Advertisement

Adang Bus Wisata di Gedongkuning, Elanto Kritik Wisatawan yang Minta Kawal Polisi

Yosef Leon
Kamis, 22 Desember 2022 - 12:07 WIB
Bhekti Suryani
Adang Bus Wisata di Gedongkuning, Elanto Kritik Wisatawan yang Minta Kawal Polisi Ilustrasi. - Solopos/Ardiansyah Indra Kumala

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA— Sektor pariwisata Jogja kembali mendapat sorotan seusai insiden pengadangan bus pariwisata yang dikawal petugas kepolisian mencuat kembali di sosial media untuk yang kesekian kalinya. Elanto Wijoyo, orang yang sama yang pernah mengadang bus pariwisata kembali mengulangi aksinya di kawasan Godongkuning kemarin (21/12/2022).

Ekosistem pariwisata yang sehat mendesak untuk diwujudkan guna meminimalisir potensi tindakan penyalahgunaan kewenangan yang tidak substansif dan berpotensi korup. Elanto menerangkan insiden pengadangan bus kali ini terjadi saat dirinya pulang kerja dan mendapati enam sampai tujuh bus pariwisata asal Tangerang dikawal lengkap dengan kendaraan patroli dan pengawalan atau Patwal roda dua dan roda empat di kawasan Jogja Expo Center menuju toko oleh-oleh di kawasan Jalan Godongkuning. Ia sempat menyetop iring-iringan rombongan kendaraan itu di lampu APILL perempatan JEC untuk menanyakan tujuan dan keperluan pengawalan.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

"Saya sempat hentikan kendaraan dan menegur petugas Patwal serta menanyakan tujuan mereka kemana dan ternyata menuju toko oleh-oleh di Godongkuning dan sampai disana saya konfirmasi ke petugas. Alasan petugas klise bahwa mereka memberikan pelayanan kepada masyarakat dan tidak mau membahas lebih jauh soal kemungkinan gratifikasi dan bisa lagi pula mereka bisa berkilah soal itu," katanya saat dikonfirmasi, Kamis (22/12/2022). 

Elanto menerangkan, prinsip dan tujuan pengadangan bus pariwisata yang dikawal oleh petugas kepolisian itu tetap sama seperti kejadian yang dilakukannya beberapa waktu lalu yakni mendesak pemerintah daerah berikut jajaran instansi lainnya untuk mewujudkan ekosistem pariwisata yang sehat di wilayah itu. Pengawalan bus pariwisata dengan menggunakan kendaraan Patwal menurutnya tidak substansif dan mendesak karena tidak diatur dalam Undang-undang lalu lintas. Hal ini berpotensi menjadi pembiaran dan membuat ekosistem pariwisata di Jogja jalan di tempat. 

BACA JUGA: Pemerintah Diminta Menghapus Sejumlah Pajak Agar Harga Rumah di Jogja Murah

"Kita tahu bahwa penyalahgunaan itu bisa dengan apapun dan kita melihat bahwa aparat kepolisian juga tidak konsisten bisa menjaga integritas mereka untuk tidak menyalahgunakan kewenangan mereka dengan urusan yang tidak penting," ujarnya.

Elanto menyebutkan, dengan adanya praktik pembiaran baik oleh jajaran kepolisian dan pemerintah daerah praktik-praktik yang mengarah seperti tindakan itu berpotensi meningkat ke depan. Apalagi iklim pariwisata Jogja sudah lama mendapat kritik yang terus berulang baik itu pembangunan hotel atau apartemen yang menyalahi prosedur, mafia parkir termasuk arogansi wisatawan yang merasa benar dengan meminta bantuan Patwal saat berwisata ke Jogja. 

"Kalau ekosistem pariwisata mau sehat dan menuju kelas dunia tentu kondisi ini perlu diperbaiki, apalagi ini menuju akhir tahun yang nantinya wisatawan akan cenderung meningkat. Harus ada komitmen untuk membuat kebijakan pariwisata yang sehat serta tidak memberi ruang pada celah gratifikasi dan praktik korup," katanya.

Kepala Seksi Humas Polresta Jogja AKP Timbul Sasana Raharja mengatakan, pengawalan terhadap bus pariwisata yang berlibur ke Jogja merupakan salah satu bentuk pelayanan aparat kepolisian kepada masyarakat. Hal itu merupakan diskresi terhadap kendaraan prioritas yang mestinya mendapat pengawalan lantaran dimungkinkan bus pariwisata punya tujuan tertentu yang tidak diketahui masyarakat secara spesifik selain berlibur. 

Menurut Timbul, tidak semua bus pariwisata bisa memperoleh pengawalan dari petugas Patwal. Tetap ada skala prioritas dalam menetapkan pengawalan terhadap bus pariwisata itu. Namun yang ditekankan adalah apakah pengawalan dilakukan secara benar dan tidak melanggar peraturan lalu lintas saat di jalan raya. "Kita lihat sisi baiknya saja, karena kan pariwisata ini dampaknya luas. Dikawal kan untuk memperlancar arus dan nanti dampaknya juga ke ekonomi di Jogja dengan ramainya wisatawan," ungkap dia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Update Covid 5 Februari 2023: Kasus Positif Naik 171, Sembuh 181 & Meninggal 1

News
| Minggu, 05 Februari 2023, 23:17 WIB

Advertisement

alt

Simak! Ini 10 Gunung Termegah di Dunia

Wisata
| Minggu, 05 Februari 2023, 22:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement