Top Ten News Harianjogja.com Edisi Senin 21 September 2026
Top Ten News Harianjogja.com Senin 21 September 2026 membahas MBG, kesehatan, sampah, pupuk, harga emas, olahraga hingga KAI.
Foto ilustrasi. /Antara Foto
Harianjogja.com, JOGJA— Peta kawasan rawan gempa di wilayah DIY diperkirakan akan meluas seiring belum dipetakannya tiga sesar aktif yang menjadi salah satu pemicu terjadinya gempa.
BPBD DIY menyatakan masukan dari pakar terkait dengan potensi ketiga sesar tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan kebijakan ke depan.
Kepala BPBD DIY Biwara Yuswantana menyatakan indikasi tiga sesar seperti Progo, Dengkeng dan Oya memang relatif baru. Akan tetapi Pemda DIY belum mendapatkan data detail terkait dengan potensi dampak dari ketiga sesar baru ini. Karena relatif baru, ketiganya memang belum dipetakan titik rawan bencana gempa yang terdampak langsung sesar Progo, Dengkeng dan Oya.
Masukan dari pakar terkait indikasi ketiga sesar aktif ini tentu akan menjadi pertimbangan untuk melakukan review terhadap penetapan kawasan rawan gempa.
BACA JUGA : Ini Daerah Rawan Gempa Bumi di DIY Menurut Pakar Geologi
“Itu kan termasuk data baru [dari pakar UGM], sudah pernah disampaikan juga ke kami, tentu akan menjadi bahan mereview atau mengkaji kembali terhadap kawasan rawan bencana [gempa] yang ada tentu dengan indikator yang lain,” katanya kepada Harianjogja.com, Kamis (24/11/2022).
Saat ini pemetaan yang sudah dilakukan baru pada sesar Opak karena dampaknya sudah jelas yaitu gempa parah yang terjadi pada 2006 silam. Selanjutnya kawasan rawan gempa telah ditetapkan sebanyak 27 kecamatan di DIY yang terdampak langsung terdampak langsung sesar opak.
Biwara mengatakan belum dipetakannya ketiga sesar ini karena kajian yang dilakukan pakar terus berkembang hingga menemukan adanya indikasi ketiga sesar tersebut. Selain itu setiap sesar tentu berbeda potensi ancamannya, sehingga Pemda DIY belum menggali lebih dalam terkait potensi ancaman dampak dari ketiga sesar ini. Saat ini yang sudah jelas dampak ancamannya besar adalah sesar Opak karena sudah pernah terjadi gempa 2006.
BACA JUGA : Ada Sesar Retak Seribu di Kali Ngalang Gunungkidul
“Yang jelas ketika ada temuan dari hasil kajian tentu regulasinya akan menyesuaikan. Apa yang perlu kami respons tindaklanjuti dari sisi mitigasi kami siap diberi masukan,” ucapnya.
Ia menambahkan kawasan rawan gempa yang sudah dipetakan di Perda RTRW memang masih berdasarkan sesar opak dan pengalaman saat gempa 2006. Sehingga sesar Progo, Dengkeng dan Oya memang belum dipetakan sama sekali. Ketika tiga sesar aktif yang baru terindikasi ini menjadi pertimbangan tambahan dalam mereview kawasan rawan gempa, maka diperkirakan akan meluas kawasan rawan tersebut. Akan tetapi harus dilihat lebih detail terkait potensi ancamannya.
“Tentu, kalau potensi ancaman [gempa] di DIY untuk bertambah bisa saja, atau mungkin bergeser bisa saja. Tetapi yang perlu menjadi perhatian juga alasannya mengapa bergeser dan juga seberapa besar ancamannya,” katanya.
Biwara menyatakan warga yang tinggal di sekitar ketiga kawasan sesar tersebut memang harus meningkatkan kesiapsiagaan. Karena hakekatnya kesiapsiagaan itu harus disiapkan untuk seluruh masyarakat DIY mengingat gempa merupakan bencana yang tidak bisa diprediksikan kapan akan terjadi. “Apalagi kalau bicara waktu tidak bisa diperkirakan, kalau potensi ancaman mungkin masih bisa diperkirakan. Maka memang semua harus siap siaga,” ucapnya.
Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji menyatakan pasca gempa 2006 sebenarnya DIY semua wilayah lebih waspada dan siap siaga mengantisipasi bencana gempa. Hal ini sudah disosialisasikan hampir di semua kalurahan di DIY. Salah satunya terkait dengan konstruksi bangunan yang ramah terhadap gempa.
“Salah satunya terkait konstruksi yang terstandar, kemudian bagian atap saat ini lebih banyak pakai yang ringan. Jadi DIY ini memang rawan bencana tidak hanya gempa tetapi hampir semua ada seperti angin, banjir, tanah longsor,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Top Ten News Harianjogja.com Senin 21 September 2026 membahas MBG, kesehatan, sampah, pupuk, harga emas, olahraga hingga KAI.
Serangan monyet ekor panjang kembali mengganggu lahan pertanian di Dlingo, Bantul saat kemarau. Petani memasang jaring untuk melindungi tanaman.
Qualcomm resmi meluncurkan Snapdragon 8 Elite Gen 6 dan Extreme Gen 6. Chip 2nm dengan CPU Oryon 5,0 GHz, GPU Adreno baru, dan AI agentic.
Cari mobil keluarga unik? Simak 10 rekomendasi mobil wagon bekas di Indonesia, dari Mazda Vantrend hingga Mercedes-Benz Estate. Harga mulai Rp25 jutaan.
PSIM Jogja baru meraih satu poin dari tiga laga. Jean-Paul Van Gastel menilai jeda FIFA Matchday bisa menjadi momentum pembenahan tim.
MotoGP pastikan GP Valencia di Circuit Ricardo Tormo jadi seri penutup musim 2027. Kalender lengkap MotoGP 2027 akan diumumkan Jumat, 25 September.