Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus pernikahan dini di Gunungkidul menurun pada 2022. Ini terlihat dari jumlah pengajuan dispensasi nikah di Pengadilan Agama Wonosari.
Panitera Muda Hukum pada Pengadilan Agama (PA) Gunungkidul, Khoiril Basyar, mengatakan sepanjang 2022 ada 171 pengajuan dispensasi nikah. Meski demikian, tidak semua pengajuan disetujui dan persetujuan diberikan kepada 161 pemohon.
Menurut dia, dispenasi nikah yang disetujui lebih sedikit dibandingkan pada 2021. Dua tahun lalu, 205 permohonan diajukan. “Tahun 2021 yang mengajukan 218 pemohon, tetapi yang diputus hanya 205 pemohon,” katanya, Rabu (11/1/2022).
BACA JUGA: Cerita Warga yang Sedih meski Mendapat Ganti Rugi Tol Jogja Solo Miliaran Rupiah
Khoril mengungkapkan ada sejumlah alasan pengajuan dispensasi nikah. Sesuai dengan Undang-Undang No.16/2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.1/1974 tentang Perkawinan, perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun.
Meski demikian, banyak yang mengajukan dispensasi nikah karena sudah berhubungan layaknya suami istri, hamil terlebih dahulu, hingga khawatir akan berbuat dosa.
“Bahkan ada yang mengajukan karena anaknya sudah lahir,” katanya.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perlindungan Perempuan Anak (PPA) Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (Sosial P3A) Gunungkidul, Aris Winanta, mengatakan upaya pencegahan pernikahan dini terus dilakukan.
Aris menjelaskan ada tahapan pendampingan kepada pasangan pemohon dispensasi nikah. “Ada catatannya dan hasilnya diserahkan ke Pengadilan Agama untuk bahan keputusan,” katanya.
Menurut dia, upaya pendampingan dibutuhkan karena dari sisi psikologi calon mempelai belum siap secara mental.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Seskab Teddy mendorong anak putus sekolah kembali belajar melalui Sekolah Rakyat. Program ini disebut telah memberi akses pendidikan bagi 43.000 anak.
BGN mewajibkan ompreng MBG mencantumkan batas waktu konsumsi mulai pekan depan untuk memperkuat keamanan pangan dan mencegah keracunan.
Kekeringan kembali melanda Padukuhan Tirto, Kulonprogo. Warga berharap dropping air dan pembangunan sumur bor menjadi solusi jangka panjang.
Polisi menangkap pengedar sabu di Sukoharjo. Sebanyak 23 paket sabu seberat 9,37 gram dan sejumlah barang bukti disita.
Apindo memproyeksikan ekspor Indonesia membaik pada Juli 2026, tetapi biaya produksi dan permintaan global masih menjadi tantangan.