Panen Singkong Gunungkidul Capai 22 Ton per Hektare
Panen singkong mulai berlangsung di Gunungkidul dengan produktivitas mencapai 22 ton per hektare. Hasil penjualan gaplek menjadi penopang ekonomi warga di tenga
Ilustrasi./Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dikeluhkan oleh para tenaga honorer di Gunungkidul.
Mereka yang tergabung dalam Forum Honorer Sekolah Negeri (FHSN) Gunungkidul menilai kenaikan harga BBM tersebut seolah menjadi pukulan ganda di tengah ketidakpastian nasib mereka lantaran gaji yang rendah dan kebijakan penghapusan tenaga honorer.
Ketua Forum Honorer Sekolah Negeri (FHSN) Gunungkidul, Aris Wijayanto mengatakan dampak kenaikan BBM akan sangat terasa bagi para tenaga honorer.
BACA JUGA: Ratusan Peserta Ikuti Audisi Panduan Suara Gereja di Gunungkidul
Kenaikan BBM itu, memperparah kondisi para tenaga honorer, terlebih pendapatan para tenaga honorer sejauh ini memang masih sangat minim dan jauh dari sejahtera. Sedangkan dengan kenaikan BBM akan memberikan efek domino karena sektor lainnya juga ikut naik.
"Bagi teman-teman honorer akan semakin sulit mengatur keuangannya. Pendapatannya kecil, tapi harus mencukupi kebuthnan sehari-hari termasuk membeli BBM,” katanya.
Menurut Aris, kondisi ini menjadi pukulan ganda karena juga ada kebijakan penghapusan tenaga honorer oleh Pusat. Dia berharap ada solusi yang tepat bagi honorer berkaitan dengan kejelasan status maupun kesejahteraannya.
Dia menambahkan, pemerintah perlu membuat kajian hingga pendataan terhadap seluruh tenaga honorer. Pendataan ini sangat dibutuhkan dalam upaya pengambilan kebijakan yang bisa tepat sasaran.
“Kami minta kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib para honorer. Sedangan bagi teman-teman honorer tetap bersatu dan berjuang di masa-masa sulit seperti sekarang. Sebab dengan bersatu maka aspirasi yang disuarakan akan lebih didengar,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Panen singkong mulai berlangsung di Gunungkidul dengan produktivitas mencapai 22 ton per hektare. Hasil penjualan gaplek menjadi penopang ekonomi warga di tenga
BRI Peduli menggelar kegiatan edukatif Hari Anak Nasional 2026 di enam sekolah penerima Program Ini Sekolahku.
Utang pemerintah melalui SBN mencapai Rp501,2 triliun hingga Juni 2026 atau 62,7% dari target APBN 2026.
Tiga remaja di Sragen menjadi korban curanmor bermodus mengaku petugas Banpol. Pelaku membawa kabur sepeda motor dan ponsel korban.
Kebakaran melanda Pasar Modern BSB Semarang. Diduga dipicu kebocoran tabung gas di warung soto, sebanyak 179 kios terdampak.
Cuaca ekstrem dan angin kencang membuat hasil tangkapan nelayan di pesisir selatan Gunungkidul turun hingga separuh dalam beberapa hari terakhir.