Sektor Wisata Jadi Unggulan Pengentasan Kemiskinan DIY

Diskusi terkait penanganan kemiskinan yang digelar di UMY, Sabtu (4/12/2021). - Ist.
06 Desember 2021 12:27 WIB Newswire Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Sektor wisata menjadi sektor unggulan yang diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi penurunan angka kemiskinan DIY yang naik akibat pandemi Covid-19. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) DIY berjanji membantu pemerintah dalam memberikan pendampingan wisata untuk meningkatkan perekonomian dan menekan angka kemiskinan. Hal itu dibahas dalam acara Jagongan Jogja Seri  di UMY, Sabtu (4/12/2021).

Ketua PII DIY Tribudi Utama menyatakan melihat sektor yang paling terpukul di masa pandemi Covid-19 adalah sektor wisata, dengan segala turunanya yaitu sektor akomodasi, makanan, dan perjalanan. Insinyur DIY berkomitmen untuk memberikan pengaruh positif di lingkungan DIY, sehingga perlu adanya kontribusi yang nyata bagi lingkungan DIY.

“Kami akan mengatur langkah nyata bagaimana mengembangkan destinasi wisata khususnya di daerah Gunung Kidul dan Kulonprogo pada pasca pandemi. Ini dilakukan melalui pendampingan PII DIY kepada destinasi-destinasi wisata pilihan di DIY,” katanya dalam rilis yang dikirim Biro Humas dan Protokol UMY.

Alasan sektor wisata dijadikan target untuk diberikan sumbangsih oleh PII selain faktor dampak pandemi juga hal tersebut selaras dengan visi pembangunan DIY pada tahun 2025. Sektor wisata menjadi andalan DIY yang menghadirkan banyak sekali potensi wisata. Sehingga dengan permasalahan tersebut profesi insinyur hadir untuk membantu menangani masalah dan dapat memberikan solusi dalam berbagai bidang.

Seperti misalnya pada bidang teknik industri yang dituntut tidak hanya memahami sisi teknikal tetapi juga sisi manajemen dari suatu industri, termasuk diantaranya adalah industri pariwisata,” ujarnya.

Kepala Bappeda Kulonprogo, Triyono yang hadir dalam diskusi itu menyatakan pertumbuhan ekonomi DIY di masa pandemi mengalami penurunan drastis yaitu -2,69%. Pertumbuhan ekonomi di Kulon Progo pada tahun 2020 sebesar -4,06% jauh lebih rendah dibanding realisasi tahun 2019 sebesar 13,49%.

Perkembangan ini sejalan dengan perekonomian nasional yang juga terkontraksi sebesar 2,07% pada tahun 2020 dan pertumbuhan ekonomi DIY sebesar -2,69%,” ujarnya.

Pandemi Covid-19 berdampak luar biasa yang memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat Kulonprogo, hingga tergolong status jatuh miskin. Keberadaan YIA diharapkan bisa menjadi peluang dari pengembangan meningkatkan perekonomian masyarakat salah satunya melalui sektor wisata. Namun, kendala dalam pengembangan ekonomi baru di Kulonprogo selain terhalang oleh dampak pandemi juga terkait kebijakan tata ruang,” ujarnya.

 

 

Sumber : Siaran Pers