Stasiun Lempuyangan Khusus Penumpang, Kereta Semen Pindah ke Prambanan
Stasiun Lempuyangan ditata menjadi stasiun khusus penumpang. Aktivitas angkutan semen direncanakan pindah ke Stasiun Brambanan.
Ilustrasi. /Harian Jogja-Nina Atmasari
Harianjogja.com, SLEMAN—Belasan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) N 3 Berbah kedapatan menenggak minuman keras (Miras) pada akhir Desember 2022 lalu. Atas perbuatannya, sekolah mengambil langkah memasukkan mereka ke pondok pesantren (Ponpes).
BACA JUGA: Ribuan Botol Miras di Bantul Dimusnahkan
Kepala SMPN 3 Berbah Elly Yuswarini mengungkapkan, kejadiannya berawal saat ada penyusup dari SMP lain yang sengaja datang ke SMP N 3 Berbah. Gerbang belakang sekolah saat itu sedang dilakukan renovasi dan dalam keadaan terbuka. Kemudian tiga orang dari SMP lain masuk.
Tukang yang sedang melakukan renovasi tidak bisa membedakan mana siswa SMP N 3 Berbah dan bukan karena sama-sama menggunakan seragam. Di saat bersamaan, sekolah sedang ada event selepas Penilaian Akhir Sekolah (PAS), sehingga terkonsentrasi pada kegiatan di depan.
"Petugas di belakang itu tidak konfirmasi kalau membuka gerbang belakang, penyusup lewat belakang. Tukang kan tidak tahu karena sama-sama pakai seragam," ucapnya, Jumat (6/1/2023).
Atas kejadian tersebut, sekolah langsung menindaklanjuti dengan memanggil orang tua untuk melakukan pendampingan bersama-sama. Sanksi yang diberikan yakni dengan memasukan siswa yang terlibat ke Ponpes.
Siswa yang lain juga diberikan peringatan agar kejadian yang sama tidak berulang. Menurutnya kejadian ini merupakan efek negatif dari penggunaan gadget. Mempermudah siswa untuk melakukan hal-hal semacam ini.
"Kami monitor terus kami pondokkan. Pokoknya kami terjun semua dan kami berbondong-bondong. Orang tua juga kolaboratif, kami juga minta persetujuan orang tua. Bapak, ibu keberatan tidak? oh tidak, kami sangat senang. Kami mendukung," tuturnya.
Kepala Dinas Pendidikan Sleman, Ery Widaryana mengatakan ada sekitar 16 siswa yang terlibat dalam minum Miras ini. Ada tiga kategori dalamnya yakni, anak yang suka rela ingin minum, anak yang minum karena dipaksa, dan anak yang minum karena ingin coba-coba.
Kemudian setelah sekolah mengetahui kejadian ini langsung melakukan tindakan pembinaan. Berdasarkan kesepakatan pembinaan dilakukan dengan menitipkan siswa yang terlibat ke Ponpes.
"Salah satu Ponpes Budhi Dharma Jogjakarta, disepakati selama satu minggu. Biaya dari masing-masing orang tua dan ini sudah disepakati pihak orang tua. Diharapkan dengan mereka dibina ke depan mereka akan menyadari dan tidak ulangi lagi," jelasnya.
Dia menjelaskan ide awalnya berasal dari salah satu siswa yang mengajak temannya. Temannya menolak tapi akhirnya menuruti ide tersebut. Setelah uang terkumpul lalu dibelikan Miras.
"Kemudian Miras ini diminum bersama-sama. Disinyalir ada 16 siswa yang ikut." katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Stasiun Lempuyangan ditata menjadi stasiun khusus penumpang. Aktivitas angkutan semen direncanakan pindah ke Stasiun Brambanan.
Polresta Jogja menyatakan dugaan pungli dan pemerasan terhadap Bolosego di Alkid tak memenuhi unsur pidana setelah memeriksa 17 orang.
BGN menemukan yayasan meminta setoran per ompreng kepada mitra MBG. Sudaryono menyebut praktik tersebut bermula dari kepemimpinan sebelumnya.
Kulonprogo mengintegrasikan data pernikahan dan adminduk melalui Kado Nikah serta Bela Akta Pro untuk mempercepat layanan dokumen warga.
Tiga pos Damkar Sleman sudah berdiri, tetapi Pos Damkar Prambanan belum beroperasi karena terkendala SDM dan sarana prasarana.
Veda Ega Pratama menempati posisi kedelapan sesi latihan Moto3 Jepang di Sirkuit Motegi dengan catatan waktu 1 menit 55,597 detik.