Advertisement

Melestarikan Masa Lalu dalam Adonan Kolmbeng

Sirojul Khafid
Sabtu, 17 Desember 2022 - 12:47 WIB
Arief Junianto
Melestarikan Masa Lalu dalam Adonan Kolmbeng Cipto Diono. - Harian Jogja/Sirojul Khafid

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO — Pembuat roti tradisional kolmbeng kini hanya tersisa tiga orang di DIY. Itu pun satu keluarga. Itulah sebabnya, bagi Cipto Diono, mempertahankan usaha ini sama halnya dengan mempertahankan adat dan tradisi.

Dalam menjalani pekerjaan, mungkin ada dua tipe manusia secara garis besar. Satu yang sering berpindah pekerjaan, sedangkan yang lainnya yang tetap konsisten menekuni satu jenis pekerjaan.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Cipto Diono mungkin masuk di tipe yang kedua. Selama 60 tahun lamanya dia bekerja sebagai pembuat roti kolmbeng. Dia mengawali karirnya sejak umur 20 tahun.

Kembali sekitar 1962, Cipto perlu sedikit merantau dari kediamannya di Kulonprogo menuju Kota Jogja.

Saat itu, dia masih bekerja untuk salah satu juragan kolmbeng di Jogja. Sekali dalam sepekan, Cipto pulang ke Kulonprogo menggunakan sepeda kayuh.

Kala itu masih banyak juragan kolmbeng lantaran memang secara permintaan cukup banyak. Jenis roti tradisional ini umumnya tersedia di acara-acara masyarakat seperti pengajian, selapanan, dan lainnya.

Menjadi buruh roti kolmbeng dilakoni Cipto selama 38 tahun. Saat permintaan roti kolmbeng mulai turun, juragan Cipto memilih untuk menutup usahanya. Tidak hanya tempat bekerja Cipto, beberapa juragan kolmbeng di sekitarnya juga gulung tikar.

“Kemudian saya memulai usaha pembuatan roti kolmbeng secara mandiri pada 2000,” kata Cipto.

BACA JUGA: Pansus Rumuskan Rekomendasi Peningkatan PBBP2 dan BPHTB

“Dulu saya membuat roti mulai dari adonan sampai pembungkusan, jadi udah lumayan tahu prosesnya,” imbuhnya.

Puluhan tahun bekerja membuat Cipto sudah paham betul adonan sampai proses produksi roti kolmbeng. Segala pengetahun ini menjadi modal penting dalam mengembangkan usahanya. Kini dia tidak perlu lagi sepekan sekali pulang-pergi Kulonprogo-Jogja. Dia membuka usahanya di rumah, dekat dengan keluarga dan saudara.

Bagi Cipto, mempertahankan produksi kolmbeng tak ubahnya merawat warisan leluhur. Seakan harus tetap ada orang yang mengambil bagian ini.

Resep serta simbol roti kolmbeng dalam ruang di masyarakat menjadi salah satu penanda hubungan nenek moyang dengan generasi penerus. Bagi beberapa kalangan, kehadiran roti kolmbeng dalam acara masyarakat menjadi bagian tak terpisahkan.

Untuk mengupayakan keberlangsungan ini, Cipto memilih tetap konsisten menjadi produsen roti kolmbeng. Sudah banyak produsen kolmbeng yang berguguran.

“Saat ini produsen roti kolmbeng cuma tiga. Tinggal saya, dan kedua anak saya. Total hanya tiga orang di DIY ini,” katanya.

BACA JUGA: Mengenal Pendekar Roti Kolmbeng Terakhir di Jogja

Alat Produksi

Tidak hanya mempertahankan keberadaan roti kolmbeng, Cipto juga berupaya mempertahankan cita rasa autentiknya. Sejak awal membuka usaha, alat dan cara memasak kolmbeng masih sama. Alat-alat utama masih tradisional.

Alat produksi dan rasa rotinya memang masih sama, tetapi ada yang berbeda, yaitu jumlah produksinya.

Proses pembuatan roti kolmbeng./Harian Jogja-Sirojul Khafid

Meski masih banyak masyarakat yang mencari roti kolmbeng, tetapi secara kuantitas cenderung menurun dari tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu waktu awal-awal produksi sendiri, sehari bisa nyetak 5.000-6.000 roti. Sekarang sehari cuma sekitar 1.800 roti. Jumlah produksi roti kolmbeng disesuaikan dengan prediksi kebutuhan di pasar,” kata Cipto.

Tidak hanya dari sisi produksi, penurunan juga terhadap para penjual roti kolmbeng di pasar. Dalam pemasarannya, selain menjual secara langsung kepada konsumen, Cipto juga mendistribusikan produknya pada beberapa pedagang di pasar.

Dengan harga Rp1.000 per kolmbeng, apabila pedagang tidak mengambil langsung ke rumah, maka Cipto yang akan mengantarkannya. Saat ini, dia mengirim ke satu pedagang di Pasar Beringharjo, satu di Pasar Bantul, dan tiga di Pasar Imogiri.

“Dulu banyak, sekarang pedagang kolmbeng yang saya antar di Pasar Beringharjo tinggal satu orang. Namanya Nyahlan, tokonya di sebelah Masjid Mustaqim, di sebelah Timur ada pintu masuk, nah pas di pojokan,” katanya.

Sekali mengantar ke satu pedagang, Cipto bisa membawa 300-400 roti. Kiriman selanjutnya akan berlangsung tiga hari ke depan. Jumlah ini berbeda dengan kiriman awal-awal usaha Cipto berdiri. Dulu sekali kirim bisa 1.000 roti ke satu pedagang.

Membandingkan masa sekarang dengan dahulu memang tidak bisa secara kasat mata. Mungkin keberadaan dan kepopuleran roti kolmbeng dianggap menurun, tetapi masih bertahannya jajanan ini juga perjalanan yang layak dirayakan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

2023, DPUPKP Bantul akan Aspal 39 Ruas Jalan

News
| Rabu, 08 Februari 2023, 10:17 WIB

Advertisement

alt

Meski Ada Gempa, Minat Masyarakat ke Turki Tak Surut

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 22:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement