Advertisement

Belum Setahun, 42 Kebakaran Terjadi di Gunungkidul

David Kurniawan
Kamis, 20 Oktober 2022 - 16:27 WIB
Bhekti Suryani
Belum Setahun, 42 Kebakaran Terjadi di Gunungkidul Ilustrasi. - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Gunungkidul mencatat hingga akhir Oktober ada peristiwa kebakaran sebanyak 42 kasus. Masyarakat diminta mewaspadai potensi kebakaran, salah satunya memastikan tungku perapian dimatikan pada saat selesai beraktivitas.

Kepala UPT Pemadam Kebakaran Gunungkidul, Handoko mengatakan, kebakaran terakhir terjadi di Dusun Jelok, Pacarejo, Semanu. Rumah milik Sutarto,39 ludes terbakar dilahap si jago merah.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

“Kejadiannya sekitar Kamis dini hari sekitar pukul 03.00 WIB,” kata Handoko kepada wartawan, Kamis (20/10/2022) siang.

Menurut dia, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, karena pemilik bersama keluarganya sedang bertamu ke saudara. Meski demikian, akibat peristiwa ini Sutarto mengalami kerugian sekitar Rp75 juta.

“Bangunannya rata dengan tanah,” katanya.

Handoko menambahkan, peristiwa kebakaran di Dusun Jelok hanya salah satu kasus yang terjadi. Pasalnya, sejak awal Januari hingga akhir Oktober ini tercatat ada 42 kejadian.

Ia mengakui, dari jumlah tersebut, petugas pemadam kebakaran berhasil menangani sebanyak 29 kasus. Adapun 13 kasus lainnya ditangani oleh sukarelawan dengan bantuan warga di sekitar terjadinya kebakaran.

“Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran di Gunungkidul,” katanya.

Advertisement

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Bagian Tata Usaha (TU), UPT Pemadam Kebakaran Gunungkidul, Ngadiyono. Menurut dia, dampak kebakaran yang terjadi hanya menimbulkan korban material.

BACA JUGA: 2 Balita di Bantul Meninggal karena Gagal Ginjal, Pemkab Terjunkan Tim

Total dari 42 peristiwa ini menimbulkan kerugian sekitar Rp1,886 miliar. “Mayoritas kebakaran terjadi apda rumah. Tapi ada juga yang menimpa kandang, maupun pabrik milik warga,” katanya.

Advertisement

Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, peristiwa kebakaran banyak disebabkan karena tungku atau perapian sebanyak 21 kasus. Adapun 21 kasus lainnya terjadi karena beberapa macam seperti hubungan arus pendek listrik hingga mesin pemanas yang mengalami kerusakan.

Dia berharap kepada masyarakat untuk terus waspada akan potensi kebakaran. Meski telah memasuki musim hujan, namun tak lantas bahaya menghilang karena bisa terjadi dimana dan kapan pun saja.

Salah satu upaya antisipasi kebakaran dapat dilakukan dengan mengecek secara instalasi listrik secara berkala. Pemakaian kabel instalsai sesuai standar nasional Indonesia.

Selain itu, juga ada upaya memastikan mematikan tungku perapian pada saat selesai beraktivitas. “Tungku perapian jangan dibiarkan menyala pada saat ditinggal karena bisa memicu terjadinya kebakaran,” katanya. 

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Awan Panas Semeru Masih Keluar, BPBD Lumajang Tetapkan Masa Tanggap Darurat 14 Hari

News
| Senin, 05 Desember 2022, 22:07 WIB

Advertisement

alt

Jangan Sampai Salah, Hotel 26 Lantai di China Ini Khusus untuk Babi

Wisata
| Minggu, 04 Desember 2022, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement