mengonversi satuan panjang. Ia membagi jenis konversi menjadi tiga warna yakni mudah, sedang dan sulit. Alat peraga ini juga bisa dicetak atau diperkecil dengan menggunakan  kertas biasa agar memudahkan murid memecahkan soal perhitungan konversi.

Baca juga: Vaksinasi Jadi Syarat Mahasiswa Masuk Kampus UMBY

Adapun, alat peraga pembelajaran tiket sapa yang dikenalkan Yohana berbentuk segi empat dengan delapan kolom memanjang horizontal yang berisi masing-masing satuan panjang mulai dari km sampai milimeter (mm), lalu delapan kolom yang memanjang vertikal dan dibiarkan kosong sebagai tempat memasang angka soal.

"Misalnya dari 17 cm mau dijadikan ke km, berarti ditunjuk km-nya dan di depan km diberi koma, sehingga jawabnya menjadi 0,0000017. Ini saya ujicoba ke kelas 2 SD sudah bisa," kata Yohana.

Alat peraga yang ditampilkan Yohana merupakan salah satu dari sekian banyak alat peraga pembelajaran matematika yang dipamerkan oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika. Gelaran itu sekaligus menjadi rangkaian acara ONIP 2021 yang dilangsungkan pada 16-20 November mendatang di Museum Benteng Vredeburg.

Plt Kepala PPPPTK Matematika, Hari Suryanto mengatakan, ONIP Matematika merupakan salah satu inovasi program pengembangan dan pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Matematika yang dicetuskan untuk mendorong guru melakukan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).

"Ajang ini merupakan kompetisi guru untuk menampilkan hasil karya inovasi pembelajaran yang dibuatnya. Melalui kompetisi ini diharapkan dapat mendorong guru untuk terus berinovasi untuk mendukung pembelajaran di kelas," ujarnya.

Sasaran

Sasaran kompetisi ONIP Matematika 2021 adalah guru kelas SD/sederajat, guru matematika SMP/sederajat, guru matematika SMA/sederajat, serta guru matematika SMK sederajat di Indonesia. Karya inovasi yang masuk kemudian diseleksi sebanyak 25 karya dan berhak mendapat kesempatan diundang secara luring untuk mengikuti proses penilaian produk, dimana peserta akan mendemonstrasikan produk dan hasil karya inovasinya di hadapan tim penilai pada kegiatan workshop penilaian produk inovasi.

"Selanjutnya dari 25 peserta tersebut diatas, akan ditentukan lima peserta dengan karya inovasi terbaik dan akan mendapatkan bantuan pembinaan dari PPPPTK Matematika," kata Hari.