Rentetan Awan Panas Merapi Terjadi pada Senin Sore, Ini Penyebabnya

Tangkapan layar terjadinya awan panas di lereng Barat Gunung Merapi, Senin (6/12/2021) - Ist
06 Desember 2021 19:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Serangkaian awan panas atau wedus gembel kembali terjadi di Gunung Merapi pada Senin (6/12/2021) petang. BPPTGK mencatat sedikitnya tiga kali terjadi luncuran awan panas ke arah Barat Daya.

Luncuran Awan Panas Guguran (APG) pertama terjadi pukul 16.09 WIB. APG tercatat di seismogram dengan amplitudo 12 mm dan durasi 163 detik dengan arak luncur 1.800 m ke arah Barat Daya. Adapun arah angin saat itu ke arah Timur. Luncuran APG kedua terjadi pukul 16.44 WIB. Seismogram BPPTKG mencatat APG meluncur dengan amplitudo 14 mm dan durasi 160 detik.

"Jarak luncurnya sama, 1.800 ke arah Kali Bebeng dengan arah angin ke timur," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida, Sabtu (6/12/2021).

Adaun luncuran APG ketiga terjadi pukul 17.24 WIB. Tercatat di seismogram dengan amplitudo 19 mm dan durasi 163 detik. Sama halnya dengan APG pertama dan kedua, jarak luncurnya sepanjang 1.800 meter ke arah Kali Bebeng.

Hanik menjelaskan, sejak Sabtu pagi cuaca di sekitar Merapi berawan dan mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur. Suhu udara mencapai 19-28 °C sementara kelembaban udara mencapai 76-87 %. Adapun tekanan udara tercatat 567-718 mmHg sehingga secara visual asap kawah tidak teramati.

Akibat Hujan

Pada Senin siang, katanya, terjadi hujan lebat di puncak Merapi dengan total curah hujan mencapai 28mm. "Kemungkinan terjadi awan panas guguran meningkat pasca hujan di sekitar puncak. Untuk itu, masyarakat agar tetap waspada terhadap ancaman bahaya lahar dan awan panas guguran," katanya.

Potensi bahaya saat ini, kata Hanik, berupa guguran lava dan awan panas pada sektor tenggara-barat daya sejauh maksimal 3 km ke arah sungai Woro dan sejauh 5 km ke arah sungai Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Dan Putih. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

"Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Merapi," ujarnya.

BPPTKG juga merekomendasikan agar aktivitas penambangan pasir di alur sungai yang berhulu Merapi di kawasan KRB III dihentikan. Pelaku wisata direkomendasikan tidak melakukan kegiatan pada daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh 5 km dari puncak Gunung Merapi.

Sebelumnya, masyarakat lereng Gunung Merapi dinilai sudah siap jika sewaktu-waktu terjadi perubahan status Gunung Merapi dari level 3 (siaga) ke level 4 (awas). Meskipun dinilai siap, warga berharap kenaikan status atau level Merapi tidak terjadi dalam waktu dekat.

Lurah Kepuharjo Cangkringan Heri Suprapto mengatakan warga tetap mematuhi himbauan dari pemerintah dan BPPTKG terkait kondisi Merapi saat ini. Jika sewaktu-waktu terjadi perubahan status Merapi, dari Siaga ke Awas maka warga sudah menyiapkan diri.

"Kalau sewaktu-waktu status Merapi naik level dari 3 ke 4, warga sudah siap jika diminta untuk dievakuasi. Sampai saat ini kondisi warga masih beraktivitas seperti biasa karena kondisi Merapi masih terkendali," katanya kepada Harianjogja.com.

BACA JUGA: Polisi Periksa Kondisi Kejiwaan Siskaeee, Perempuan yang Pamer Alat Kelamin di YIA

Dijelaskan Heri, melalui berbagai kegiatan mitigasi bencana warga sudah memahami harus pergi ke mana saat status Merapi naik ke level awas. Termasuk seluruh armada untuk evakuasi warga juga disiapkan. "Jadi titik-titik kumpul untuk evakuasi warga sudah memahaminya," ujar Heri.

Tidak hanya itu, lanjut Heri, untuk wisatawan yang ke kawasan wisata di Petung dan Bunker Kaliadem saat sudah disediakan jalur khusus untuk evakuasi. Jalur tersebut dibangun oleh warga dengan corblok dan sebagian sudah diaspal. Jalur ini, kata Heri, juga steril dari truk-truk pengangkut pasir.

"Untuk wisatawan yang berkunjung ke Petung evakuasinya nanti ke arah Barat menuju Selatan, kami sudah siapkan jalurnya. Begitu juga dengan yang di Bunker Kaliadem, sudah ada jalan lurus ke bawah sampai rumah Mbah Marijan," katanya.