Penyebaran HIV/AIDS di DIY Beralih ke Ibu Rumah Tangga

HIV/AIDS - Pixabay
01 Desember 2021 16:47 WIB Jumali & Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tren penularan HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) saat ini berubah dan menyebar ke kalangan ibu rumah tangga dan anak-anak.

Bertepatan dengan peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY mengungkapkan angka penyintas HIV/AIDS (ODHA) berdasarkan golongan pekerjaan paling tinggi tercatat adalah IRT dengan 642 kasus HIV, melampaui angka kasus dari kategori pekerja seks sebanyak 209 kasus HIV dalam rentang akumulasi kasus 1993-2021.

Dengan angka kasus HIV dari jenis kelamin perempuan sebanyak 1.796, maka terdapat 35% penyintas IRT.

Pengurus PKBI DIY, Anita Triaswati, menjelaskan berdasarkan faktor risiko penularan tertinggi tercatat pada aktivitas heteroseksual atau hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan.

"Sekarang yang sedang tren itu malah penularan terjadi pada IRT dan menular ke anak. Karena biasanya pada IRT kan sudah pakai alat kontrasepsi dan merasa aman, tapi itu tidak semuanya memiliki efek untuk menangkal HIV," jelas dia, Selasa (30/11/2021).

Berdasarkan faktor risiko penularan tertinggi tercatat adalah pada heteroseksual atau hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan sebesar 3.152 kasus HIV. Rinciannya sebanyak 1.731 penyintas laki-laki dan sebanyak 1.379 penyintas perempuan.

Adapun untuk kasus dari faktor risiko homoseksual, tercatat sebanyak 1.030 yang menjadi penyintas HIV dengan porsi laki-laki paling dominan sebesar 996 penyintas, dibandingkan homoseksual perempuan sebanyak 26 penyintas.

Anita menyebut kondom adalah alat paling efektif dalam mencegah penularan HIV/AIDS. Masalahnya, banyak pasangan suami istri yang menganggap sepele soal hubungan seks menggunakan kondom. Keterbukaan diri dan saling percaya menjadi salah satu kunci dalam menekan penularan HIV/AIDS di rumah tangga. Ada baiknya, pengecekan dilakukan secara kontinu untuk mengetahui status kesehatannya berkaitan dengan HIV/AIDS.

"Kadang kan ada yang berpikir kami menikah dan baik-baik saja. Saya dan suami enggak jajan, istri juga tidak dengan laki-laki lain. Nah itu yang merupakan celah masuknya HIV/AIDS, tidak setia dengan pasangan dan merasa tidak berisiko sehingga tidak pakai kondom itu yang akan menjadi penularan berantai," kata dia.

Menurutnya masih banyak hal perlu diedukasikan kepada masyarakat awam, karena semuanya berpikir pasangan setia padahal kenyataannya tidak. Atau menularnya lewat yang lain seperti di masa lalu pemakai narkoba dan sering menggunakan jarum suntik bergantian. “Kalau HIV kan tidak langsung terdeteksi. Ada jeda, malah tanpa gejala ada. Kuncinya adalah saling setia, terbuka dan menjaga," kata Anita.

Potensi IRT yang tertular tetapi tidak mengetahui status kesehatannya berkaitan dengan HIV/AIDS juga menjadi masalah penularan baru. Ibu bisa menularkan virus kepada anak saat mengandung. Meski persentase penularan saat berada dalam kandungan jumlahnya kecil, tetapi tetap berpotensi menular. "Meskipun ada kemungkinan menularkan itu dari plasenta tapi sangat kecil sekali. Pada saat menyusui malah yang rentan dan risiko sekali," katanya.

Data per 1993-2021 jumlah penyintas ODHA di DIY cenderung menurun pada 2021 ini yang tercatat sebanyak 49 AIDS dan 138 HIV. Jumlah penyintas terbanyak adalah pada 2016 dengan jumlah penyintas HIV sejumlah 618 dan 224 penyintas AIDS. "Tantangannya yang sulit itu adalah tabu dan susah membicarakan soal kesehatan reproduksi, jadi masyarakat awam menganggap bahwa seksualitas dan kesehatan reproduksi itu hanya perlu dibicarakan di rumah oleh pasangan suami istri atau orang dewasa dan yang sudah menikah saja. Padahal sejak dini itu perlu diedukasi," ujar Anita.

