Melestarikan Nilai Sangkan Paraning Dumadi dari Sumbu Filosofi

Talkshow Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofis Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) DIY bertajuk "Menjaga Eksistensi Awal Hingga Akhir Perjalanan Hidup" di depan Gerbang Makam Sultan Agung, Komplek Makam Raja-raja Imogiri pada Senin (29/11). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
30 November 2021 04:37 WIB Media Digital Bantul Share :

Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofis Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) DIY menggelar jumpa pers perihal berbagai aktivitas dan pengelolaan Makam Raja-Raja Imogiri dan Panggung Krapyak yang telah diinisiasi bersama, Senin (29/11/2021). Sebagai bagian dari Sumbu Filosofi, dua warisan budaya benda tersebut mengandung nilai eksistensi dari perjalanan hidup.

Kepala Bidang Warisan Budaya, Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) Bantul, Risman Supandi menuturkan bahwa dalam budaya Jawa kehidupan manusia melalui proses siklus di mana intisari kehidupan kehidupan ruh bersumber dan kembali kepada sang pencipta. Dalam talkshow bertajuk "Menjaga Eksistensi Awal Hingga Akhir Perjalanan Hidup", bangunan Panggung Krapyak disebut melambangkan awal perjalanan manusia di dunia. "Sedangkan komplek Makam Raja-raja Imogiri merupakan simbol dari akhir perjalanan hidup," tuturnya di depan Gerbang Makam Sultan Agung.

Baik Panggung Krapyak dan Makam Raja-raja Imogiri merupakan Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya. "Pengusulan Jogja sebagai City of Heitage ke UNESCO, kejeniusan yang menggambarkan Sangkan Paraning Dumadi," terangnya.

"Panggung Krapyak mewakili Sangkaning Dumadi. Dinas Kebudayaan DIY melalui Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofis saat ini diberikan kewenangan fasilitasi dan perawatan Panggung Krapyak," tambahnya.

Melalui kewenangan tersebut, Risman menerangkan bila Disbud Bantul memberikan dukungan sosialisasi kepada masyarakat dalam rangka penyiapan Jogjakarta sebagai City of Heritage. "Kalurahan Panggungharjo tempat Panggung Krapayak berdiri ditetapkan sebagai Kalurahan Budaya yang memiliki Balai Budaya," tandasnya.

Sebagai kepanjangan tangan Pemda DIY, Disbud Bantul juga mendukung pengelolaan Makam Raja-raja Imogiri. Diterangkan Risman, makam Raja-raja Imogiri mewakili simbol Paraning Dumadi.

"Rehab yang dilakukan Kraton melalui progtam anggatan Disbud DIY melakukan perbaikan kawasan makam yang mengalami longsor. Kraton juga sedang membangun kasuargan baru sebagai perluasan Makam Raja-raja Imogiri," tandasnya.

"Dukungan yang diberikan Disbud Bantul di antaranya penyiapan perangkat hukum penataan ruang di Kawasan Penyangga yang saat ini RTBL untuk kawasan Giriloyo dan Banyusumurup," terang Risman.

Dalam usaha peningkatan kunjungan dan edukasi masyarakat terkait Sumbu Filosofi baik Panggung Krapyak maupun Makam Raja-raja Imogiri, Disbud Bantul bersama Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi tengah menyiapkan strategi wajib kunjung Sumbu Filosofi. "Kita akan mengembangkan potensi wisata berbasis kultur dan religi. Kami usulkan kalau dulu ada program wajib kunjung museum," ujarnya.

Risman menjelaskan dengan adanya program wajib kunjung Sumbu Filosofi, pengetahuan masyarakat akan nilai-nilai Sumbu Filosofi dapat tersalurkan. Risman bahkan menghitung setidaknya butuh tiga hari untuk mengunjungi Sumbu Filosofi.

Lamanya waktu kunjungan akan berdampak perekonomian masyarakat sekitar Sumbu Filosofi. Selain itu potensi budaya dan kerajian di sekitar Sumbu Filosofi pun dapat terangkat, selain makin meluasnya pengetahuan masyarakat akan Sumbu Filosofi. Potensi ini bisa diresapi semua kalangan dari para pelajar juga masyarakat umum nantinya.

"Saya mengajak masyarakat khususnya kaum milenial untuk belajar sejarah. Saat berkunjung ke cagar budaya jangan hanya melihat fisiknya. Tapi ikuti arahan guide-nya untuk mengerti bahwa Sumbu Filosofi itu memiliki makna yang luar biasa dari perjalanan hidup manusia, Sangkan Paraning Dumadi," tandasnya.

Panewu Anom Kapanewon Imogiri, Sunarto yang hadir dalam datang sebagai narasumber juga mendukung sepenuhnya dalam pengelolaan Sumbu Filosofi, termasuk Makam-makam Raja Imogiri. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan masyarakat Imogiri ialah dibuatnya Forum Pencinta Budaya (Forcib).

Berbagai kegiatan digelar Forcib dalam rangka melestarikan budaya. Meski anggotanya banyak yang berusia sepuh, Sunarto menyenutkan jika kalangan muda-mudi dan milenial juga diajak berkolaborasi untuk menjaga kelestarian budaya.

"Kami di Kapanewon mendukung kebijakan dari pemerintah daerah. Jangan sampai budaya ini terlupakan. Jangan sampai wong jawa ilang jawane. Filosofi yang telah ada dan berkembang ini harus dilestarikan, kaitannya dengan nilai-nilai sosial di masyarakat," tandasnya. (ADV)