PBB Gunungkidul Tembus Rp23,4 Miliar, 55 Kalurahan Dapat Apresiasi
Pemkab Gunungkidul memberi penghargaan kepada 55 kalurahan yang melunasi PBB-P2 sebelum jatuh tempo. Simak target dan realisasinya.
Suasana Pasar Hewawn Siyonoharjo yang lengang./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Dampak penyebaran penyakit lato-lato atau Lumpy Skin Disease (LSD) membuat pasar hewan di Gunungkidul semakin sepi. Kondisi ini terlihat di Pasar Hewan Siyonoharjo di Kalurahan Logandeng, Playen, Kamis (9/3/2023) yang diklaim aktivitas jual belinya mengalami penurunan hingga 50%.
Pengelola Pasar Hewan Siyonoharjo, Isnaning Suindarti mengatakan dampak penyebaran penyakit lato-lato semakin terlihat. Pasalnya, aktivitas di pasar hewan jadi semakin sepi dengan penurunan mencapai 50% dari kondisi normal. “Tidak hanya aktivitas, harga sapi juga ikut turun,” kata Isnaning kepada wartawan, Kamis siang.
Menurut dia, banyak masyarakat khawatir penularan penyakit LSD akan menjangkiti ternak yang dipelihara. “Penyebarannya memang cepat. Jadi ada kekhawatiran penularannya semakin meluas,” katanya.
Isnaning mengantakan, untuk pencegahan sudah ada koordinasi dengan Dinas dan Peternakan Kesehatan Hewan Gunungkidul. Menurut dia, ada petugas yang jaga guna melakukan pemeriksaan terhadap hewan di pasar. “Pasti diperiksa. Kalau ada tanda-tanda kurang sehat diminta dibawa pulang terlebih dahulu untuk diobati sampai sembuh,” katanya.
BACA JUGA: Update Sapi LSD Sleman: Hingga 9 Februari Sudah Ada 100 Kasus
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari. Menurut dia, upaya pencegahan penyebaran penyakit lato-lato pada sapi terus dilakukan agar kasusnya bisa dikendalikan. “Untuk trennya kasus masih bertambah, tapi kami terus berusaha agar penularan terkendali,” katanya.
Menurut dia, hingga sekarang sudah ada 303 sapi yang dinyatakan terjangkit penyakit lato-lato. Dari jumlah ini, tiga ekor sapi mati karena tertular. Adapun penyebarannya sudah diketemukan di 14 kapanewon. “Yang belum ada kasusnya berada di Kapanewon Paliyan, Saptosari, Tepus dan Tanjungsari,” kata Wibawanti.
Dia berharap untuk pencegahan ada partisipasi dari masyarakat. Salah satunya dengan menjaga kebersihan kandang sehingga potensi penyebarannya terkendali. “LSD disebabkan karena gigitan seranga seperti nyambuk, lalat dan caplak. Tapi, kalau kondisinya bersih maka hewan tersebut tidak akan muncul di area kandang,” katanya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Retno Widiastuti mengatakan, untuk pencegahan sudah mengajukan vaksin ke Pemerintah Pusat sebanyak 5.000 dosisi di tahap awal. Meski demikian, jumlah pengiriman belum sesuai harapan karena yang diberikan baru sekitar 100 dosis. “Masih proses pengiriman. Jelas, belum mencukupi karena 100 dosis hanya cukup untuk 100 ekor sapi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul memberi penghargaan kepada 55 kalurahan yang melunasi PBB-P2 sebelum jatuh tempo. Simak target dan realisasinya.
Ingin menggunakan plat nomor cantik untuk kendaraan? Simak rincian biaya NRKB pilihan, prosedur pengajuan, dan masa berlakunya.
Mobil bergoyang atau setir bergetar setelah menghantam lubang? Kenali lima komponen yang berisiko rusak dan tanda kaki-kaki bermasalah.
Jadwal Liga Inggris 2026/2027 akhir pekan ini menyajikan Chelsea vs MU, Liverpool vs Arsenal, serta Manchester City vs Brighton.
Pendiri Environesia, Saprian, membangun bisnis jasa lingkungan dengan mengandalkan kepercayaan hingga memiliki 200 karyawan dan menangani proyek di 38 provinsi.
Indonesia menempati peringkat keempat negara paling ramah bagi wisatawan dalam Readers' Choice Awards 2026 dengan skor 97,5 poin.