Anita berpendapat pemeriksaan secara berkala terhadap status kesehatan berkaitan dengan HIV/AIDS sangat penting sebagai tindakan antisipasi. Virus HIV/AIDS juga tidak sama dengan Covid-19 yang misalnya merekomendasikan seseorang untuk melakukan pemeriksaan beberapa hari setelah kontak erat. Ada baiknya menganggap setiap orang berisiko terhadap penularan HIV/AIDS.

"Kalau saya bilang semua berisiko memang, ada baiknya dengan sukarela mengakses layanan jika merasa risiko baik dari diri sendiri atau pasangan. Alangkah baiknya memeriksa secara berkelanjutan atau kontinu, meskipun hasilnya negatif, sadar diri dan terbuka dengan pasangan itu perlu sekali. Kalau positif kan tidak berarti semuanya hilang, kalau sejak awal diketahui lebih baik malah dan bisa diberikan terapi antiretroviral [ART] untuk menekan virus," jelasnya.

PKBI juga rutin mengedukasi dan pengajaran soal pentingnya pengetahuan soal kesehatan reproduksi atau HIV/AIDS kepada kelompok marjinal, anak sekolah, dan komunitas desa. Selain itu, PKBI juga melakukan advokasi kepada ODHA untuk dapat mengakses fasilitas layanan kesehatan atau bantuan program pemerintah lewat Jaminan Kesehatan Sosial agar memastikan perawatan berjalan dengan optimal. "Kami sekarang lebih ke upaya preventif lewat edukasi dan pengajaran atau jika ada yang datang untuk akses pelayanan kami biasa berjejaring dengan yang lain untuk dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit yang sediakan pemeriksaan dan perawatan. Tertular HIV/AIDS bukan berarti kehilangan segalanya. Kita masih bisa aktivitas normal," katanya.

Kaum Disabilitas

Sementara itu, berdasarkan data di Dinkes DIY dari 1993-2021 total ada sebanyak 1.869 kasus AIDS terdiri dari 1.216 pria, 594 wanita dan 10 tidak diketahui. Sedangkan HIV ada 5.765 kasus, terdiri dari 3.794 pria, 1.703 wanita, dan 103 tidak diketahui.

Berdasarkan pekerjaan, dari 1.869 kasus AIDS, terbanyak laki-laki dengan latar belakang pekerjaan wiraswasta sebanyak 235 kasus, dan ibu rumah tangga dengan 244 kasus. 

Dalam kurun waktu 1993 hingga 2021 tercatat penambahan kasus paling banyak terjadi pada 2016. Terdapat 224 kasus AIDS terdiri dari 152 pria dan 72 wanita. Untuk kasus HIV di 2016 ada 618 kasus terdiri dari 429 pria, 154 perempuan dan tidak diketahui 35.

Sedangkan jika dilihat dari perkembangan kasus selama tiga tahun terakhir, ada tren penurunan jumlah kasus AIDS dan HIV.

Pada 2021 ada penambahan sebanyak 49 kasus AIDS, terdiri dari 36 pria dan 13 wanita. Sedangkan untuk HIV ada 138 kasus terdiri dari 99 pria dan 39 wanita.

Pengelola Program Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DIY, Laurentina Ana Yuliastanti, mengatakan meski ada tren penurunan kasus HIV dan AIDS, pihaknya mencatat ada kenaikan kasus HIV untuk disabilitas. "Untuk 2021 ini ada sebanyak 26 disabilitas yang positif HIV. Pada 2020 ada lima yang positif. Artinya harus ada strategi baru untuk penanganannya," katanya, Selasa.

Strategi baru ini harus dijalankan untuk menekan kasus HIV untuk disabilitas. Sebab, selama ini Ana melihat komunitas disabilitas belum jadi fokus penanggulangan dan penanganan HIV. Untuk itu, KPA saat ini mulai mendekati LSM dan sejumlah dinas untuk menekan kasus positif HIV untuk disabilitas. "Untuk penyebab kenapa mereka terkonfirmasi positif lebih kepada perilaku mereka. Kami saat ini sudah mulai bekerja sama dengan Disdikpora untuk melakukan pendekatan ke pendidikan khusus," jelasnya.

Sementara disinggung mengenai pelayanan kesehatan kepada para penyintas, Ana melihat selama ini sudah berjalan dengan baik. Semua Puskesmas di DIY sudah bisa melakukan layanan kepada penyintas. "Hanya saja, sampai saat ini masalah diskriminasi terhadap penyintas di masyarakat masih ada. Dan ini menjadi tantangan dan harus dihadapi," ucap Ana.