Advertisement

Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta Alia Swastika: Bertahan Hingga 10 Tahun Berkat Kerja Bersama

Media Digital
Jum'at, 20 Januari 2023 - 14:27 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta Alia Swastika: Bertahan Hingga 10 Tahun Berkat Kerja Bersama Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta Alia Swastika - Ist

Advertisement

JOGJA—Biennale Jogja Khatulistiwa sudah menginjak usia 10 tahun. Banyak hal yang sudah dilalui sepanjang perjalanan satu dekade ini. Bagaimana kisahnya? Berikut hasil wawancara dengan Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta Alia Swastika

1. Setelah 10 tahun, bagaimana Anda merefleksikan pengalaman Yayasan Biennale Yogyakarta menyelenggarakan Biennale Jogja Khatulistiwa?

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Saya kira perjalanan yang sangat menarik dari 10 tahun Biennale Jogja Khatulistiwa seri Pertama adalah bagaimana kita menuliskan ulang sejarah, baik dalam arti luas maupun dalam konteks seni, dari pengalaman bertemu dengan seniman, kurator dan pelaku seni dari kawasan Global Selatan mulai dari India hingga Oseania. Ini sangat berbeda dengan praktik-praktik kerja bersama negara yang sudah mapan dan berkembang. Saya kira Biennale Jogja menyajikan gambaran kehidupan global yang lebih egaliter kepada masyarakat Yogyakarta, kepada penonton yang datang ke Biennale Jogja, tentang kehidupan yang lahir dari pengalaman kompleks dari kolonialisme, trauma perang, atau kesenjangan ekonomi, tetapi juga sebuah kehidupan yang dirayakan melalui seni, sastra, fesyen, musik, dan sebagainya. 

2. Bagaimana strategi Biennale Jogja seri Khatulistiwa bisa bertahan selama 10 tahun tetap konsisten dengan tema ini? 

Saya kira memang kerja bersama kelompok akademisi, kelompok aktivis dan para kurator yang berpikiran kritis dan bervisi sejalan merupakan kunci dari kerja kami yang berkesinambungan. Jadi kami selama 10 tahun berkolaborasi dengan banyak pihak ya. Mulai dari program residensi, program simposium khatulistiwa, workshop dan program publik, dan program-program lainnya. Selain itu kami juga membangun jejaring dengan pekerja seni muda dalam program magang dan sukarelawan yang menjadi metode regenerasi. Banyak di antara peserta program magang atau program asana bina seni yang kemudian menjadi bagian dari program Yayasan Biennale Yogyakarta, baik sebagai manager program, sebagai tim kuratorial, dan sebagainya. Dengan masuknya generasi baru, ada cara berpikir yang baru, cara kerja yang berkembang dan dengan demikian organisasi juga terus berubah seiring perkembangan zaman. 

3. Isu-isu apa yang menurut Anda menjadi isu penting dan menarik dari berbagai wacana yang muncul selama penyelenggaraan Biennale Jogja Khatulistiwa selama 10 tahun? 

Ternyata memang dampak kolonialisme dan amnesia sejarah kan memang begitu mempengaruhi kehidupan masyarakat di kawasan Asia, Afrika, Amerika Selatan atau Oseania ya. Jadi kami belajar ada banyak sekali kesamaan masalah terutama berbasis pada hilangnya pengetahuan-pengetahuan lokal yang kemudian digantikan oleh penyeragaman cara hidup modern. Ada sejarah dan budaya yang ditelan waktu, sehingga ini mempengaruhi pula identitas sebuah masyarakat. Kami juga melihat bahwa hilangnya pengetahuan lokal sangat berdampak pada kehidupan ekologi, di mana lingkungan dan lanskap alam menjadi asing bagi masyarakatnya, sementara di masa lalu semua pengetahuan dibangun berdasarkan kedekatan pada alam semesta. Saya kira dari semua seniman kami belajar bagaimana imajinasi baru tentang yang lokal dan yang global bisa menjadi lebih sejajar dan bahkan membangun dialektika yang produktif di masa depan. Kami juga melihat bagaimana isu-isu kelompok minoritas, termasuk perempuan dan gender non biner, juga menjadi perhatian utama dalam kerja-kerja kesenian hari-hari ini, dan hal itu juga berkaitan dengan dua hal yang saya sebut pertama tentang pengetahuan lokal dan ekologi. Perempuan dan gender lain punya peranan penting dalam menjaga dan melakukan konservasi pengetahuan bahkan dalam praktik-praktik yang sangat domestik. 

4. Bagaimana Anda melihat pencapaian Biennale Jogja Khatulistiwa dalam 10 tahun terakhir? 

Kalau bagi kami di Yayasan tentunya sulit melihat indikator dari dalam sendiri ya. Tapi saya kira partisipasi publik yang lebih intim dan diskusi kritis yang terjadi dalam berbagai forum merupakan satu indikasi utama. Jika kita membuka open call, reaksi publik sangat antusias. Ada 300an pelamar untuk program magang dan sukarelawan, sementara program Asana Bina seni masing-masing kategori juga telah menarik 60an pendaftar. Ini menunjukkan bahwa keinginan publik untuk belajar secara mandiri sangat besar ya. Begitu pula program publik selama Biennale berlangsung selalu dipenuhi pendaftar dan peserta. Peningkatan yang sangat besar dibanding 8 tahun lalu misalnya. Jadi ada citra Biennale Jogja yang berubah untuk publik generasi baru. Selain itu kami mendapat dukungan besar dari masyarakat seni internasional ya. Pada tahun 2019, Biennale Jogja terpilih menjadi salah satu dari 10 pameran terbaik di dunia versi Laura Raicovich dari Hyperallergic. Lalu kami juga mendapatkan ulasan di berbagai media dari internasional, yang sebagian besar melihat pentingnya inisiatif Selatan semacam ini dalam ekosistem seni. 

5. Kesulitan apa sih yang dihadapi selama menyelenggarakan Biennale Jogja Khatulistiwa?

Kalau saya sendiri menjadi Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta sejak 2018. Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta sebelumnya hingga tahun 2016 adalah ibu Yustina Neni, yang telah meletakkan dasar-dasar penting sehingga dukungan pemerintah lokal selalu ada setiap penyelenggaraan Biennale Jogja. Memang sulitnya adalah meyakinkan bahwa negara hadir saja tidak cukup, tetapi perlu bersama-sama melihat hal ini sebagai visi dari Yogyakarta sebagai sebuah pusat kebudayaan. Kami memang punya pendanaan dan sumber daya terbatas, tapi saya kira modal sosial dan dukungan sangat besar sehingga kalau Pemerintah Lokal melihatnya sebagai potensi untuk meletakkan Jogja sebagai situs penting dalam pembangunan wacana seni global, tentu perlu dukungan yang lebih besar. Saya sering sekali mendapatkan komentar bahwa kalau Biennale Jogja ini seharusnya menjadi wajah baru Asia bersama beberapa Biennale lain sehingga harus terus didorong untuk lebih muncul dan berkembang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Peringati Satu Tahun Perlawanan, Warga Wadas Gelar Pentas Seni dan Dirikan Patung

News
| Kamis, 09 Februari 2023, 14:47 WIB

Advertisement

alt

Hyatt Regency Yogyakarta Hadirkan Sunday Brunch dengan Live Painting

Wisata
| Kamis, 09 Februari 2023, 15:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement