Suluh Sumurup Art Festival 2026 Tegaskan Eksistensi Seniman Disabilitas Lewat Karya
Suluh Sumurup Art Festival 2026 memasuki tahun keempat dengan tema Maneges, menegaskan eksistensi seniman disabilitas melalui karya dan ruang berkesenian
Penampilan karya poster buatan anak muda yang mengikuti konvensi Caretakers of Environtent International, Jumat (8/7/2023). /Harian Jogja-Hadid Husaini.
Harianjogja.com, BANTUL—Ratusan pelajar dari berbagai negara dunia mengikuti penyelenggaraan konvensi Caretakers of The Environment International (CEI) yang mengangkat teman alam dan budaya di ISI Jogja pada 2-8 Juli 2023.
Acara tersebut menghasilkan perencanaan dari berbagai gagasan anak muda untuk melakukan aksi dalam menyelamatkan lingkungan dan budaya. Jogja sendiri menjadi tempat penyelenggaraan karena memiliki unsur alam dan budaya yang kuat.
Beberapa pihak yang mendukung acara tersebut antara lain Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), UNESCO, dan beberapa perusahaan yang perduli terhadap isu lingkungan hidup.
BACA JUGA : Jogja Jangan Cuma Pentingkan Pembangunan Wilayah
Ketua Conference House, CEI 2023 Desi Arti menyampaikan acara tersebut diikuti oleh 17 negara partisipan yang terdiri dari guru dan murid. “Ada beberapa kegiatan yang mereka lakukan seperti belajar bersama dengan pemateri dari berbagai negara,” jelas Desi pada Jumat (8/7/2023).
“Mereka juga mempresentasikan berbagai isu di negara mereka melalui presentasi. Mereka juga menyampaikan pesan kepada pemimpin dunia melalui projek poster,” ucapnya.
Pesan dari anak muda tersebut rencananya akan disampaikan kepada otoritas dunia. Selain itu setiap negara menampilkan berbagai budaya mereka melalui acara fun market dan cultural night.
Pada sesi trip budaya, menurut Desi, peserta diajak mengunjungi beberapa situs bersejarah seperti Candi Prambanan, wisata Kotagede, Kraton, dan beberapa tempat lain yang memiliki sejarah. “Kami mengangkat isu ekosistem dengan mengunjungi pantai dan sungai, mereka melihat dan merekomendasikan langkah selama trip berlangsung,” katanya.
CEI Board Indonesia, Stien Matakupan, menyampaikan konvensi tersebut digelar untuk mewadahi generasi muda agar terbuka terhadap permasalahan lingkungan dan mampu mendiskusikannya untuk menghasilkan rekomendasi.
“Ini jejaring dimana kami bertukar pikiran. Merencanakan proyek bersama-sama dan memahami perbedaan dengan negara lain. Ada banyak mereka lakukan melalui berbagai upaya misalkan sampah dari rumah sudah dipisahkan supaya budayanya,” ujarnya.
Ia ingin menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan alam dan budaya telah memiliki berbagai upaya dalam merawat lingkungan melalui kearifan lokal. Pada jumat (8/7/2023) CEI 2023 yang dilaksanakan di Indonesia secara resmi ditutup. Swedia rencananya akan menjadi host pada penyelenggaraan CEI 2024 yang dipusatkan di Kota Landskrona.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Suluh Sumurup Art Festival 2026 memasuki tahun keempat dengan tema Maneges, menegaskan eksistensi seniman disabilitas melalui karya dan ruang berkesenian
Kopdes Merah Putih akan beroperasi setiap hari, tetapi tidak 24 jam. Agrinas menyiapkan sistem shift untuk mendukung operasional koperasi.
Studi Canva menemukan 98% profesional Indonesia menggunakan AI untuk presentasi, dari mencari ide hingga latihan sebelum tampil.
MK mengabulkan sebagian permohonan uji materi soal informasi kandungan gula, garam dan lemak pada kemasan makanan dan minuman.
DPRD Kulonprogo menyoroti rotasi jabatan di Pemkab dan meminta pejabat baru membuktikan kinerja serta meningkatkan pelayanan masyarakat.
Pelindo menargetkan penataan 17 entitas melalui merger, konsolidasi, divestasi dan likuidasi hingga jumlah entitas menjadi 21