Advertisement

10 Tahun Biennale Jogja Khatulistiwa Soroti Hilangnya Pengetahuan Lokal

Media Digital
Rabu, 18 Januari 2023 - 06:27 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
10 Tahun Biennale Jogja Khatulistiwa Soroti Hilangnya Pengetahuan Lokal Suasana pertemuan penulisan buku "10 Tahun Biennale Jogja Khatulistiwa: Praktik Geopolitik dan Dekolonisasi - Ist

Advertisement

JOGJA—Biennale Jogja meluncurkan buku “10 Tahun Biennale Jogja Khatulistiwa: Praktik Geopolitik dan Dekolonisasi” di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma (USD) Kampus 2 Mrican, Jumat (6/1/2023). Hilangnya pengetahuan lokal menjadi isu menarik selama perjalanan Biennale Jogja Khatulistiwa ini.

Peluncuran buku dibuka oleh Ketua Program Magister Kajian Budaya USD,  Dr. Yustinus Tri Subagya. Adapun para pembicara yang hadir dalam diskusi tersebut antara lain Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, Alia Swastika; Pengajar Program Pascasarjana Ilmu Religi Dan Budaya USD, Dr. St. Sunardi; Studio Malya dan Peneliti Departemen Sosiologi UGM, Hartmantyo Pradigto Utomo; serta penulis buku 10 Tahun Biennale Jogja, Saraswati N.  

Advertisement

Alia mengatakan selama 10 tahun penyelenggaraan Biennale Jogja Khatulistiwa ini, salah satu isu menarik yakni hilangnya pengetahuan-pengetahuan lokal yang kemudian digantikan oleh penyeragaman cara hidup modern. “Ada sejarah dan budaya yang ditelan waktu, sehingga ini mempengaruhi pula identitas sebuah masyarakat,” katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Selasa (17/1/2023).  

Hilangnya pengetahuan lokal ini sangat berdampak pada kehidupan ekologi, di mana lingkungan dan lanskap alam menjadi asing bagi masyarakatnya. Sementara pada masa lalu semua pengetahuan dibangun berdasarkan kedekatan pada alam semesta.

Biannale juga meletakkan perhatian pada isu-isu perempuan dan gender non-biner menjadi kerja-kerja kesenian sehari-hari.  Menurutnya perempuan dan gender lain punya peranan penting dalam menjaga dan melakukan konservasi pengetahuan bahkan dalam praktik-praktik yang sangat domestik.

Alia mengatakan Biennale Jogja menyajikan gambaran kehidupan global yang lebih egaliter kepada masyarakat Jogja tentang kehidupan zaman kolonialisme, trauma perang, atau kesenjangan ekonomi, dan juga sebuah kehidupan yang dirayakan melalui seni, sastra, fesyen, musik, dan sebagainya.

“Perjalanan menarik 10 tahun Biennale Jogja Khatulistiwa seri pertama adalah bagaimana menuliskan ulang sejarah dalam arti luas maupun dalam konteks seni,” katanya.

Selama 10 tahun ini Biennale berkolaborasi dengan banyak pihak, mulai dari program residensi, program simposium khatulistiwa, workshop dan program publik, dan program-program lainnya. Selain itu juga membangun jejaring dengan pekerja seni muda dalam program magang dan sukarelawan yang menjadi metode regenerasi.

Patut diacungi jempol karena Biennale Jogja mendapat dukungan besar dari masyarakat seni internasional yakni dengan terpilih menjadi salah satu dari 10 pameran terbaik di dunia versi Laura Raicovich dari Hyperallergic.

Pembicara lainnya, St. Sunardi mengatakan 10 tahun perjalanan Biennale merupakan pekerjaan luar biasa, mungkin perlu pendalaman lebih jauh dan diartikulasikan dengan memadai.

Penulis yang terpilih dalam buku “10 Tahun Biennale Jogja Khatulistiwa: Praktik Geopolitik dan Dekolonisasi” adalah penulis muda program Asana Bina Seni yang tidak terlalu sering bekerja dalam konteks akademis untuk bekerja dengan arsip Biennale Jogja. Para penulis tidak semua mengikuti Biennale bahkan ada juga yang belum pernah menonton kegiatan tersebut.

Sebagai penulis buku tersebut, Saraswati mengungkapkan kesulitan yang dihadapi adalah memetakan apa kesamaan antara 10 tahun Biennale dengan pengalaman kolektivitas. Beberapa pertanyaan juga kerap hadir saat proses menulis, seperti mempertanyakan ke diri sendiri apakah yang ia tulis sesuai dengan yang ingin Saraswati sampaikan.

Sebagai pembicara terakhir, Hartmantyo Pradigto Utomo fokus pada program Asana Bina Seni dan kaitannya dengan dimensi pedagogical atau educational turn global. Ia juga berbagi pengalaman berproses bersama para penulis buku 10 tahun Biennale Jogja Khatulistiwa selama 3,5 bulan terakhir.

“Ada kerentanan penulis muda atas kondisi pekerja kreatif yang harus mengatur kebutuhan kerjanya sendiri. Mengatur waktu menulis dan bekerja, kondisi kesehatan, ketidakmampuan finansial untuk mengakses literatur dan arsip yang relatif mahal,” tuturnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kru Lion Air yang Tabrak Garbarata di Merauke Negatif Alkohol & Narkoba

News
| Sabtu, 28 Januari 2023, 09:07 WIB

Advertisement

alt

Resmi Dibuka, Ini Wahana Solo Safari Zoo yang Dahulu Taman Taru Jurug

Wisata
| Sabtu, 28 Januari 2023, 08:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement