Jalan Tembus Ngawen-Gedangsari Rusak, Warga Minta Diperbaiki
Warga di Kalurahan Jurangjero, Ngawen mengeluhkan rusaknya akses jalan tembus menuju Kalurahan Tegalrejo, Gedangsari dan meminta dilakukan perbaikan ke pemkab.
Suasana Pasar Hewawn Siyonoharjo yang lengang. - Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Penyebaran penyakit Lumpy Skin Dease (LSD) atau yang dikenal lato-lato masih terus terjadi. Dari 18 kapanewon (kecamatan) di Gunungkidul, hanya satu kapanewon yang belum ditemukan kasus LSD.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Retno Widiastuti mengatakan, masih terus berupaya mengendalikan penyakit lato-lato yang menyerang sapi milik warga. Total hingga sekarang sudah ada 680 sapi yang terjangkit penyakit dengan cirri-ciri bentol di bagian kulit ini.
“Empat ekor sapi yang mati. Sedangkan 676 ekor lainnya masih dalam perawatan,” kata Retna kepada wartawan, Kamis (4/5/2023).
Dia menjelaskan, penyebaran hampir merata di seluruh wilayah Gunungkidul. Hal ini dikarenakan, dari 18 kapanewon, hanya Kapanewon Paliyan yang belum ditemukan kasus penyakit lato-lato.
“Untuk 17 kapanewon lainnya sudah ditemukan kasus,” katanya.
BACA JUGA: Waspada! Penyakit Lato-Lato Bikin Harga Sapi di Gunungkidul Anjlok
Menurut Retno, temuan kasus terbanyak berada Kapanewon Ngawen 220 kasus, Gedangsari ada 174 kasus dan Nglipar 81 kasus. Adapun 14 kapanewon lainnya bervariasi mulai dari satu kasus hingga 66 kasus.
“Upaya pendataan sekaligus pengawasa terus dilakukan sebagai bagian dari pencegahan penularan yang lebih luas lagi,” katanya.
Meski jumlah kasus masih terus bertambah, Retno memastikan ketersediaan obat untuk sapi terjangkit LSD aman. Namun untuk vaksinasi masih menunggu pengiriman dari Pemerintah Pusat. “Kami masih menunggu. Setelah vaksin dikirim akan dilakukan vaksinasi,” katanya.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengatakan, jumlah kasus masih terus bertambah. Untuk mengurangi risiko penularan, ia mengimbau kepada masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan kandang.
BACA JUGA: Penyakit Lato-Lato Menyebar Cepat, Pasar Hewan di Gunungkidul Kian Sepi
Menurut dia, dengan menjaga kebersihan, maka hewan penyebab penyakit ini seperti lalat, catak maupun nyamuk tidak akan mendekat ke area kandang sehingga risiko penularan bisa berkurang. “Jika mendapati hewan ternak dengan gejala LSD diminta segera melapor kepada petugas agar ditangani secepatnya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga di Kalurahan Jurangjero, Ngawen mengeluhkan rusaknya akses jalan tembus menuju Kalurahan Tegalrejo, Gedangsari dan meminta dilakukan perbaikan ke pemkab.
Pemkab Sleman mengalokasikan hibah Rp3,193 miliar untuk tujuh ormas keagamaan dan 14 tempat ibadah pada 2026. Dana berasal dari APBD dan akan diawasi penggunaan
Pemkab Bantul mengusulkan sekitar 1.000 rumah tidak layak huni kepada Kementerian PKP untuk mendapat bantuan rehabilitasi pada 2027. Sebanyak 500-600 unit.
Perawatan paliatif bantu pasien kronis tetap nyaman meski tak sembuh. Namun, lebih dari 90% pasien di Indonesia belum mendapat layanan ini.
Kodim 0730/Gunungkidul memperketat pengamanan proyek Koperasi Desa Merah Putih setelah pencurian peralatan senilai Rp17,5 juta terjadi di lokasi pembangunan KDM
Kapanewon Sewon mempelajari usulan pemberhentian Dukuh Banyon yang diduga terlibat kasus penggelapan sertifikat tanah dan pungutan liar program PTSL.