Pelajar Gunungkidul Diajak Jaga Budi Pekerti dan Budaya Damai
Pemkab Gunungkidul mendukung Gerakan Pelajar Jogja Santun dan Cinta Damai untuk mencegah kenakalan remaja dan kekerasan di sekolah.
Kondisi tebing batu kapur di Padukuhan Bolang, Giripanggung yang mengenai rumah warga. Sabtu (17/1/2026). - Foto Istimewa BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Curah hujan tinggi yang terus mengguyur wilayah selatan Gunungkidul meningkatkan risiko bencana geologi di kawasan perbukitan karst. Hujan deras di Kapanewon Tepus memicu longsor tebing batu kapur di Padukuhan Bolang, Kalurahan Giripanggung, yang merusak rumah warga dengan kerugian ditaksir mencapai Rp25 juta. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang terjadi pukul 03.30 WIB ini.
Kapolsek Tepus, AKP Suryanto, menjelaskan peristiwa longsor pertama kali diketahui oleh Doni Irawan, salah satu korban. Saat kejadian, Doni berada di dalam rumah dan tiba-tiba mendengar suara bergemuruh dari arah belakang rumah pada Sabtu (17/1/2026) dini hari.
Setelah dilakukan pengecekan pada Sabtu pagi, diketahui bahwa tebing batu kapur di belakang rumahnya longsor. Material longsoran tergolong besar karena berupa bongkahan batu dengan ukuran sekitar dua meter.
“Akibat longsor ini mengenai dinding rumah, dapur, dan kandang milik Doni. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini,” kata Suryanto kepada wartawan, Sabtu siang.
Menurut dia, peristiwa longsor tersebut telah dilaporkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul. Ia juga mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan.
“Kami sudah mengecek lokasi dan kondisinya memang ada beberapa kerusakan,” katanya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, mengatakan longsor tebing batu kapur di Giripanggung tidak hanya berdampak pada rumah Doni. Material longsoran juga merusak bak penampungan air milik Sugeng Haryanto sehingga korban terpaksa meminta air bersih kepada tetangga.
“Bak penampungan dibuat sebagai wadah air hujan karena korban tidak memiliki penampungan lain. Akibatnya, sekarang harus meminta air bersih dari tetangga,” katanya.
Korban ketiga dalam peristiwa ini adalah Suryani. Rumah miliknya terdampak pada bagian dapur sehingga aktivitas memasak tidak dapat dilakukan akibat kerusakan yang terjadi. BPBD Gunungkidul telah melakukan asesmen ke lokasi dan menyerahkan bantuan logistik untuk mendukung kerja bakti pembersihan material longsor.
“Ada tiga warga yang menjadi korban, tetapi tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Kerugian dari peristiwa ini diperkirakan mencapai Rp25 juta,” katanya.
Talut Ambrol di Purwosari
Cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir juga mengakibatkan talut ambrol di Padukuhan Gubar, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari. Pada Sabtu pagi dilaporkan talut dengan panjang sekitar dua meter dan tinggi sekitar lima meter mengalami kerusakan.
“Ini merupakan longsoran kedua karena pada 9 Januari lalu sudah terjadi talut ambrol pertama sepanjang tiga meter,” kata Edy.
Ia menjelaskan, ambrolnya talut tersebut berdampak pada terganggunya akses empat warga. Selain itu, terdapat potensi longsor susulan apabila hujan deras kembali terjadi.
“Rencananya akan dilakukan kerja bakti untuk perbaikan talut,” katanya.
Edy berharap dengan intensitas hujan yang terus meningkat, masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan, dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor. Kesiapsiagaan menjadi bagian penting dari mitigasi kebencanaan agar dampak yang ditimbulkan dapat ditekan sekecil mungkin.
“Harus berhati-hati karena ancaman tidak hanya longsor, tetapi juga angin kencang yang perlu diwaspadai,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul mendukung Gerakan Pelajar Jogja Santun dan Cinta Damai untuk mencegah kenakalan remaja dan kekerasan di sekolah.
Pemkot Semarang menginstruksikan OPD dan warga siaga penuh menghadapi kemarau ekstrem 2026 untuk mencegah kebakaran dan gangguan kesehatan.
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.
PDIP Kota Yogyakarta menanam 300 pohon, menggelar simulasi bencana, dan pelayanan kesehatan lansia saat pelantikan pengurus.
Samsung Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan fitur kesehatan berbasis AI untuk trail running, diving, dan pemantauan kebugaran harian.
Fenomena upwelling di Waduk Kedung Ombo Boyolali menyebabkan 10 ton ikan mati dan kerugian petani KJA mencapai Rp247 juta.