100 Difabel Belajar Membatik, Jogja Bidik Sentra Batik Indonesia
100 difabel dari lima kabupaten/kota di DIY belajar membatik dengan pendampingan sebulan untuk membuka peluang berkarya dan mandiri.
Gunung Merapi mengeluarkan awan panas pada Sabtu (11/3/2023)./Twitter @TRCBPBDDYI
Harianjogja.com, SLEMAN—Pakar iklim dan lingkungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani, mengatakan cuaca panas menyengat beberapa hari terakhir tidak disebabkan oleh erupsi Gunung Merapi. Meski demikian, ada pengaruh debu hasul letusan terhadap suhu udara.
Dia menjelaskan erupsi terjadi di perut gunung. Meski demikian, aerosol atau debu bisa jadi berpengaruh terhadap cuaca panas. Namun, untuk memastikannya perlu pengukuran.
"Mungkin saja berpengaruh menaikkan, mengurangi, atau bahkan tidak terjadi apa-apa, tergantung pada angin. Secara kasar ada peningkatan suhu di Jogja tapi bukan karena Merapi," kata dia dalam acara diskusi bersama wartawan bertajuk Bencana Hidrometeorologi dan Perubahan Iklim di UGM, Senin (13/3/2023).
Dalam catatannya, erupsi Gunung Sinabung berpengaruh pada hujan. Namun, Gunung Merapi tidak memengaruhi cuaca karena awan panasnya tidak banyak.
BACA JUGA: Abu Merapi Tidak Turun di Jogja dan Malah Menyebar ke Magelang Hingga Wonosobo, Ini Penyebabnya
Fenomena cuaca panas menurutnya umum di perkotaan seperti Jogja. Daerah perkotaan memiliki suhu lebih tinggi karena sebagian besar permukaan tanah sudah tertutup. Radiasi Matahari yang diserap dan dilepaskan besarnya sama. Kondisi demikian ditambah dengan banyaknya pendingin udara dan kendaraan bermotor sehingga suhu lebih menyengat.
Hal senada disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY. Kepala Kelompok Foreskater BMKG YIA, Romadi, mengatakan panas menyengar beberapa hari ini tidak ada kaitannya dengan erupsi Gunung Merapi.
BACA JUGA: Fenomena Tak Lazim, Embun Es Sudah Muncul di Dieng pada Bulan Maret
"Cuaca terik dipengaruhi oleh kelembaban perlapisan 700 milibar sampai dengan 500 milibar. Ini sangat kering hingga mencapai 30 persen, sehingga sinar Matahari langsung menembus permukaan Bumi. Sampai di permukaan Bumi, sinar Matahari kembali dipantulkan kembali ke atmosfer," ucapnya kepada harianjogja.com, Senin (13/3/2023).
Milibar atau mb adalah satuan tekanan udara. Dia menjelaskan berkurangnya intensitas hujan beberapa hari ke belakang di Jogja dan sekitarnya di DIY salah satunya karena adanya pola tekanan rendah di utara Papua. Ini menyebabkan pola konvergensi bergeser ke perairan utara Jawa, sehingga mengurangi massa uap air hujan di wilayah DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
100 difabel dari lima kabupaten/kota di DIY belajar membatik dengan pendampingan sebulan untuk membuka peluang berkarya dan mandiri.
Aviary dome Gunungkidul di Giritirto baru 17%. Proyek ditargetkan rampung Desember 2026 dan seluruh kawasan diproyeksikan selesai 2029.
BMKG memprakirakan cuaca berawan hingga hujan ringan di sejumlah wilayah Indonesia serta mengingatkan potensi awan cumulonimbus.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Senin 21 September 2026 tersedia 10 perjalanan dari Stasiun Tugu dan Kutoarjo.
Jadwal KSPN Jogja ke Gunungkidul 21 September 2026, lengkap rute, tarif Rp12.000–Rp26.000, serta jam keberangkatan.
Gibran menyoroti pernyataan oknum SPPG yang diduga mengejek korban MBG dan mengajak publik menjaga ruang aman bagi anak.