Advertisement

Promo Sumpah Pemuda Harjo

Pemodelan BMKG: Gelombang Tsunami di Bantul Bisa Setinggi 20 Meter dan Sejauh 7,4 Kilometer

Yosef Leon
Kamis, 16 Maret 2023 - 17:22 WIB
Budi Cahyana
Pemodelan BMKG: Gelombang Tsunami di Bantul Bisa Setinggi 20 Meter dan Sejauh 7,4 Kilometer Pantai Parangtritis, Bantul, dipenuhi wisatawan, Sabtu (25/12/2021). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Pantai Selatan Jawa, tak terkecuali Bantul, termasuk daerah rawan tsunami. Berdasatkan pemodelan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gelombang tsunami di Bantul bisa setinggi maksimal 20 meter dan sejauh 7,4 kilometer.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul dan Badan Informasi Geospasial (BIG) akan memetakan lima desa atau kalurahan yang tersebar di tiga kecamatan atau kapanewon yang rawan tsunami akibat gempa megathrust. Pemetaan akan dilakukan via udara pada triwulan kedua dan ketiga 2023 ini.

Advertisement

Gempa Bumi megathrust adalah patahan batas lempeng yang terjadi pada bidang kontak dua lempeng tektonik yang bertemu di zona subduksi. Gerakan relatif antarlempeng tidak terbendung dan tekanan terkumpul di area dua lempeng sehingga dilepaskan melalui gempa dahsyat yang disebut megathrust. Retakan megathrust melibatkan lempeng samudera di bawah lempeng di atasnya.

Komandan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Bantul,Aka Luk Luk Firmansyah menjelaskan, ada dua program yang dijalankan oleh BIG yakni pemetaan daerah rawan tsunami akibat gempa megathrust dan kawasan geoheritage. Di Bantul, BIG dan BPBD akan memetakan wilayah rawan tsunami megathrust sisi selatan.

“Pemetaan akan dimulai pada April, Mei dan Juni mendatang kemudian berlanjut lagi pada triwulan ketiga tahun ini,” kata Aka, Kamis (16/3/2023).

Pemetaan oleh BIG itu akan dilakukan via udara dengan teknologi unmanned aerial vehicle (UAV). Petugas akan mengumpulkan data infrastruktur maupun permukiman penduduk yang masuk dalam zona merah atau berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

“Nanti akan diperoleh data berkaitan dengan infrastruktur dan permukiman yang mungkin terdampak tsunami, baik itu jumlah maupun luasnya,” ujar dia.

BACA JUGA: BMKG DIY Serahkan Peta Tsunami ke Pemkab Bantul, Ini 2 Daerah Paling Rawan

Lima desa yang akan dipetakan meliputi Parangtritis dan Tirtohargo di Kapanewon Kretek, lalu Srigading dan Gadingsari di Kapanewon Sanden, dan terakhir Poncosari di Kapanewon Srandakan. Lima wilayah itu berhadapan langsung dengan Pantai Selatan Jawa dan masuk ke dalam zona merah rawan tsunami.

“Lima kalurahan itu yang menjadi fokus pemetaan karena masuk dalam wilayah dengan klasifikasi terdampak tinggi berdasarkan Pusat Studi Gempa Nasional [Pusgen]," ucap Aka.

BACA JUGA: Pulau Ini Selamat dari Terjangan Mega Tsunami 8.000 Tahun Lalu & Sekarang Tenggelam

Aka menambahkan berdasarkan data pemodelan yang diperoleh BPBD Bantul dari BMKG, gempa yang berpotensi menghantam wilayah itu berada di angka 8,8 magnitudo. Sementara, tsunami yang ditimbulkan adalah gelombang dengan ketinggian 15 sampai dengan 20 meter. Gelombang tsunami menjangkau wilayah di empat sampai lima kilometer dari bibir pantai. Kemudian pada daerah sungai bisa, jangkauan tsunami mencapai 7,4 kilometer.

“Potensinya cukup besar. Kami sudah ada program pendampingan dari BMKG tentang siaga tsunami,” ucapnya.

Kepala Pelaksana BPBD Bantul Agus Yuli Herwanta menyebut, kerja sama dengan BIG itu merupakan tahap awal yang diharapkan bisa menjadi acuan bagi pemerintah daerah setempat untuk merumuskan ulang dokumen Rencana Penanggulangan Bencana (RPB).

