Skrining TBC Gunungkidul Belum Optimal, Kesadaran Warga Jadi Kendala
Skrining TBC di Gunungkidul baru menemukan 411 kasus dari target 1.148 hingga Agustus 2026. Kesadaran warga menjadi salah satu kendala.
Suasana kawasan Pantai Gesing di Desa Girikarto, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Jumat (14/12/2018)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, Gunungkidul – Tingkat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Gunungkidul mulai meningkat. Meski demikian, Dinas Pariwisata (Dispar) mengakui sejauh ini jumlah wisman yang datang baru 10% dari total kunjungan yang ada.
Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, Muhammad Arif Aldian mengatakan, kunjungan wisman ke Gunungkidul terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Meski demikian, dia tidak menyebutkan secara rinci berkaitan dengan jumlah kunjungan yang datang. “Ada peningkatan dan sekarang sudah lumayan karena ada peningkatan,” katanya.
Menurut dia, kunjungan wisman sangat bervariasi. Sebagai contoh, tamu-tamu dari Hungaria lebih senang berkunjung ke kawasan desa wisata. Hal berbeda ditunjukkan wisman dari Rusia yang lebih menyukai pesona pantai. “Jadi memang memiliki segmentasi sendiri-sendiri. Tidak bisa disamakan antara turis satu negara dengan negara lainnya,” katanya.
BACA JUGA: Ada Rencana Kenaikan Harga, SPBU di Gunungkidul Diserbu Warga, Antrean Mengular
Meski ada kenaikan, Aldian mengakui jumlahnya belum signifikan. Pasalnya, menurut dia, kunjungan masih didominasi wisatawan dalam negeri. “Ya kalau persentasenya masih 10 persen turis mancanegara. Sedangakan 90 persen lainnya berasal dari wisatawan dalam negeri,” katanya.
Sebagai gambaran hingga awal Augustus sudah ada kunjungan wisata ke Gunungkidul sebanyak 2.010.266 pengunjung. Adapun pemkab tahun ini menargetkan kunjungan sebanyak 3.770.920 orang. “Kami akan terus berusaha agar target kunjungan maupun pendapatan di tahun ini bisa terpenuhi,” katanya.
Anggota DPRD Gunungkidul, Sumaryanta mengatakan, mimpi wisata Gunungkidul menuju tingkat dunia seperti yang didengung-dengungkan bupati masih belum terlihat.
Hal ini bisa berdasar pada tingkat kunjungan yang masih didominasi oleh wisatawan lokal. Sedangkan dari sisi infrastruktur juga butuh banyak perbaikan karena akses wisata masih banyak dikeluhkan karena kondisinya rusak.
Maryanta tidak menampik pariwisata menjadi salah satu sektor penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar di Gunungkidul. meski demikian, pendapatan masuk belum sebading terkait dengan pembangunan di sektor pariwisata yang dinilai masih kurang.
“Ini belum bicara infrastruktur pendukung lainnya. Untuk jalan menuju wisata masih banyak yang rusak. Harusnya, dengan besaran PAD ini ada imbal balik untuk pembangunan berkaitan dengan sektor kepariwisataan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Skrining TBC di Gunungkidul baru menemukan 411 kasus dari target 1.148 hingga Agustus 2026. Kesadaran warga menjadi salah satu kendala.
Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 26 September 2026 dari Palur menuju Jogja/Tugu tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkapnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 26 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Subsidi BBM dan LPG 3 kg 2027 turun Rp11,4 triliun. DPR menyoroti data penerima subsidi dan tingginya exclusion error pemerintah.
Wapres Gibran meminta pendataan warga terdampak banjir bandang Solok dipercepat untuk penanganan dan penataan permukiman.
Pertumbuhan anak perempuan yang lambat perlu dipantau. Kenali faktor penyebab perawakan pendek dan risiko gangguan kromosom.