CATATAN AKHIR TAHUN 2021 JOGJA: Menjaga Momentum Baik

Petugas pasar mengecek suhu pengunjung sebelum memasuki area Pasar Beringharjo, beberapa waku lalu./Harian Jogja - /Istimewa
31 Desember 2021 07:07 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pandemi Covid-19 memukul sektor perekonomian hingga lumpuh pada Januari-September 2021. Melandainya kasus pada triwulan terakhir menjadi momentum baik untuk bangkit.

Di Jogja, tak sedikit pemilik usaha kecil menengah (UKM) mengandalkan laju roda sektor pariwisata. Padahal pada Januari-September 2021, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dan Level yang diberlakukan benar-benar melumpuhkan sektor pariwisata. Otomatis, mereka ikut lumpuh.

Masa terberat datang pada Juli dan Agustus 2021 ketika gelombang kedua kasus Covid-19 datang. Perekonomian mandek. 

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo Barat, Bintoro mengatakan pasar sempat tutup selama sebulan selama gelombang kedua persebaran Covid-19. Menurut dia jangankan pemasukan dari penjualan, untuk biaya operasional sehari-hari saja sulit.

“Awal 2021 para pedagang [pasar] sangat prihatin. Kami tergantung dengan wisatawan yang datang dari luar Jogja. Padahal kala itu masuk Jogja saja masih sulit, harus syarat macam-macam, penyekatan, tes dengan biaya mahal, dan sebagainya. Otomatis orang tidak berwisata,” kata Bintoro, Selasa (28/12/2021).

Bagi pedagang yang masih muda dan memiliki kesadaran teknologi, mereka tetap bisa beradaptasi secara perlahan. Namun bagi orang yang sudah tua, penjualan secara daring dan sejenisnya menjadi hal yang awam. Sedangkan proporsi pedagang di Beringharjo 40% orang tua dan sisanya anak muda.  Menurut Bintoro, meski sepi, banyak pedagang yang tetap berjualan. Tidak ada pilihan lain daripada berdiam diri di rumah.

Belum ada bantuan yang spesifik untuk para pedagang. Bantuan datang saat acara vaksinasi dan kunjungan Presiden Jokowi sekitar Maret 2021. Itu pun hanya terbatas untuk 200 orang. Bantuan tunai untuk pedagang sejauh ini belum ada. Misal pun ada bantuan, itu berupa individu yang berbasis kewilayahan, bukan pedagang.

“Bantuan yang cukup meringankan berupa pemotongan retribusi pasar dari 25 hingga 75 persen. Jualan dalam keadaan seperti ini masak masih dibebani biaya banyak. Keringanan retribusi bagi pedagang meringankan beban,” kata Bintoro.

Memasuki Oktober, penjualan mulai membaik. Pemasukan sudah kembali sekitar 50%. Tren ini semakin menggembirakan memasuki November sampai Desember. Momen Natal dan Tahun Baru juga membuat penjualan hampir normal seperti sebelum pandemi Covid-19. “Harapannya ke depan enggak ada PPKM serta isu-isu atau kabar hoaks yang berpengaruh buruk pada perekonomian masyarakat,” kata Bintoro.

Kondisi ini juga memukul sektor perhotelan dan restoran yang baru mulai bergerak pada November 2021. “Tetapi kami masih was-was, dengan berita seperti varian Covid-19 Omicorn. Kami masih trauma dengan kejadian Juli-Agustus saat peningkatan jumlah kasus banyak, dan mengakibatkan kami lumpuh total. Tahun 2021 adalah langkah awal kami untuk bangkit, tetapi bangkit belum menandakan keadaan sudah baik-baik saja,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono kepada Harian Jogja.

Semakin Pulih

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan keberhasilan penanganan gelombang kedua persebaran Covid-19 menjadi awal mula kebangkitan ekonomi.

Pada September 2021 jumlah kasus mulai turun drastis. Sejak itu ekonomi kian bertumbuh. “Selama tiga bulan ini [Oktober-Desember penurunan kasus] sudah terlihat cukup drastis, bahkan pertumbuhan ekonomi tergolong yang tertinggi, dibuktikan dengan peningkatan [kinerja sektor] usaha kecil menengah [UMK] yang menjadi kenaikan paling tinggi di Kota Jogja. Hal ini membuat ekonomi akan semakin pulih,” kata Heroe.

Capaian ini menurut dia merupakan hasil baik dari kolaborasi pemerintah dan masyarakat. Capaian vaksinasi juga tergolong tinggi. Per 23 Desember 2021, suntikkan pertama sudah tercapai 609.113 dosis atau 205,49% dari target. Untuk suntikan kedua sudah mencapai 574.715 dosis atau 193,89% dari target.

“Sekarang juga sedang tumbuh industri ikutan, termasuk pariwisata. Hotel-hotel juga banyak penuh dan di hari-hari biasa juga terisi dengan cukup, ini membuat peredaran uang di Jogja juga meningkat. Peredaran uang itu harapannya akan menjadikan perekonomian tumbuh dan bisa menyasar seluruh warga masyarakat,” kata Heroe.

Apabila bisa mempertahankan kondisi ini, maka kegiatan masyarakat perlahan bisa kembali normal. “Tahun 2022 saya yakin akan pulih, kalau kita [Jogja] mampu mempertahankan protokol kesehatan dengan baik,” katanya.