Advertisement

1,7 Juta Anak Belum Imunisasi Dasar, Daerah Diminta Waspada KLB Difteri

Sunartono
Selasa, 19 April 2022 - 09:47 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
1,7 Juta Anak Belum Imunisasi Dasar, Daerah Diminta Waspada KLB Difteri Sejumlah pejabat Kemenkes dan stakeholder terkait dalam kegiatan pekan imunisasi dunia secara daring, Senin (18/4/2022). - Zoom

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Sebanyak 1,7 juta anak di Indonesia belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Capaian program imunisasi menurun drastis akibat pandemi Covid-19. Kondisi ini bisa menimbulkan bermunculannya penyakit pada anak hingga kejadian luar biasa atau KLB penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) terutama difteri.

Plt. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes Prima Yosephine menjelaskan sebanyak 84% dari fasilitas pelayanan kesehatan imunisasi anak terdampak Covid-19. Akibatnya capaian imunisasi dasar lengkap baru mencapai 58,4% dari target 79,1% per Oktober 2021. Bahkan pada anak usia bawah dua tahun cakupan imunisasi campak dan rubela menurun drastis dari sebelumnya di 2019 di angka 72,7% menjadi 65,3% di 2020 dan di 2021 kembali turun di angka 58,4%.

“Perlu diketahui periode 2019 hingga 2021 ada 1,7 juta anak belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Kondisi tentu akan menurunkan tingkat kekebalan komunitas dan menimbulkan daerah berpotensi menjadi sumber kasus atau penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri,” katanya dalam peringatan Pekan Imunisasi Dunia yang digelar secara daring, Senin (18/4/2022).

Ia mengatakan dampak lain bisa menimbulkan KLB penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) di antaranya Difteri Tetanus Pertussis, Rotavirus, dan Pneumokokus. Potensi wabah KLB dapat terjadi di daerah sehingga harus diwaspadai, mengingat PD3I seperti difteri dapat menular. Difteri merupakan bakteri yang menyerang saluran pernapasan pada selaput lendir hidung dan tenggorokan yang menyebabkan anak sulit bernapas.

Baca juga: Setelah Lansia, Ini Giliran Kelompok Warga di Jogja yang Divaksinasi Booster

“Layanan imunisasi pada anak harus tetap diberikan untuk menghindari risiko terjadinya Kejadian Luar Biasa KLB yang diakibatkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” ujarnya.

Vaccine Medical Director GSK Indonesia Deliana Permatasari menyatakan komitmennya untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam membangun dan memelihara kesehatan masyarakat. Ia menilai perlunya kolaborasi publik untuk menyampaikan informasi ilmiah kepada petugas kesehatan dan juga masyarakat umum terkait imunisasi. “Agar dapat mempercepat cakupan imunisasi lengkap terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” ucapnya.

Dokter Spesialis Anak Profesor Hartono Gunardi menegaskan untuk menghindari meluasnya KLB difteri, penting bagi orang tua untuk segera melengkapi dan mengejar imunisasi anak yang tertinggal tanpa harus mengulang jadwal imunisasi dari awal. Peran imunisasi terbukti efektif dalam meningkatkan kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah berbagai penyakit.

“Setiap tahun imunisasi telah membantu mencegah kematian dua hingga tiga juta anak di Indonesia,” katanya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan anak berusia 0-12 perlu mendapatkan imunisasi vaksin Hepatitis B, Polio, BCG, DTP, Hib, PCV, Rotavirus, Influenza, MR, JE, dan Hepatitis A. Pada usia 1-2 tahun, diberikan vaksin MMR, Varisela, vaksin ulangan DTP-Hib-Hepatitis B. Kemudian pada usia 24 bulan, anak perlu menerima vaksin Tifoid dan di usia 9 tahun anak direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin HPV dan Dengue. 

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Streaming Starjoja FM
alt

ICJR Desak Ferdy Sambo Cs Dijerat Pidana Pembunuhan Berencana, Tak Hanya Sanksi Etik

News
| Rabu, 10 Agustus 2022, 23:07 WIB

Advertisement

alt

Kedung Pengilon, Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi untuk Ritual

Wisata
| Rabu, 10 Agustus 2022, 19:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement