Advertisement

Hadapi Tahun Politik, Anak Muda Diharapkan Pilah-Pilih Informasi untuk Hadapi Politik Identitas

Stefani Yulindriani Ria S. R
Selasa, 13 Desember 2022 - 20:07 WIB
Budi Cahyana
Hadapi Tahun Politik, Anak Muda Diharapkan Pilah-Pilih Informasi untuk Hadapi Politik Identitas Tangkapan layar talkshow bertajuk Tahun Politik yang Bebas Isu Primordial, Selasa (13/12/2022). - Harian Jogja

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Arus informasi di era digital membuat banyak informasi ditangkap masyarakat, baik yang dapat dipercaya maupun tidak. Walhasil, beberapa informasi dapat membawa isu terkait politik identitas.

Anak muda diharapkan dapat memilah informasi yang dapat dipercaya. Wakil Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Yogyakarta, Agung Purwandono, mengatakan politik identitas akan selalu ada di tahun politik. Menurutnya, masyarakat, terutama anak muda, harus bersiap menghadapinya, salah satunya dengan edukasi literasi digital.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

“Saat ini informasi begitu besar, tapi masyarakat tidak tahu mana yang dapat dipercaya,” kata Agung, dalam talkshow bertajuk Tahun Politik yang Bebas Isu Primordial, Selasa (13/12/2022).

Agung mengatakan pada 2019 AMSI memiliki program debunking untuk menyanggah hoaks. Tahun ini, AMSI mengampanyekan prebunking atau menangkal serta meminimalkan persebaran hoaks. Program tersebut dapat membantu anak muda mengenali informasi.

Menurut Agung, media harus dapat menyesuaikan konten yang disajikan dengan pembaca. “Informasi harus tersebar melalui banyak kanal, harus multiplatform,” katanya.

Langkah tersebut harus dilakukan, agar pesan media sampai pada anak muda.

Agung mengatakan saat ini anak muda telah memiliki kemampuan memilah dan memilih informasi. “Jangan terburu-buru menyebarkan informasi,” katanya.

Anggota Komisi D DPRD DIY, Stevanus C. Handoko, mengharapkan masyarakat terlibat menghindari politik identitas yang disebarkan menggunakan hoaks.

“Di media sosial, sekarang setiap orang bisa bersuara, saya berharap setiap orang bergerak ke arah yang sama, ke arus yang sama untuk menyuarakan bahwa politik identitas sudah tidak boleh dilakukan,” katanya.

“Kita harus pintar memilah dan memilih informasi, crosscheck informasi, dan mengisi ruang digital dengan konten positif. Mengisi ruang publik digital dengan konten yang meng-counter politik identitas.”

BACA JUGA: Layanan Angkutan Umum DIY Jadi Percontohan Nasional, Kok Bisa?

Ketua BEM UGM, Muhammad Khalid, mengatakan politik identitas di kalangan anak muda dapat dicegah dengan gagasan. “Gagasan dan arus globalisasi meretas batas antara kita [anak muda], harapannya, anak muda sekarang tidak membedakan suku, agama. Itu [gagasan dan arus globalisasi] mendorong inklusivitas,” kata Khalid.

Khalid berharap media dapat objektif untuk memberitakan informasi terkait pemilu. “Kalau tidak bisa netral [media] setidaknya objektif, fakta yang ada. Kita sebagai masyarakat juga berhak untuk memberikan data itu, karena media mungkin tidak dapat bisa menjangkau semuanya. Masyarakat dan media saling check dan balance dalam memberikan media, konten, yang berkualitas,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Begini Penyebab Parahnya Gempa Bumi di Turki dan Suriah

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 18:37 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Kampung Batik Giriloyo yang Sempat Terpuruk Karena Gempa 2006

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 13:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement