Pemkot Jogja Peringati Hari AIDS Sedunia dengan Skrining TBC Gratis

Seorang petugas sedang melakukan skrining di mobile rontgen untuk deteksi dini TB bagi ODHIV di Kompleks Balai Kota Jogja, Sabtu (4/12/2021).Ist - Pemkot Jogja
06 Desember 2021 08:17 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Pemerintah Kota Jogja memperingati Hari AIDS Sedunia dengan melakukan skrining Tuberkulosis (TBC) gratis. Dengan tema besar Saya Berani, Saya Sehat! HIV dapat Dicegah dan Dikendalikan!, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mengambil sub tema  Tingkatkan Kualitas Hidup ODHIV melalui Pemberian Terapi Pencegahan TBC.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Jogja, Lana Unwanah, TBC banyak diderita oleh Orang Dengan HIV (ODHIV). TBC merupakan penyakit infeksi oportunistik peyebab kematian terbesar pada ODHIV.

Sehingga Terapi pencegahan TBC (TPT) penting dijalani oleh ODHIV. Walaupun tidak semua ODHIV bisa langsung menjalani TPT. Perlu adanya skrining terlebih dahulu untuk mengathui kondisi pasien. Dalam kegiatan skrining gratis ini, Dinkes Jogja bekerja sama dengan Zero TB Jogja, Yayasan Victory Plus, dan CD Bethesda.

Skrining berlangsung lima kali di Grha Pandawa Balai Kota Jogja. “Sudah terlaksana tiga kali pada 20 dan 27 November, dan hari ini,” kata Lana dalam acara Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kompleks Balai Kota Jogja, Sabtu (4/12/2021). “Masyarakat bisa memanfaatkan layanan ini pada agenda berikutnya yaitu 11 dan 18 Desember 2021 di tempat yang sama.”

Direktur Zero TB Jogja, Rina Triasih mengatakan apabila pihaknya telah melakukan skrining TBC sejak awal 2020. “Awalnya skrining kami lakukan di dua wilayah saja, Kemantren Gondomanan di Kota Jogja dan Kapanewon Samigaluh di Kabupaten Kulonprogo,” kata Rina. “Kemudian sejak April 2021 skrining TBC diperluas di seluruh kemantren di Kota Jogja.”

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan penanganan TBC dapat mengambil contoh dari penanganan Covid-19 yang selama ini menggunakan sistem zonasi. “Tiap wilayah ditentukan zonasinya berdasarkan jumlah kasus di wilayah tersebut, lalu dibuat prosedur interaksi sosialnya dan penanganan dengan pelibatan semua pihak,” kata Heroe.