Advertisement

Muncul Wacana Sertifikasi Kompetensi bagi Seniman Karawitan

Sunartono
Kamis, 26 Mei 2022 - 11:47 WIB
Budi Cahyana
Muncul Wacana Sertifikasi Kompetensi bagi Seniman Karawitan Narasumber memaparkan materi dalam serasehan bertajuk Kompetensi Karawitan; Antara Eksakta dan Subjektivitas Masyarakat di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (25/5/2022). - Harian Jogja/Sunartono.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA–Sertifikasi kompetensi bagi penabuh gamelan atau pengrawit muncul dalam serasehan bertajuk Kompetensi Karawitan; Antara Eksakta dan Subjektivitas Masyarakat di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Rabu (25/5/2022). 

Seniman karawitan atau pengrawit selama ini lebih banyak menjalankan fungsi sosial dalam setiap pementasan di tengah masyarakat.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Seniman karawitan Jogja Pardiman Djoyonegoro mengatakan seiring perkembangan zaman, kompetensi bagi seniman, tak terkecuali pengrawit, akan dibutuhkan. Namun, para seniman bisa memilihnya sesuai keyakinan masing-masing, baik ingin disertifikasi atau tidak. Ia sendiri masih berada di tengah-tengah, antara setuju atau tidak. Di satu sisi ia belum mengetahui konsekuensi yang harus dihadapi nantinya ketika disertifikasi, di sisi lain sertifikasi kompetensi di era saat ini sangat dibutuhkan. Selain itu sertifikasi bisa menjadi salah satu apresiasi terhadap seniman sesuai kemampuan kompetensi masing-masing.

"Tetapi mungkin ada yang berpikir, seniman jadinya seperti tukang ya? Namun jika [sertifikasi] ini dilakukan, sama seperti menata seniman, karena ada beberapa kasus ketika pentas di luar negeri misalnya ditolak karena tidak memiliki sertifikasi, artinya dibutuhkan," katanya kepada Harian Jogja di sela-sela serasehan, Rabu (25/5/2022).

Pendiri Sanggar Karawitan Omah Cangkem ini menilai penerapan seniman karawitan bersertifikasi mungkin cocok diterapkan pada event maupun yang digelar oleh pemerintahan maupun internasional. Melalui sertifikasi akan bisa dilihat ukuran kompetensi dan kualitas setiap seniman dalam memberikan apresiasi. Akan tetapi sertifikasi ini tentu tidak serta merta bisa diberlakukan di tengah masyarakat. Karena tidak sedikit pengrawit yang lebih mengedepankan rasa sosial sehingga ketika pentas tidak semata-mata diukur dengan nominal.

"Karena ada istilahnya manajemen konco, ini tidak bisa diukur dengan nominal. Bahkan dahulu wayangan itu pengrawit dapat honor dari sajen [ubarampe makanan]. Dengan wacana sertifikasi kompetensi ini seniman bisa memilih, mungkin kalau berhubungan dengan pemerintahan, internasional bisa dipakai [ukuran sertifikasi], kalau di masyarakat boleh juga tidak dipakai karena sosial tadi," ucapnya.

Dosen seni karawitan ISI Jogja Anon Suneko menyatakan kaitan dengan seni karawitan dahulu memang erat dengan sosial, bukan semata mencari uang. Akan tetapi dalam perkembangan teknologi butuh fasilitas untuk dukungan, hal ini tentu akan akan membuka wacana lebih luas lagi bagi para seniman.

"Memang harus melihat lebih jeli lagi, kalau karawitan ini orientasinya masih seperti nenek moyang, cenderung pada jenek [kekerabatan, kerasan] bukan jenang," ucapnya.

Advertisement

Ia menambahkan era dahulu pengrawit lebih pada kepuasan batin. Namun sebagian besar pengrawit waktu itu sekaligus petani sehingga mereka sudah merasa punya cadangan untuk hidup sehingga gamelan fungsinya tersier. 

"Tetapi sekarang ini, seperti saya tidak punya sawah. Karawitan jadi sesuatu yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tadinya religius kemudian orientasinya jadi hiburan. Aspek lainnya tidak dipentingkan," ujarnya.

Dosen FBS UNY Kuswarsantyo Condrowaseno mengatakan ada sejumlah manfaat dari sertifikasi seniman karawitan. Antara lain, mewujudkan keunggulan kompetitif, meningkatkan efisiensi kemampuan, meningkatkan potensi penghasilan, mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dan terakhir membangun kredibilitas profesional. Sertifikasi akan menjadi senjata sebagai pelaku profesional. Apa yang dibutuhkan tidak hanya keahlian tetapi pengetahuan tentang skema kompetensinya.

Advertisement

"Sudah maestro itu tetap harus menggunakan sertifikasi, hanya saja untuk mendapatkannya tidak melalui tahapan seperti pemula. Maestro tinggal menyerahkan portofolio saja, ini sebagai legalitas formalnya. Ini yang prosesnya tidak harus dari pemula," ujar pria yang juga Ketua Lembaga Sertifikasi Prosesi Kraton Ngayogyakarta ini.

Kuswarsantyo menegaskan tahapan tes sertifikasi tidak semata-mata praktik kemampuan semata. Tetapi juga harus mempertimbangkan attitude atau sikap dari seniman yang disertifikasi. "Misalnya orang menabuh gamelan kalau tidak tahu etika, maka bisa jadi tidak akan lolos sertifikasi. Attitude ini menjadi sangat penting," ucapnya. 

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

4 Negara di Asia Tenggara Akan Klaim Kebaya ke UNESCO, Kok Bisa?

News
| Sabtu, 26 November 2022, 18:17 WIB

Advertisement

alt

Unik! Hindari Bajak Laut, Rumah di Pulau Ini Dibangun di Bawah Batu Raksasa

Wisata
| Sabtu, 26 November 2022, 17:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement