Hadapi La Nina, Waspadai Penyakit Ternak di Sleman

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
20 November 2021 03:37 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Menghadapi musim hujan ditambah dengan adanya La Nina yang membuat intensitas hujan semakin besar tahun ini, peternak diharapkan lebih memperhatikan hewan ternaknya dan mewaspadai sejumlah penyakit yang bisa menyerang.

Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Supramono, menjelaskan para peternak ruminansia dan unggas harus lebih waspada, karena musim hujan memungkinkan untuk muncul beberapa penyakit dan gangguan fisik pada ternak. “Antara lain traumatik, demam pada ternak ruminansia, kembung dan diare, cacingan, serangan lalat dan stress,” ujarnya, Jumat (19/11/2021).

Upaya yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi pada ternak dan lingkungannya dapat dilakukan dengan pemberian vitamin terutama vitamin C dan E serta elektrolit, penyediaan termometer ruangan pada peternakan unggas sehingga apabila terjadi penurunan suhu pada lingkungan kandang bisa segera di atasi dengan penyediaan alat pemanas cadangan.

BACA JUGA: Data 19 November 2021: Covid-19 di DIY Hanya Bertambah 16 Kasus, Terbanyak Bantul

Kemudian pemasangan tirai pada kandang untuk dapat mengurangi penurunan suhu yang ekstrim dan menghambat tiupan angin, memperbaiki kualitas pakan untuk mendukung stamina ternak, menghindari memberikan langsung pakan hijauan pada ternak yang dipanen pada saat rumput masih basah karena akan beresiko latva cacing masih menempel pada rumput bagian atas.

“Diperlukan pula pengecekan ketersediaan air bersih, kebersihan kandang dan lingkunganya, pemeriksaan fisik banguna kandang, pengamatan fisik ternak untuk deteksi dini munculnya perubahan kondisi atau status kesehatan ternak serta peningkatan imunitas ayam melalui vaksinasi,” ungkapnya.

Adapun untuk pembudidaya ikan, langkah yang perlu dilakukan adalah melakukan panen lebih awal untuk ikan yang sudah siap panen, melakukan pembersihan saluran air dan perbaikan kolam agar kolam menjadi kuat terhadap gempuran arus air serta meningkatkan kewaspadaan kelompok terhadap banjir yang bisa secara tiba-tiba datang.

Pembudidaya juga bisa mengurangi padat tebar dan meningkatkan ketahanan ikan dengan memberikan prebiotic, vitamin serta obat-obatan diharapkan dapat meningkatkan ketahanan ikan. “Hal ini dilakukan karena La Nina akan berakibat pada perubahan suhu yang mendadak, perubahan salinitas atau keasaman air dan ada kemungkinan akan membawa berbagai penyakit baik bakteri, virus dan jamur,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja, Reni Kraningtyas, mengatakan ditandai dengan adanya anomali suhu muka laut Pasifik Tengah melebihi ambang batas kejadian Lanina, -0,63 derajat celcius. Kemudian pada akhir Oktober, suhu muka laut tersebut semakin minus menjadi -0,83 derajat celcius.

Fenomena ini akan berdampak pada penambahan intensitas curah hujan. Kalau ada fenomena Lanina yang terjadi berbarengan masuknya awal musim penghujan, penambahan intensitas hujan mencapai 60% dibanding curah hujan normal atau rata-rata. “Jika fenomena ini berlanjut sampai Desember-Februari penambahan intensitas curah hujan fluktuatif, 20-60 persen dari intensitas normal,” katanya.