Festival Mencekam di Toledo, Penembakan Tambah Deret Kasus AS
Penembakan dekat festival di Toledo melukai warga. Sepanjang 2026, kasus serupa di AS sudah ratusan dengan ratusan korban.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Real Estat Indonesia (REI) DIY mengusulkan agar pemerintah menghapus sejumlah pajak terkait kepemilikan dan pembangunan rumah untuk warga berpenghasilan rendah di Jogja.
REI mengusulkan sejumlah hal untuk mewujudkan rumah layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di wilayah DIY. Hingga kini, pemenuhan rumah bagi kalangan MBR di DIY serapannya sangat rendah.
Ketua REI DIY Ilham Muhammad Nur berdasarkan hasil Rapat Kerja Daerah (Rakerda) REI DIY yang digelar 18-19 Desember lalu ada sejumlah poin yang dihasilkan. Salah satunya, REI DIY akan memperkuat sinergi dengan seluruh lembaga baik dengan pemangku kebijakan (pemerintah), akademisi, media dan pihak lainnya untuk memenuhi kebutuhan hunian layak dan berkualitas di wilayah DIY.
"Kami juga mengusulkan beberapa poin agar bagaimana untuk memenuhi kebutuhan dan penyerapan MBR karena angka backlog-nya sangat tinggi di DIY, sekitar 250.000 unit," katanya kepada Harianjogja.com, Rabu (21/12/2022).
Untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah bagi kalangan MBR di wilayah DIY, lanjut Ilham, harus dibahas dengan seluruh pemangku kepentingan. Pasalnya harga tanah di DIY sangat tinggi sehingga kondisi tersebut menghambat pemenuhan rumah bagi kalangan MBR.
BACA JUGA: Susahnya Buruh Murah Punya Rumah di Jogja
"Kalau ini hanya diserahkan kepada pengembang, kami harus mengatakan kami angkat tangan karena harga dasar tanah yang menjadi komponen utama unit rumah, HPP nya sudah di atas 40 persen," katanya.
Selain itu, lanjut Ilham, REI DIY juga mengusulkan kepada pemerintah agar pungutan atau biaya atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan (BPHTB) yang selama ini ditanggung oleh pembeli diminta dihapus. Alasan Ilham, bea BPHTB ini dinilai memberatkan kalangan MBR.
"Rumah sederhana subsidi itu harganya kan Rp155 juta, belum biaya BPHTB yang nilainya 5 persen dari harga, ya sekitar Rp7 jutaan. Kalau biaya BPHTB dihilangkan kan bisa meringankan MBR," katanya.
Hal lain yang diusulkan dari REI DIY agar negara berpihak pada kalangan MBR, kata Ilham, adalah membebaskan PPN rumah sederhana. Alasannya, berdasarkan PP 16/2021 kategori rumah sederhana itu tiga kali harga yang diatur oleh pemerintah.
"Kalau harga rumah sederhana yang diatur pemerintah kan Rp150 juta, maka harga rumah sederhana non subsidi Rp450 juta. Kami usulkan PPNnya dihapus agar membantu kalangan MBR," katanya.
Usulan penghapusan PPN untuk rumah sederhana, lanjut Ilham, bukan tanpa alasan. Jika tidak ada unit yang dibangun dengan fasilitas rumah susbidi dari pemerintah di wilayah DIY, maka kalangan MBR masih bisa membeli rumah sederhana dengan harga terjangkau.
"Kalau PPN rumah sederhana 11 persen dihapus, maka akan mengurangi biaya pembelian rumah. Misalnya harganya Rp400 juta bisa berkurang Rp40 jutaan, itu sangat signifikan. Atau harga yang Rp250 jutaan tanpa PPN bisa dijual Rp225 juta. Ini bisa lebih mudah diserap MBR," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penembakan dekat festival di Toledo melukai warga. Sepanjang 2026, kasus serupa di AS sudah ratusan dengan ratusan korban.
Peredaran miras ilegal di Bantul beralih ke sistem COD. Polisi membongkar modus baru dan menangkap dua pelaku dalam operasi penyamaran.
Presiden Prabowo menyebut Indonesia kehilangan lebih dari US$900 miliar akibat praktik under-invoicing yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Rupiah melemah ke Rp18.107 per dolar AS akibat penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan memanasnya konflik Timur Tengah.
OpenAI merilis Lockdown Mode di ChatGPT untuk mengurangi risiko kebocoran data akibat serangan prompt injection dan ancaman siber berbasis AI.
Kota Tarakan masuk status waspada tsunami setelah gempa magnitudo 7,7 di Mindanao, Filipina. BMKG meminta warga menjauhi pantai dan tepian sungai.