Advertisement

Mengolah Umbi-umbian Jadi Cara Perempuan Kulonprogo Ini Ikut Berkontribusi di Lingkungannya

Lajeng Padmaratri
Senin, 07 Maret 2022 - 09:47 WIB
Arief Junianto
Mengolah Umbi-umbian Jadi Cara Perempuan Kulonprogo Ini Ikut Berkontribusi di Lingkungannya Yuliana, pengolah umbi-umbian di Kuloprogo. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO--Yuliana berkontribusi besar terhadap masyarakat Sendangasri, Pengasih, Kulonprogo. Ia aktif mengajak warga melestarikan potensi lokal daerah setempat, yaitu tanaman umbi garut.

Perempuan 44 tahun ini berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Semenjak menikah pada 2005 lalu, ia mengikuti suaminya tinggal di Sendangsari.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Di sana, dia merintis pendirian Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati yang fokus pada pengolahan pangan lokal, terutama umbi-umbian. Dengan mengangkat merek Ralifa, puluhan ibu-ibu di Pereng, Sendangsari, Pengasih memproduksi tepung, keripik, dan olahan pangan lain yang berasal dari umbi lokal.

Kiprah Yuliana dalam pemberdayaan masyarakat terbilang baru di KWT Melati. Sebab, sebelumnya, dia merupakan tulang punggung keluarga ketika bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi dan Hongkong selama bertahun-tahun.

Meski kerasan bekerja di luar negeri, tetapi banyak lyang memintanya pulang dan bekerja di tanah kelahiran. Dia pun menikah pada 2005 dengan seorang pria sesama TKI di Taiwan.

"Setelah menikah, tinggal di sini [Kulonprogo] dan buka toko kelontong. Tetapi saya enggak lama jualan, karena orangnya enggak enakan. Lalu saya malah bantu-bantu pengelola di kelompok tani untuk budidaya tanaman jahe, garut, dan lain-lain," kata Yuliana kepada Harianjogja.com, Minggu (27/2/2022).

Sejak menjadi anggota kelompok tani tersebut, dia justru banyak dipercaya pengelolanya untuk mendampingi atau mewakili pengurus ketika pelatihan. Yuliana pun terbiasa menangani budidaya umbi di Sendangsari.

Suatu hari, ada dosen dari UNY yang menawarkan program untuk membuat olahan tepung sukun. Namun, kegiatan ini difokuskan untuk ibu-ibu saja dan terpisah dari kelompok tani.

Advertisement

Sejak itu, Yuliana pun merintis pendirian KWT Melati pada 2010 yang beranggotakan 20 ibu-ibu setempat untuk mengangkat olahan tepung sukun.

"Sebelum saya ajak ibu-ibu ke KWT, mereka juga sudah ada yang bikin emping garut. Tanaman umbi garut yang awalnya hanya jadi sarang nyamuk, dimanfaatkan jadi emping. Tapi produksinya belum optimal, empingnya masih tebal dan belum putih, harga jualnya juga masih rendah di Pasar Clereng [Pengasih]," ucap dia.

Beruntung, ibu-ibu itu terbuka dengan ajakan Yuliana untuk mengikuti KWT Melati. Mereka pun memperbaiki produksi emping garut dan olahan lain secara lebih optimal.

Advertisement

Pemecah Batu

Selain berkegiatan mengolah emping garut, ibu-ibu di Pereng juga berprofesi sebagai pemecah batu. Menurut Yuliana, di sela-sela menjemur emping, mereka mencari batu untuk dipecah ke ukuran yang lebih kecil.

"Saat itu batu-batu itu laku untuk ngecor bangunan. Tapi lama-kelamaan sudah bermunculan teknologi, jadi sekarang kalau memecah batu itu pakai mesin, enggak ada lagi profesi pemecah batu. Sekarang ibu-ibu pemecah batu itu sudah sepenuhnya ikut KWT," ucap Yuliana.

Ibu dua anak ini pun bersyukur dengan keikutsertaan ibu-ibu warga Pereng ke KWT bisa menaikkan harga jual emping garut menjadi lebih tinggi. Dari yang awalnya hanya bernilai jual Rp12.000 per kilogram, maka kini nilainya bisa mencapai Rp50.000 per kilogram.

"Awalnya bentuk emping garut yang dibuat ibu-ibu belum beraturan. Setelah dibentuk KWT, jadi bisa studi banding ke sentra umbi garut yang lain untuk belajar. Sekarang sudah bisa produksi emping garut kualitas 1, kualitas 2, dan seterusnya dengan harga yang berbeda. Alhamdulillah sampai sekarang olahan garut masih diminati meskipun musiman," ucap dia.

Advertisement

Dengan dibentuknya KWT, Yuliana juga menuturkan bahwa makin banyak pelatihan dan pendampingan bagi masyarakat dari dinas terkait. Sebab, ia yang hanya lulusan SMP mengaku tak bakal mengetahui manfaat pangan lokal dan potensinya jika tidak mendapatkan arahan dari pemerintah.

"Dengan bikin KWT, ibu-ibu jadi enggak cuma berkegiatan sendiri, sekarang sudah ada perhatian pemerintah. Ada pendampingan, pelatihan, dan diikutkan pameran juga," kata dia.

Dalam meningkatkan kualitas pengolahan, KWT Melati juga mendapatkan bantuan berbagai mesin produksi. Kini, mereka tak hanya mengolah umbi garut, melainkan juga ubi ungu. talas, singkong, dan pisang. Pangan lokal itu bisa diolah menjadi tepung, keripik, bahkan kue.

Beranggotakan 30 ibu-ibu setempat, KWT Melati terus berinovasi mengembangkan inovasi olahan umbi lokal menjadi pangan yang sehat dan nikmat. Yang paling mutakhir, mereka tengah mengolah mi berbahan mocaf dengan nama Mie Maio-ku.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Korpri Diharapkan Jadi Akselerator

Korpri Diharapkan Jadi Akselerator

Jogjapolitan | 2 hours ago

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

PLN Tanam 19.000 Pohon Peringati Hari Menanam Pohon Indonesia 2022

News
| Selasa, 29 November 2022, 20:27 WIB

Advertisement

alt

Masangin Alkid, Tembus Dua Beringin Bakal Bernasib Mujur

Wisata
| Selasa, 29 November 2022, 15:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement