Advertisement

Dulu Diragukan, GeNose C19 UGM Kini Berkembang untuk Deteksi Penyakit Lain

Anisatul Umah
Sabtu, 27 Agustus 2022 - 20:07 WIB
Budi Cahyana
Dulu Diragukan, GeNose C19 UGM Kini Berkembang untuk Deteksi Penyakit Lain Konferensi pers update terbaru GeNose di UGM, Senin (22/8/2022). - Anisatul Umah/Harian Jogja

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Desember 2020 GeNose C19 alat pendeteksi Covid-19 buatan para ahli Universitas Gadjah Mada (UGM) mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan. Deteksi Covid-19 dengan GeNose C19 jadi salah satu opsi pemenuhan syarat perjalanan kala itu. Tak lama berselang, Juli 2021 penggunaan GeNose C19 dihentikan. Lalu seperti apa nasib GeNose C19 kini? Berikut laporan wartawan Harian Jogja Anisatul Umah.

Awal 2021 masyarakat antusias menggunakan layanan tes Covid-19 dengan GeNose C19 buatan UGM di Stasiun Gambir, Jakarta. Lokasi tes Covid-19 berada di sayap kanan dari pintu masuk stasiun. Masyarakat duduk di kursi layanan, menunggu dipanggil sesuai nomor antrean.

BACA JUGA: Kabar Gembira! Bulan Depan Trans Jogja Akan Diintegrasikan dengan KRL

Tes Covid-19 menggunakan GeNose C19 cukup nyaman. Orang yang akan dites hanya tidak makan, minum, dan merokok selama 30 menit sebelum dites, lalu meniupkan napas dari mulut ke kantong plastik yang sudah disediakan petugas. Kita tidak perlu merasakan sakit di colok seperti tes swab. Hasil GeNose C19 juga cepat keluar dalam 5-10 menit. Selain mudah dan cepat, ongkosnya juga murah, yakni Rp20.000, jauh lebih ekonomis daripada tarif rapid test antigen yang kala itu sekitar Rp100.000.

Namun pada pertengahan 2021, banyak pihak yang meragukan tes Covid-19 menggunakan GeNose C19. Hingga akhirnya pada Juli 2021 GeNose C19 dilarang untuk syarat perjalanan dan izin edarnya ditarik. Layanan tes Covid-19 menggunakan GeNose C19 di semua stasiun akhirnya tutup. Antigen kembali menjadi syarat perjalanan.

Setahun berselang, GeNose C19 yang sempat diragukan kini unjuk gigi. Tim GeNose C19 UGM mempublikasikan sebagian data riset GeNose C19 sebagai alat skrining Covid-19 di dua jurnal internasional prestisius tahun ini. Terbitnya jurnal GeNose C19 menandakan tes Covid-19 dengan volatile organic compound (VOC) nafas bisa diterima.

Dua jurnal tersebut yakni Artificial intelligence in Medicine (AIIM) yang merupakan jurnal Q1. Berjudul Hybrid learning method based on feature clustering and scoring for enhanced Covid-19 breath analysis by an electronic nose, terbit pada bulan Mei 2022. Kedua, Nature portfolio journal (npj) Digital Medicine, yang merupakan jurnal Q1. Berjudul Fast and noninvasive electronic nose for sniffing out Covid-19 based on exhaled breath-print recognition, terbit pada bulan Agustus 2022.

Dalam konferensi pers Update Terbaru GeNose di UGM, Senin (22/8/2022), Rektor UGM, Prof Ova Emilia yang juga mantan Dekan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) mengatakan dipublikasikannya GeNose C19 dalam dua jurnal internasional menjadi kabar gembira. "Identifikasi infeksi dengan VOC GeNose menggunakan sampel napas bisa diterima dan make sense," ucapnya.

Inventor GeNose, Prof. Kuwat Triyana mengatakan dengan terbitnya dua jurnal ini menandakan secara logika deteksi Covid-19 bisa dilakukan menggunakan napas berbasis big data dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) bisa diterima. Dia bercerita kala itu banyak ahli, akademisi, hingga masyarakat yang mempertanyakan mengapa publikasi GeNose tidak keluar dahulu. Muncullah kontroversi pemanfaatan GeNose ini.

Prof. Kuwat menyebut jika mengikuti alur normal hingga mendapatkan izin edar, butuh waktu lama. Sementara di tengah kondisi kedaruratan saat Covid-19 diperlukan inovasi yang cepat. Setelah melewati proses uji klinis, selanjutnya hasil uji klinis bisa diajukan langsung ke pendaftaran izin edar, sembari menunggu proses publikasi. Uji klinis dilakukan dengan evaluasi awal.

"Izin dan pemantauan ketat oleh regulator serta izin edar pun masih bersifat emergency use authorization yang kemudian perlu diperpanjang lagi," paparnya.

Advertisement

Saat ini, GeNose C19 dalam proses perpanjangan izin edar. Juga akan melebarkan sayap ke Malaysia, Singapura, Jepang, dan Kamboja, sambil terus dilakukan update berkala pada piranti lunak GeNose C19 ke versi terbaru 1.4.2 yang telah memiliki data base varian Omicron, B.A. 3 dan B.A 5. Jika hilirisasi GeNose C19 kala itu menggunakan alur normal, maka baru bisa dimanfaatkan pada 2022. Sementara kasus Covid-19 saat ini sudah mereda.

Hal senada juga disampaikan oleh inventor GeNose, Dian Kesumapramudya Nurputra. Menurutnya, saat pandemi Covid-19 di 2020 semua pihak tergagap-gagap. Semua berlangsung cepat, tidak ada satupun dokter atau peneliti siap. Juga tidak ada satupun sistem infrastruktur siap. Terkait penanganan Covid-19 semua pihak beradaptasi. Kala itu berbagai macam obat dan vaksin muncul.

"Apakah bisa lihat jurnalnya publikasinya? Tidak ada. Yang ada langsung implementasi langsung gunakan, tapi ada tanda petik, di situ ada regulasi ketat," jelasnya.

Advertisement

Publikasi jurnal akan di-review oleh tiga sampai empat juri ahli di seluruh dunia. Pemanfaatan GeNose ini sudah di-review oleh 12 ahli dari universitas di seluruh Indonesia. Berbekal legalitas, UGM mengedarkan alat ini dengan tetap menjalankan kewajiban publikasi. "Alhamdulillah dua jurnal ini saya ingin nyuwun sewu sedikit berbangga, gak bangga-bangga banget. Di dua jurnal prestisius yang mana semua author adalah orang Indonesia," ucapnya.

Deteksi Penyakit Lain

GeNose C19 ke depan tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk tes Covid-19, tetapi dikembangkan untuk mendeteksi empat penyakit lainnya. Di antaranya deteksi kanker serviks melalui sampel urin pasien pengembangannya akan menggunakan dana internal UGM. Lalu deteksi tuberculosis (TB) melalui sampel nafas pasien menggunakan dana hibah Matching Fund dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek). Deteksi sepsis pada neonates melalui sampel feses pasien, pendanaan diusulkan ke BRIN/LPDP. Terakhir deteksi jenis bakteri pada ulkus diabetikum menggunakan dana internal UGM.

Kelak, software AI dari GeNose C19 akan ditambahkan ke dalam sistem yang ada saat ini. sehingga GeNose C19 bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit lain dengan sedikit penyesuaian serta modifikasi pada bagian sampling-nya. Berbeda dengan pengujian Covid-19 yang kala itu hilirisasinya dipercepat, deteksi penyakit lain akan mengikuti alur normal. Publikasi terlebih dahulu di jurnal internasional bereputasi, baru izin edar dari Kementrian Kesehatan.

"Produksi GeNose sudah kami hentikan, sudah ada ribuan GeNose di masyarakat termasuk di Kementerian Perhubungan, di PT KAI paling banyak. Kami coba fungsionalisasi GeNose ini dijadikan alat diagnostik yang lain," ungka Kuwat Triyana.

Rektor UGM Ova Emilia menyampaikan salah satu kesulitan mendeteksi kanker serviks karena menggunakan getah di dalam vagina. Di mana dari sisi perempuan mereka tidak suka, malu, takut dan lainnya, sehingga membuat orang enggan melakukan skrining. "Orang pada sembunyi karena tidak suka dengan caranya, ini kami mencari cara di mana menggunakan air seni, kan nggak usah diperiksa-periksa lagi," ucapnya.

Advertisement

BACA JUGA: Pemeriksaan Disetop, Istri Ferdy Sambo Tidak Ditahan

Deteksi kanker serviks dengan air seni akan menjadi lebih mudah, cepat, dan murah. Melalui terobosan ini diharapkan membuat skrining kanker serviks bisa dilakukan di layanan primer.

"Tidak perlu cek pemeriksaan lebih tinggi, hanya kasus-kasus yang mungkin perlu rujukan dan perlu konfirmasi. Akan sangat bermanfaat pembuatan GeNose untuk deteksi kanker serviks," ungkapnya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Pemerintah Bentuk Tim Gabungan Pencari Fakta untuk Tragedi Stadion Kanjuruhan

News
| Senin, 03 Oktober 2022, 12:17 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement