Advertisement

Peduli Anak-Anak Tepi Kali, P3S Bikin Gerakan Pendidikan Alternatif

Lajeng Padmaratri
Sabtu, 02 April 2022 - 07:17 WIB
Arief Junianto
Peduli Anak-Anak Tepi Kali, P3S Bikin Gerakan Pendidikan Alternatif Sukarelawan P3S bermain bersama anak-anak di Karangwaru. - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Sejak 2014, sejumlah anak muda membuat kegiatan pendampingan anak-anak di pinggir sungai. Lewat wadah yang dinamai Paguyuban Pengajar Pinggir Sungai (P3S), mereka mendampingi warga tepi kali untuk mendapat akses pendidikan alternatif.

Paguyuban ini dirintis oleh sejumlah pemuda dari Jogja yang awalnya tergabung dalam sukarelawan saat Gunung Kelud meletus pada 14 Februari 2014 lalu. Kegiatan sosial di sana kemudian membuat para pemuda itu sering berkegiatan bersama.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

BACA JUGA : Tutup! Sejak 27 Maret TPST Piyungan Sudah Tidak Bisa Lagi Menampung Sampah

Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah merealisasikan keinginan mendirikan komunitas yang berbasis di bidang pendidikan alternatif. Lantaran salah seorang kawan memiliki rumah di pinggir Kali Code di Dusun Blunyah, Sinduadi, Mlati, Sleman. Maka dipilih lah lokasi itu sebagai tempat komunitas berkegiatan.

"Awalnya dari mengobrol soal realitas pendidikan saat ini. Apalagi masyarakat pinggir kali dirasa memandang pendidikan enggak seperti masyarakat lainnya di Kota Jogja, mungkin mereka hanya ikut sekolah formal dan enggak mendapat akses pengetahuan yang lain. Para pendiri komunitas ini pun tertarik membuat ruang alternatif baru di sana," kata Koordinator P3S, Idha Nafiatul Aisyi kepada Harian Jogja, Jumat (25/3/2022).

Idha mulanya bergabung dengan P3S sebagai sukarelawan sejak empat tahun lalu. Kini, dia menjabat sebagai koordinator paguyuban ini. Di P3S, mereka menyebutnya sebagai “Kepala Sekolah”.

Para sukarelawan punya kegiatan mendampingi anak-anak pinggir sungai untuk belajar. Berbeda dengan bimbingan belajar, kegiatan ini gratis tanpa dipungut biaya.

"Selain itu, kami demokratis. Di sekolah formal, adik-adik di sana mungkin enggak punya kuasa untuk menentukan apa yang ingin mereka pelajari, karena sudah ditentukan sekolah. Kalau di P3S, kami ajak adik-adik untuk punya konsensus di awal mereka ingin belajar apa," jelasnya.

Advertisement

Bagi Idha, mereka sebagai sukarelawan bukan mengajar, melainkan belajar bersama anak-anak di pinggir kali. Oleh karena itu, P3S menerapkan kultur untuk tidak menggunakan diksi mengajar.

BACA JUGA : UMY Gerak Cepat Periksa Mahasiswa Terduga Pelaku Pelecehan Seksual

"Kami juga ingin membiasakan anak-anak dengan memberi informasi yang dekat dengan mereka, pembelajaran kami kontekskan dengan masyarakat pinggir sungai. Dengan begitu, mereka bisa menyadari apa yang ada di dekat mereka, supaya bisa menyelesaikan problemnya sendiri," kata Idha.

Advertisement

Meluas
Setelah di Blunyah, sukarelawan P3S memperluas titik kegiatan ke sejumlah tempat. Kini, ada empat lokasi belajar, yaitu di Blunyah, Sendowo, Karangwaru, dan Karangjati.

"Di Blunyah, kami ada taman baca dan menjadi pusat kegiatan literasi. Jadi setiap diskusi, bedah buku, itu di rumah baca," tutur Idha.
Tak hanya berkegiatan bersama anak-anak, Idha mengakui bahwa aktivitas P3S meluas. Lantaran bersinggungan langsung dengan masyarakat pinggir sungai, mereka pun harus menjalin hubungan dengan orang tua anak-anak di setiap wilayah belajar.

"Teman-teman penanggung jawab wilayah itu punya kegiatan silaturahmi door to door dengan orang tua adik-adik. Jadi kami bisa tahu situasi belajar adik-adik itu dipengaruhi apa saja," urainya.

Bahkan, P3S juga fokus mendukung kegiatan ekonomi warga. Mereka membuat jejaring yang mendukung ekonomi kreatif agar meningkatkan kesejahteraan warga, misalnya lewat lokakarya.

Advertisement

Kini, mereka mendampingi sekitar 40-50 anak-anak di empat titik. Sementara ini, sukarelawan P3S hanya mendampingi siswa jenjang sekolah dasar.

"Sebenarnya ada yang minta didampingi belajar dari jenjang SMP, tapi keterbatasan sumber daya kami jadi hanya mengajar SD," ujarnya.

BACA JUGA : Ini Penyebab Klithih Menurut Sosiolog UGM

Setelah tujuh tahun berkegiatan di pinggir kali, sukarelawan P3S berharap kegiatan itu bisa membuat masyarakat pinggir kali memahami identitasnya dan mampu memecahkan masalahnya sendiri.

"Bahkan kalau bisa mereka juga terpacu untuk ingin menciptakan hal-hal positif di lingkungannya. Menyadari apa yang mereka hadapi, sehingga bisa menyelesaikan problemnya sendiri," kata Idha.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Pekan Ini Jembatan Kretek 2 Diresmikan

Pekan Ini Jembatan Kretek 2 Diresmikan

Jogjapolitan | 11 hours ago

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Naik Status Jadi Awas, Gunung Semeru Alami 22 Kali Letusan

News
| Senin, 05 Desember 2022, 00:47 WIB

Advertisement

alt

Jangan Sampai Salah, Hotel 26 Lantai di China Ini Khusus untuk Babi

Wisata
| Minggu, 04 Desember 2022, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement