Advertisement

Gawat, Kasus Leptospirosis di Gunungkidul Melonjak! 4 Warga Jadi Korban

David Kurniawan
Minggu, 19 Juni 2022 - 09:27 WIB
Bhekti Suryani
Gawat, Kasus Leptospirosis di Gunungkidul Melonjak! 4 Warga Jadi Korban Ilustrasi leptospirosis, - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Kasus leptospirosis di Gunungkidul dalam tren peningkatan. Hingga pertengahan Juni sudah ada 22 kasus, empat warga di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

Jumlah ini merupakan yang tertinggi dalam rentang waktu lima tahun terakhir. Data dari Dinas Kesehataan Gunungkidul, sejak 2018-2021, dalam setahun kisarannya paling banyak terjadi tahun lalu dengan jumlah 17 kasus dan empat orang meninggal dunia.

Advertisement

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan,  tren kasus leptospirosis mengalami peningkatan. Menurut dia, selama turun hujan, penyakit ini masih bisa bertambah.

Hal ini sejalan dengan adanya fenomena kemarau basah sehingga masyarakat, khususnya warga yang bekerja di sektor pertanian agar lebih berhati-hati terhadap penyebaran penyakit ini. Terlebih lagi, media penularan menggunakan air yang diduga tercampur dengan air kencing tikus.

“Kalau masih hujan maka sangat berpotensi terjadi penularan,” kata Dewi, Minggu (19/6/2022).

Dia menjelaskan, hingga pertengahan tahun ini sudah ada 22 kasus. empat warga yang di antaranya terjangkit dinyatakan meninggal dunia. Adapun di 2021, hanya ada 17 kasus, dengan korban meninggal empat orang. “Tertinggi masih di 2017 dengan 64 kasus dan 17 orang meninggal dunia. Tap memang, sekarang ada tren kenaikan dan jumlah kasusnya masih bisa bertambah,” ungkapnya.

Untuk sebaran kasus, Dewi belum bisa memaparkan secara rinci. Meski demikian, warga yang terjangkit didominasi oleh petani. “Rincian kasus ada di bidang, saya tidak hafal. Yang jelas, kasus didominasi di wilayah pertanian,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan, belum menerima data dari dinas kesehatan berkaitan dengan korban leptospirosis yang didominasi oleh petani. Menurut dia, untuk mengetahui pasti penularan dibutuhkan kajian karena di berbagai tempat bisa menjadi sumber penyebaran penyakit.

BACA JUGA: Kronologi Meninggalnya 2 Suporter Persib di Laga Melawan Persebaya

Bisa saja di pasar, di rumah, sawarh atau tempat lain. Rasanya, masih butuh didalami,” katanya.

Meski demikian, Rismiyadi berkomitmen untuk berpartisipasi dalam penanggulangan. Salah satunya optimalisasi terhadap pengendalian hama tikus yang diduga menjadi sumber penyebaran leptospirosis.

“Berbagai langkah preventif kami lakukan. Mulai dari pengamatan hama di lapangan hingga pelepasliaran burung hantu Tyto Alba yang berfungsi untuk mengurangi populasi tikus di sawah,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

KPK Buka Opsi Penyidikan Dugaan TPPU Dana Hibah APBD Provinsi Jawa Timur

News
| Sabtu, 20 Juli 2024, 09:47 WIB

Advertisement

alt

Ini Dia Surganya Solo Traveler di Asia Tenggara

Wisata
| Kamis, 18 Juli 2024, 22:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement