Libur Lebaran Restoran di Kulonprogo Sempat Penuh, Tak Seramai Tahun Lalu
Sejumlah restoran di Kulonprogo sempat dipenuhi pengunjung saat libur lebaran ini.
Suasana simulasi bencana yang dilakukan BPBD Jogja di SDN Gambiran./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jogja membentuk Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di delapan sekolah. Prioritas pembentukan SPAB didasari kerentanan bencana di lingkungan sekolah dan bencana sebelumnya.
Delapan sekolah tersebut meliputi empat SD dan empat SMP, dengan komposisi tiap jenjang terdiri dari dua sekolah negeri dan dua sekolah swasta. Edukasi hingga penambahan perlengkapan menjadi program utama SPAB. Kepala BPBD Jogja Nur Hidayat menjelaskan SPAB adalah program nasional. “Targetnya nanti semua SD dan SMP di Jogja berstatus SPAB,” katanya, Senin (10/10/2022).
Nur menjelaskan program SPAB meliputi manajemen dasar dalam menghadapi bencana, mitigasi bencana, dan proyeksi jalur evakuasi. “Bentuk edukasi pada siswanya kami lakukan dari pemaparan materi, simulasi bencana, hingga tes untuk mengetahui seberapa paham siswa,” jelasnya.
Pemilihan delapan sekolah yang mengikuti SPAB, jelas Nur, berdasarkan indikator kerawanan bencana. “Tentu kami koordinasi dengan dinas pendidikan, beberapa sekolah sebelumnya pernah mengalami bencana,” ujarnya.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jogja, Bayu Wijayanto mencontohkan sebuah SD yang dekat dengan Sungai Gajahwong. “Sehingga kami pilih jadi SPAB, sebelumnya SD tersebut pernah kebanjiran,” katanya, Senin siang.
Tak hanya edukasi, lanjut Bayu, SPAB juga membantu sekolah untuk melengkapi sarana mitigasi bencana. “Kami bantu rancang bikin peta kebencanaan di sekolah, termasuk jalur evakuasi, dan memberikan rekomendasi peralatan lain yang dibutuhkan,” jelasnya.
BACA JUGA: Kasatpol PP Kota Jogja Meninggal Dunia, Jogja Kehilangan ASN Terbaik
Pengadaan sarana mitigasi bencana di sekolah, jelas Bayu, dilakukan oleh sekolah. “Nanti mereka mengajukan anggaran belanja sendiri, jadi mereka yang mengerjakan,” ujarnya.
Selain sekolah yang berperan aktif menanggulangi bencana, Bayu juga berharap ada peran aktif dari orang tua siswa. “Sekolah sudah paham, begitu juga anak-anak, kami berharap orang tua juga turut aktif, misalnya dengan mulai memikirkan mitigasi penjemputan anak kalau bencana terjadi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sejumlah restoran di Kulonprogo sempat dipenuhi pengunjung saat libur lebaran ini.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.