Harga Cabai Rawit di Gunungkidul Naik Lagi, Tembus Rp80.000
Harga cabai rawit merah di Gunungkidul kembali naik hingga Rp80.000 per kilogram dipicu meningkatnya permintaan jelang rasulan.
Sungai bawah tanah Baron yang mengalami banjir akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah Gunungkidul. Kamis (16/2/2023)./Istimewa-Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca ekstrem beberapa waktu terakhir membuat program mitigasi bencana menjadi keharusan. Kalurahan di Gunungkidul harus memiliki program mitigasi tersendiri.
Usulan mitigasi bencana di tingkat kalurahan disampaikan Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih. Menurut dia, sejak 2022 hingga sekarang sudah ada 568 bencana alam.
Adapun rinciannya, sebanyak 268 tanah longsor, 264 banjir, 84 kekeringan, dan satu kebakaran hutan. “Paling banyak bencana hidrimeteorologi. Jadi, ke depan ini harus terus diwaspadai,” kata Endah kepada wartawan dalam Raker Pemkab Gunungkidul dengan Lurah Se-Gunungkidul di Taman Budaya Gunungkidul, Rabu (29/03/2023).
Dia menjelaskan penanggulangan bencana di tingkat kalurahan sangat penting. Mitigasi dibutuhkan untuk menekan dampak saat terjadi bencana. Mitigasi dapat dilakukan dengan membentuk kalurahan tangguh bencana yang diperkuat sukarelawan pengurangan risiko bencana.
“Yang paling penting adalah partisipasi aktif dari masyarakat,” katanya.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana, BPBD Gunungkidul, Agus Wibawa Arifianto mengatakan mitigasi bencana terus dilakukan sebagai upaya mengurangi dampak pada saat terjadi bencana alam.
Jawatannya belum bisa membentuk kalurahan tangguh bencana di seluruh wilayah. “Total ada 144 kalurahan, tapi hingga sekarang baru terbentuk 82 kalurahan tangguh bencana,” kata Agus.
Menurut dia, di tahun ini ada rencana membentuk lima kalurahan tangguh bencana di Kalurahan Hargosari, Tanjungsari; Botodayakan dan Semugih, Rongkop; serta Giripanggung, Tepus, dan Semanu di Kapanewon Semanu.
“Masih proses dan target kami sudah terbentuk paling lambat Agustus mendatang,” ungkapnya.
Menurut dia, kategori kalurahan tangguh bencana disesuaikan dengan karakteristik dan potensi kebencanaan di masing-masing wilayah. Sebagai contoh, di kawasan Gedangsari, jaringan yang dikembangkan untuk antisipasi tanah longsor.
“Sebelum dibentuk ada sejumlah pelatihan baik berupa gladi bersih maupun gladi lapangan berkaitan dengan upaya penaganan saat terjadi bencana alam,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga cabai rawit merah di Gunungkidul kembali naik hingga Rp80.000 per kilogram dipicu meningkatnya permintaan jelang rasulan.
Perajin besek Bantul kewalahan hadapi lonjakan pesanan untuk kurban Iduladha, sebagian terpaksa tolak order.
Tawuran pelajar kembali pecah di dekat Stadion Mandala Krida, Jogja. Polisi menyebut aksi dipicu provokasi kelompok pelajar.
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Jadwal puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 jatuh 25–26 Mei berdasarkan penetapan awal Zulhijah Kemenag
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina