Angka Kematian Ibu dan Bayi di Bantul Masih Tinggi

Foto Ilustrasi. - Ist/Freepik
03 Desember 2021 08:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Pemkab Bantul meluncurkan aplikasi Sistem Informasi Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak atau (Sipia). Aplikasi tersebut untuk memantau ibu-ibu hamil yang ada di Bumi Projotamansari sehingga keterlambatan penanganan, keterlambatan akses, dan keterlambatan pelayanan kesehatan terkait dengan kejadian kegawatdaruratan ibu dan bayi segera bisa direspon dengan baik.

Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Budi Raharjo mengatakan angka kematian ibu (AKI) hamil mulai 2018 hingga 2021 mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada 2018 AKI mencapai 14 kasus, 2019 sempat turun 13 kasus, namun pada 2020 naik lagi menjadi 20 orang dan puncaknya pada 2021 ini sampai 43 orang.

Menurut Agus, pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor melonjaknya angka kematian ibu dan bayi, “Terkait dengan kematian ibu bersalin yang sampai dengan hari ini masih tinggi, meskipun berbagai upaya telah kita lakukan dan sebenarnya kita sudah berhasil menekan cukup. Hanya saja, di tahun 2020 seiring dengan adanya Covid-19 dan di 2021 juga terdapat lonjakan yang luar biasa,” kata Agus, dikutip dari laman resmi Pemkab Bantul, Kamis (2/12/2021).

Agus juga menyampaikan kematian ibu hamil tertinggi justru terjadi di periode pasca melahirkan. Hal ini disebabkan karena keterlambatan penanganan, akses, dan pelayanan kesehatan terkait dengan kejadian kegawatdaruratan ibu dan bayi. “Dengan launching aplikasi Sipia ini, diharapkan keterlambatan-keterlambatan tersebut bisa segera direspon dengan baik karena adanya aplikasi ini,” ujar Agus.

Lebih lanjut mantan Wakil Direktur RSUD Panembahan Senopati Bantul ini mengatakan kematian ibu hamil tertinggi terjadi justru di periode ibu nifas atau pascapersalinan. Ia berharap dengan aplikasi Sipia permasalahan kesehatan terkhusus kesehatan ibu dan anak balita ada dalam satu genggaman gadget masing-masing. Aplikasi tersebut juga dilengkapi dengan titik kordinat, sehingga memudahkan petugas untuk melakukan pertolongan.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, mengatakan kematian ibu dan bayi menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan bagi suatu wilayah. Sehingga, hal ini menjadi permasalahan yang cukup serius dalam penanganannya.

“Salah satu yang penting dan meresahkan kita semua adalah tingginya angka kematian ibu dan bayi, perlu kita sampaikan bahwa AKI [angka kematian ibu] dan AKB [angka kematian bayi] ini sejak dahulu sampai sekarang tetap menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan, dimanapun, sebuah daerah itu dikatakan kurang berhasil dalam pembangunan kesehatannya kalau AKI dan AKBnya tinggi, ” kata Bupati.

Halim mengatakan untuk menyelesaikan peroslan AKI dan AKB tidak bisa hanya diserahkan pada Pemkab Bantul, namun butuh kerjasama semua pihak. Dinas Kesehatan dan Puskesmas tidak cukup kapasitas untuk melakukan pengendalian, pemantauan, dan pengawasan terhadap ibu hamil dan bayi baru lahir. Oleh karenanya para panewu dan lurah untuk melakukan kerjasama koordinasi dengan Dinkes maupun Puskemas untuk mengendalikan angka kematian ibu dan bayi.

“Dengan penguasaan data dan adanya Aplikasi Sipia ini, para panewu dan lurah diharapkan bisa tahu dengan pasti, siapa saja warganya yang sedang hamil dan utamanya yang beresiko tinggi, sehingga dapat dilakukan pemantauan dan advokasi yang memadai,” tandas Halim.