“Kalau datanya sudah matang dan keluar, ini tentu jadi pedoman kami dalam penyusunan RPB dan berkaitan pula dengan rencana tata ruang di wilayah pesisir, jalur evakuasi masyarakat maupun tindak lanjut mitigasi lainnya,” kata Agus.

BACA JUGA: UNESCO Tetapkan Glagah sebagai Masyarakat Siaga Tsunami

Pantai Selatan Jawa tak lepas dari tsunami besar akibat gempa megathrust berdasarkan hasil penelitian Pepen Supendi dan tim BMKG yang berjudul Natural Hazards. Penelitian itu mengupas potensi tsunami dari gempa megathrust di selatan Pulau Jawa. Jurnal penelitian yang telah terbit Oktober 2022 lalu, menyebutkan gempa megathrust dengan magnitudo 8,9 dapat memicu tsunami dengan ketinggian gelombang mencapai 34 meter.

Potensi tsunami ini patut diwaspadai di bagian selatan Jawa dan barat daya Sumatra. Bahkan, tsunami bisa menjalar melalui Selat Sunda memasuki Pantai Utara Jawa dan Tenggara Timur Sumatra.

BACA JUGA: Daftar 8 Tsunami Besar di Indonesia, Puluhan Ribu Nyawa Melayang

Pakar Tsunami dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Widjo Kongko menegaskan belum diketahui pasti kapan gempa megathrust akan terjadi. Namun, masyarakat harus waspada terhadap ancaman tsunami dan upaya mitigasinya perlu lebih serius. Widjo juga menyebut dampak yang ditimbulkan gempa megathrust di Laut Selatan Pulau Jawa akan lebih besar dibandingkan dengan tsunami di Aceh.

“Oleh karena itu, perlu adanya upaya mitigasi dan peningkatan kewaspadaan dan khususnya sistem peringatan dini dan jalur serta tempat evakuasinya,” jelas Widjo dilansir dari brin.go.id.

Beberapa gempa bumi megathrust yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu pada 27 Februari 1903 (magnitudo 8,1), 22 Januari 1780 (magnitudo 8,5), 17 Juli 2006 (magnitudo 7,8), 23 Juni 1943 (magnitudo 8,1), 3 Juni 1859 (magnitudo 8,5), dan 3 Juni 1994 (magnitudo 7,7). Seluruh gempa bumi tersebut terjadi di Laut Selatan mulai dari Banten hingga ke ujung Jawa Timur.

BACA JUGA: Kemadang Gunungkidul Diproyeksikan Jadi Desa Tangguh Tsunami Tingkat Dunia

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan berdasarkan perkiraan dari para peneliti, gempa Bumi megathrust terjadi setiap 400 tahun. Gempa bumi terbesar di dunia juga terjadi dalam gempa megathrust. Sumber gempa megathrust biasanya terletak di bawah laut, sehingga sulit untuk diamari terperinci berdasarkan pengukuran seismik, geodesi, dan geologis.

Gempa bumi megathrust berpotensi menghasilkan tsunami dahsyat karena pergerakan vertikal dasar laut besar yang terjadi selama gempa. Selain itu, ada zona megathrust, yakni lapisan batas tipis antara lempeng tektonik yang tenggelam ke dalam mantel Bumi dan lempeng utama.

Gempa bumi megathrust seringkali disertai dengan tsunami yang merusak disertai goncangan yang kuat, dan memiliki retakan yang sangat berbeda di dekat permukaan Bumi daripada di kedalaman laut yang lebih dalam. Gempa megathrust memiliki tanda yang membingungkan, karena bagian dangkal dari retakan megathrust menyebabkan tsunami, tetapi bagian yang lebih dalam dari retakan menimbulkan gelombang tinggi yang sangat berbahaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Jambore Stroke: 1.000 Kursi Roda Disiapkan untuk Penderita Stroke

News
| Selasa, 03 Oktober 2023, 22:40 WIB

Advertisement

alt

Danau Toba Dikartu Kuning UNESCO, Sandiaga: Ini Jadi Alarm

Wisata
| Senin, 02 Oktober 2023, 21:50 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement