Kasus DBD Terbanyak di Gunungkidul Ada di Ponjong, Capai 64 Kasus
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Ilustrasi leptospirosis./Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan sejak 2024 hingga pertengahan Mei 2025 tidak ada korban jiwa karena leptospirosis. Keberhasilan ini juga tak lepas adanya penurunan kasus penyakit yang sering disebabkan karena bakteri dari air kecing tikus.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Zoonosis, Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Yuyun Ika Pratiwi mengatakan, hingga pertengahan Mei 2025 tercatat ada delapan warga yang terjangkit leptospirosis. Meski demikian, dari kasus ini juga belum ada korban meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
BACA JUGA: Penanganan Kasus Leptospirosis di Nanggulan Kulonprogo Jadi Percontohan
“Masih aman terkendali karena tidak ada lonjakan” kata Yuyun, Rabu (21/5/2025).
Menurut dia, dari penyebaran ada tren penurunan. Sebagai contoh, pada 2022 tercatat ada 34 kasus, dengan kematian akibat leptospirosis sebanyak lima orang. Setahun berikutnya, tercatat ada 84 kasu dengan empat kematian.
Namun, sambung dia, di 2024 jumlah kasus menurung drastic karena hanya ditemukan 29 warga yang terjangkit penyakit yang sering disebabkan oleh air kencing tikus ini. “Tahun lalu juga tidak ada korban jiwa karena leptospirosis,” katanya.
Menurut Yuyun, turunnya kasus maupun angka fatalitas terjadi karena optimalisasi layanan di setiap puskesmas atau pelayanan kesehatan lainnya. Ia memastikan, seluruh fasilitas kesehatan yang ada (seluruh puskesmas dan rumah sakit) sudah bisa melakukan deteksi dini dan pengobatan secara langsung terhadap pasien suspek leptospirosis.
“Jadi dengan bisa penangnaan sejak awal, maka juga berdampak terhadap turunnya angka kematian. Alhamdulillah hingga sekarang belum ada korban jiwa karena leptospirosis,” katanya.
Meski demikian, Yuyun meminta setiap fasilitas kesehatan di Gunungkidul untuk meningkatkan awarenest terhadap gejala, tanda dan diagnosis leptospirosis. “Ini penting untuk bagian deteksi dini sehingga penangnaan bisa dilakukan cepat dan efektif,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono menambahkan pihaknya meminta kepada Masyarakat mewaspadai potensi penyebaran leptospirosis. Pasalnya, penyakit ini juga memiliki tren peningkatan kasus pada saat musim penghujan.
“Terpenting jaga kebersihan lingkungan serta hewan-hewan yang berpotensi menyebarkan penyakit ini seperti kucing dan anjing diberikan vaksin,” katanya.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, ia juga mengajak Masyarakat untuk gemar hidup sehat. Selain memenuhi makanan yang bergizi dan sehat, juga rutin melakukan olahraga guna menjaga vitalitas tubuh.
“Kalau sehat, maka potensi terserang penyakit akan berkurang. Jadi, pola hidup bersih dan sehat harus terus dijaga,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Jadwal KA Bandara YIA Selasa 29 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA lengkap di sini.
Delapan warga Sleman dari dua KK siap mengikuti transmigrasi 2026 ke Poso dan Polewali Mandar. Mereka tinggal menunggu jadwal pemberangkatan.
Jadwal SIM Kulonprogo hari ini, Selasa 29 September 2026, tersedia di MPP. Cek lokasi, jam layanan, syarat, dan ketentuan perpanjangan SIM.
John Herdman menyebut kartu merah Thom Haye saat Indonesia vs Malaysia menjadi pelajaran penting bagi skuad Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026.
Jadwal SIM Keliling Bantul September 2026 lengkap dengan lokasi, jam pelayanan, serta syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.