Gerai KDMP Bantul Belum Beroperasi, DPRD Soroti Kesiapan Pengurus
Operasional gerai KDMP di Bantul masih menunggu petunjuk teknis pusat. DPRD mengingatkan pentingnya kemampuan manajerial dan pendampingan pengurus.
Sejumlah tersangka penganiayaan anak saat dijadikan dalam gelar perkara di Mapolresta Jogja, Jumat (14/7/2023). Harian Jogja-Yosef Leon.
Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah remaja yang yang diduga merupakan komplotan geng pelajar Jogja diringkus polisi. Sebagian remaja masih berstatus pelajar terlibat dalam kasus penganiayaan kepada anak di bawah umur. Persoalannya sepele, korban dianggap tidak solid dan loyal dengan tergabung dalam kelompk tersebut.
Korban dengan inisal AP, laki-laki, 16 tahun dikeroyok dengan menggunakan sejumlah benda tumpul itu pun mengalami luka-luka pada bagian tubuhnya. Para pelakunya antara lain AB, 14, pelajar SMP; AV, 16, SMP kelas dua putus sekolah; ES, 18, kelas 1 SMP putus sekolah; dan VE, 18 kelas 3 SMA. Para pelaku kini harus mendekam di tahanan Polresta Jogja.
BACA JUGA : Polisi: Hampir Semua Sekolah di Jogja Punya Geng Pelajar
Kanit PPA Polresta Jogja Ipda Apri Sawitri menjelaskan, peristiwa penganiayaan itu bermula saat sejumlah pemuda itu yang merupakan teman bermain itu berkonflik dengan seorang pengendara sepeda motor di jalanan pada Maret lalu. Kelimanya terlibat kejar-kejaran dengan orang tak dikenal lantaran merasa tersinggung setelah aksi mbleyer-mbleyer sepeda motor.
"Itu kejadiannya Maret silam. Orang tak dikenal ini kemudian jatuh menabrak trotoar lantas kelima orang ini termasuk korban kabur," jelasnya Jumat (14/7/2023).
Selang beberapa waktu kemudian para tersangka merasa takut atas insiden itu. Mereka merasa bahwa orang tak dikenal yang menabrak trotoar itu akan mencari mereka. Slah seorang tersangka menghubungi korban dan memintanya datang ke rumah indekos AB di Ngampilan untuk membahas permasalahan itu.
"Saat sampai di rumah indekos korban oleh para tersangka diberikan dua pilihan ikut bersembunyi agar tidak ketahuan atas tindakan kejar-kejaran itu atau mau aman, tetapi harus memasok makanan kepada para tersangka," jelas Apri.
Korban yang merasa tidak sanggup memenuhi dua pilihan itu lantas enggan memilih. Para tersangka kemudian menyebut korban tidak solid dan merasa emosi dengan sikap korban. Korban dikeroyok secara bersama-sama dengan menggunakan helm, kabel charge, ditendang dan dipukuli.
BACA JUGA : Polisi Tangkap 2 Anggota Geng Pelajar, Pelaku Kekerasan
"Pengeroyokan ini terjadi 2 Juni lalu di mana korban menderita luka di kepala memar, lecet, bagian mata juga memar," ucapnya.
Insiden itu kemudian dilaporkan korban kepada ayahnya dan meneruskan laporan itu kepada polisi pada 4 Juni. Sehari setelahnya para tersangka diringkus oleh petugas dan terancam dengan Pasal 170 ayat 1 KUHP atau pasal 76 c jo 80 ayat 1 UU Perlindungan Anak dengan ancaman penjara paling lama lima tahun dan denda maksimal Rp72 juta.
"Kami imbau masyarakat atau orang tua agar beri perhatian lebih jika anak belum pulang, harus dicek sehingga tidak ada insiden negatif yang tidak diinginkan," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Operasional gerai KDMP di Bantul masih menunggu petunjuk teknis pusat. DPRD mengingatkan pentingnya kemampuan manajerial dan pendampingan pengurus.
Studi terhadap 480.479 orang menemukan kebiasaan naik tangga berkaitan dengan risiko kematian kardiovaskular lebih rendah. Simak manfaatnya.
Cari HP tipis selain iPhone Air? Simak perbandingan Samsung Galaxy S25 Edge, Infinix Hot 60 Pro Plus, dan Tecno Spark Slim.
Serangan siber di Jepang dan Korea Selatan mengancam data pelanggan, bank, dan layanan publik. AI disorot karena dapat mempercepat pencarian celah keamanan.
Borneo FC membidik tiket perempat final AFC Challenge League 2026/2027. Mauro Jeronimo menyiapkan tim setelah menang 2-0 atas Yangon United.
AI kini digunakan untuk menganalisis percakapan dan aktivitas karyawan. Simak kasus Co-op, Burger King, Meta, serta risiko privasi pekerja.