Advertisement

Soal Kasus Nuthuk, Paguyuban Curiga Ada Kecemburuan Sosial terhadap Betor Malioboro

Yosef Leon
Senin, 18 April 2022 - 18:47 WIB
Bhekti Suryani
Soal Kasus Nuthuk, Paguyuban Curiga Ada Kecemburuan Sosial terhadap Betor Malioboro Suasana di Jalan Malioboro, Kota Jogja, Minggu (5/9/2021). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA - Persatuan Becak Motor Yogyakarta (PBMY) menilai ada indikasi kecemburan sosial terhadap kehadiran becak motor (betor) yang masih bertahan di Malioboro sehingga kejadian negatif kerap menimpa profesi itu. Sebab, dari sekian sektor yang dipersoalkan di Malioboro mulai dari PKL sampai skuter listrik hanya betor yang masih bertahan sampai saat ini.

"Kami duga ada kecemburuan sosial, karena betor kan belum legal tapi boleh masuk Malioboro dan mangkal. Di Malioboro kan ada sejumlah persoalan misalnya PKL sudah pindah, skuter juga dihapus. Kenapa betor bisa masuk ke Malioboro saya rasa itu indikasinya ada seperti itu," kata Ketua PBMY, Parmin kepada wartawan, Senin (18/4/2022).

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Menurut Parmin, kejadian itu bisa jadi hanya bualan belaka dan dimungkinkan dilakukan oleh oknum-oknum tertentu hanya untuk mencari keburukan betor. "Pelakunya bisa wisatawan bisa juga bukan. Tapi tujuannya untuk menjelekkan becak motor. Saya kira teman lain juga punya pikiran seperti itu karena ada kecemburuan dari pihak lain," ungkap dia.

BACA JUGA: Viral karena Mengejek Ade Armando, Dosen UGM Karna Wijaya Mengaku Hanya Bercanda

Dia juga menyebut bahwa oknum pebecak yang diduga melakukan tindakan penipuan tarif itu bukan anggota PBMY. Pihaknya telah rutin mengingatkan kepada anggota untuk jangan sekali-sekali untuk aji mumpung dan mencoreng citra pariwisata Jogja dengan tindakan yang menyalahi aturan.

"Itu bukan anggota kami dan kami setiap pertemuan memang selalu sosialisasikan jangan sampai wisatawan ke Jogja kapok karena ulah becak. Kami juga ada sanksi kalau melanggar tidak boleh mangkal di Malioboro lagi," katanya.

Menurut dia, memang tidak ada standar baku tarif untuk layanan betor di Malioboro. Namun, patokannya tetap pada jarak tempuh dan juga kondisi lalu lintas. Semakin jauh rute antar dan tingginya tingkat kepadatan lalu lintas akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya tarif betor.

"Misalnya wisatawan mau ke Bakpia Pathuk, itu kalau dari perempatan terang bulan pulang-pergi Rp10.000. Kalau ke Keraton kondisi jalanan tidak macet harganya Rp20.000 dari perempatan terang bulan. Kalau musim liburan dan macet ya bisa variasi. Kalau tidak mau ya tidak masalah. Itu kan hanya soal kesepakatan," jelasnya.

PBMY juga tidak mau ambil pusing dengan kejadian itu lantaran banyaknya betor yang beroperasi di kawasan wisata dan belum bergabung ke paguyuban. Oleh karenanya dinilai sulit untuk melakukan upaya pencegahan terhadap kejadian serupa. "Kami hanya bisa sosialisasi ke anggota saja. Kalau melanggar aturannya sudah jelas sanksinya bagaimana," ungkap Parmin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Sempat Tertunda karena Pandemi, Pembangunan Masjid Agung Jateng di Magelang Akhirnya Dimulai

News
| Rabu, 01 Februari 2023, 09:27 WIB

Advertisement

alt

Ini Nih... Wisata di Solo yang Instagramable, Ada yang di Dalam Pasar!

Wisata
| Selasa, 31 Januari 2023, 23:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement