Advertisement

Kemarau Datang, Petani Gunungkidul Jangan Paksakan Diri Tanam Padi

David Kurniawan
Selasa, 14 Maret 2023 - 15:17 WIB
Arief Junianto
Kemarau Datang, Petani Gunungkidul Jangan Paksakan Diri Tanam Padi Ilustrasi. - Ist/Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mengimbau kepada petani untuk tidak memaksakan diri menanam padi di musim tanam kedua.

Pasalnya, di masa tanam ini, beberapa daerah di Gunungkidul sudah masuk musim kemarau sehingga dapat berpengaruh terhadap tanaman padi karena pasokan air jauh berkurang.

Advertisement

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan di masa tanam kedua tidak mematok target yang muluk-muluk untuk komoditas padi.

Pasalnya, kebanyakan lahan di Gunungkidul merupakan tadah hujan sehingga saat kemarau tidak cocok dipegunakan menanam padi. “Luasan tanam padi di musim kedua ini akan jauh berkurang dibandingkan saat awal musim hujan,” katanya, Selasa (14/3/2023).

BACA JUGA: Musim Tanam Kedua, Petani Jangan Fokus Tanam Padi 

Menurut dia, di masa tanam kedua hanya menargetkan luas tanam padi 7.505 hektare. Adapun rinciannya, sebanyak 5.812 hektare ditanam di bulan ini. Sedangkan sisanya 1.693 hektare mulai ditanam pada April mendatang.

“Lahan ini merupakan sawah dengan aliran irigasi. Jadi, tidak masalah kalau musim kemarau karena kebutuhan air untuk tanaman padi masih bisa terpenuhi,” katanya.

Rismiyadi menambahkan, untuk lahan tadah hujan atau nonirigasi disarankan menanam komoditas jenis lain yang tidak membutuhan banyak air. Komoditas yang ditanam bisa kacang-kacangan atau palawija. “Kalau memaksakan padi sangat berisiko. Mending beralih ke palawija yang bisa tahan meski pasokan air berkurang,” katanya.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan untuk stok pupuk bersubsidi tidak ada masalah. Pasalnya, sudah ada pengecekan oleh bupati ke gudang penyimpanan. “Stok masih banyak dan tidak perlu dikhawatirkan,” katanya.

Menurut dia, untuk jenis urea mendapatkan alokasi sebanyak 23.534 ton, sedangkan jenis NPK atau phonska memeroleh jatah 12.102 ton. Hingga akhir Februari, penyerapan pupuk urea bersubsidi mencapai 1.355 ton dan NPK sebanyak 1.163 ton.

“Stok masih banyak karena penyerapan baru di kisaran 6-10%. Jadi, tidak ada masalah untuk kebutuhan pupuk bersubsidi bagi para petani di Gunungkidul,” katanya.

Raharjo menambahkan, kuota pupuk bersubsidi yang diberikan oleh Pemerintah Pusat di tahun ini lebih banyak dibandingkan jatah di 2022. “Memang ada penambahan dan sekarang juga sudah mulai didistribusikan untuk masa tanam kedua. Untuk sasarannya di Kapanewon Gedangsari, Patuk dan Playen,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Gempur Rokok Ilegal

Berita Pilihan

Advertisement

alt

China Beri Sanksi Produsen Alutsista dan Pesawat AS Lockheed Martin, Ini Alasannya

News
| Selasa, 25 Juni 2024, 02:57 WIB

Advertisement

alt

Inilah Rute Penerbangan Terpendek di Dunia, Naik Pesawat Hanya Kurang dari 2 Menit

Wisata
| Sabtu, 22 Juni 2024, 11:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement